Gayahidup

Mahasiswa Rasa Budak, Dia Menangis dalam Tawa

13 Februari 2018   11:59 Diperbarui: 13 Februari 2018   12:17 226 0 0
Mahasiswa Rasa Budak, Dia Menangis dalam Tawa
Sumber: metrobali.com

"oleh: Ahmad Raziqi"
Melihat realita yang ada perang higemoni berlangsung sangat menakutkan pada saat sekarang ini. begitu banyak orang sudah bersifat individualistik dalam memperjuangkan visi dan misinya dengan memanfaatkan masa yang menjadi tumbal perbudakannya. Kata Tanmalaka "parlemen, masjid, gereja, sekolah dan surat-surat kabar berdaya upaya menidurkan dan melemahkan hati masyarakat dengan pendidikan yang banyak mengandung racun.

Bila mereka tak dapat berlaku seperti itu, dipergunakanlah penjara, polisi dan militer" Aksi Massa: keadaan sosial. Seakan-akan kata-kata itu menjadi mantra pada saat Tanmalaka masih hidup dan menjadi kenyataan pada saat sekarang dengan hidup yang serba mengikuti sistem yang ada di segala sektor. Jika kita berfikir dan bersuara lantang mengenai penderitiaan rakyat maka siap-siap kita hidup melarat atau sekarat dengan tembakan geraganat.

Musibah besar kita sebagai Mahasiswa yang katanya memiliki pandangan cerah di kampus. Tapi itu mustahil dengan fakta sistem yang telah berlaku di kampus, di dunia kerja dan kehidupan sosial. Sistem yang membatasi mahasiswa untuk mau tidak mau harus meninggalkan sifat impulsifnya terhadap dinamika sosial dalam konten penderitaan sosial.

Mahasiswa dituntut untuk mengukur kepandaian dengan tolak ukur IPK, mahasiswa dituntut untuk mengukur kedisiplinan dengan berpatokan terhadap daftar kehadiran, mahasiswa diracuni dengan berbagai embel-embel kesuksesan masa depan jika taat pada sistem perbudakan rektor, dekan, dosen dan mahasiswa sebenarnya sudah menjadi budak dengan segala kesibukan akan variansi tugas yang datang tiap hari sehingga menghilangkan peran mahasiswa yang sebenarnya adalah agen perubahan.

Berontak sedikit disangka makar, menentang perintah dosen ancamannya adalah nilai serta ketenangan. Kita sebanarnya dalam ketakutan yang sangat besar akibat dari dogma ideologi yang tercekoki pada nenek, kakek, ayah, ibu dan kita sendiri. Ideologi ketakutan, mempengaruhi pola kritis sosial yang seharusnya diemban oleh mahasiswa.

Kalau kita punya indek prestasi komulitif rendah maka sangat suram masa depan kita, kalau kita tidak masuk kuliah berlama-lama maka siap-siap kampus mengeluarkan kartu merah padahal masih banyak diluar kampus rakyat yang harus kita tolong. Tapi apa bisa kita menolong rakyat yang berteriak minta tolong di luar sana sedangkan keadaan kita menangis dalam penjara perbudakan modern yang seharusnya kita butuh pertolongan.

Jahiliah sudah terpolarisasi pada kehidupan modern saat ini. Bagaimana segala sektor bersaing untuk mencapai kesuksesaan dengan patokan mobil mewah, rumah mewah, baju mahal, sepatu mahal, celana mahal dan sebagainya yang itu bersifat materialistik. Mahasiswa tidak hanya diberi doktirin ketakutan akan sektor nilai, namun gerakan transendental juga menghantui daya nalar mahasiswa akan perbedaan wahyu dan perintah atasan. Sering mencederai sunnatullah akibat terlalu patuh pada pimpinan, terlalu kolot terhadap segala persoalan entah itu agama, sosial, budaya, politik dan ekonomi. Terlalu sering mencederai sunnatullah hingga kita lupa akan hakikat kita sebagai manusia yang harus menebarkan amal sholeh. Apa??, yaitu memberi maanfaat kepada orang lain.

"lebih jauhnya begini, jika kamu membenci orang karena dia tidak bisa membaca Al-Qur'an, berarti yang kamu pertuhankan itu, bukan Allah, tapi Al-Qur'an. Jika kamu memusuhi orang yang berbeda agama dengan kamu, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi agama. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang kamu tuhankan bukan Allah, tapi moral. Pertuhankan Allah, bukan yang lainnya. Dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, kamu harus menerima semua mahluk.

Karena begitulah Allah SWT" begitu kata Gusdur. Sesungguhnya apakah kita tidak mempertuhankan IPK, mempertuhankan Kesuksesan, mempertuhankan perintah atasan, mempertuhankan sistem pendidikan yang membuat beku ruang gerak dan perubahan. Maka sangat benar jika ada kata-kata dari senior "jadilah petani". Bagaimana  sebenarnya petani?, yaitu jangan pandang pekerjaan kasar dan kotornya dengan kororan sapi dan lumpur.

Tapi lihat manfaat yang diberikan petani dengan menyumbang kebutuhan pangan. Dan sebenarnya secara tidak sadar bahwa kesuksesan itu adalah kebahagiaan tidak mengedepankan keinginan. Tapi memprioritaskan kebutuhan. Makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Mari sama-sama mengusap air mata kita yang sebenarnya menangis dalam tawa. MAHASISWA!!