Ahmad Munir Chobirun
Ahmad Munir Chobirun Karyawan Swasta

Penulis Lepas, Pengelola Blog ahmadmunir.page.tl

Selanjutnya

Tutup

Jakarta Pilihan

Air Mahal di Jakarta, Bukan Barang Gratis

4 Januari 2018   15:00 Diperbarui: 4 Januari 2018   15:29 1087 0 0
Air Mahal di Jakarta, Bukan Barang Gratis
dokpri

Oleh: Ahmad Munir

Apa pentingnya menghemat air?

Bagi anda, mungkin sebagian masih berfikir air barang gratis, dapat ditemukan dengan mudah, dan harganya relatif terjangkau. Pikiran ini hendaknya dibuang jauh-jauh, karena jika anda masih berfikir demikian, padahal anda tinggal di perkotaan, sungguh anda akan membayar air dengan harga yang sangat tinggi.

Misalnya, anda tinggal di perkantoran di beberapa pusat kota di Jakarta, misalnya di Gedung Perkantoran Gatot Subroto, Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan MH Thamrin, anda akan membayar dengan harga yang sangat tinggi.

Jikalau gedung perkantoran anda patuh dengan biaya air, maka pajak rata-rata air tanah lebih mahal dibanding air perpipaan. Air tanah dalam dikenakan pajak kisaran 900 per meter kubik. Itu baru air untuk kebutuhan mandi cuci dan kakus (MCK).

Bagaimana dengan harga air untuk konsumsi?

Rata-rata orang akan membayar kisaran 3000 per 150 mL, untuk air mineral botol. Jika dalam satu hari anda menghabiskan dua botol, maka harga yang harus anda bayar Rp 6000.

Jika anda mengkonsumsi air isi ulang, maka rata-rata dari anda membayar Rp 5000, - (belum termasuk transportasi air), untuk kebutuhan anda kisaran 1 minggu.

Jika anda mengkonsumsi air perpipaan, dari sumber perusahaan air minum daerah, anda harus membayar air dengan harga cukup tinggi. Pada intinya air bukan barang gratis. Salah besar jika air dianggap barang gratis.

Paling murah sekalipun, jika air tanah dari sumur di rumah anda yang anda manfaatkan, maka ada biaya listrik untuk menyedot air dengan pompa. Pompa membutuhkan energy yang tidak sedikit. Pada intinya, gerakan hemat air adalah kampanye yang maha penting, bagi warga kota, khususnya kota Jakarta saat ini. #GerakanPeduliAir.

"Undang-undang Dasar Negara kita menghendaki, air menjadi sumber daya yang dikuasai negara, dan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia" -- UUD RI 1945.

Kenapa Jakarta kekurangan Air Bersih?

Air bersih adalah air yang memiliki standard di atas baku mutu. Secara sederhana, kualitas air dapat ditentukan dari rasa, bau, dan warna, sebelum dilakukan secara detail kandungan mineral, klorofil, atau pencemar yang ada dalam air. 

Secara ilmiah, dalam laoratorium kualitas air diukur berdasarkan nilai Derajat keasaman (Ph), kandungan-kandungan zat dalam air (BOD, COD, dll). Warga Jakarta lebih memilih air tanah dibanding air permukaan, karena kualitas air tanah yang lebih baik dibanding air permukaan pada umumnya.

Krisis Air

Secara aktual dan alamiah, Jakarta sudah mengalami krisis air. Krisis air disebabkan karena kebutuhan aktual dengan permintaan aktual, sudah tidak sebanding. Jadi Jakarta terpaksa memenuhi kebutuhan airnya dari daerah lain, lebih tepatnya daerah sekitar Jakarta. Untuk air baku PAM, Jakarta memanfaatkan 80% sumber air dari waduk saguling, Purwakarta. Sisanya disupplai dari Tangerang dan sekitarnya.

Kondisi krisis memuncak pada saat terjadi kemarau panjang. Pada saat yang sama daerah lain juga membutuhkan sumber air. Sehingga kadang-kadang krisis air di Jakarta menyebabkan pasokan daerah lain berkurang. Dengan kata lain, supplai air untuk daerah lain dikorbankan untuk memenuhi beban dan kebutuhan air Jakarta.

Dalam kaitanya dengan masalah ini, mutlak bagi warga Jakarta untuk menghemat air, utamanya air dari sumber PAM, karena air tersebut diperoleh sumber air bakunya dari daerah lain, yang dialirkan ke Jakarta dan diolah menjadi air bersih.

Dari sisi manajemen pengelolaan, air permukaan di DKI Jakarta yang bersumber dari air hujan, sebesar 65% lari menjadi air permukaan yang mengalir ke laut, sisanya 45% mampu diserap mengisi aquifer dangkal dan menyimpan air tanah. 

Jadi pada aspek manejemen sumber air permukaan, tidak banyak air yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air warga Jakarta.