Mohon tunggu...
Ahmad Naufal Dzulfaroh
Ahmad Naufal Dzulfaroh Mohon Tunggu... Twitter: @nofal_oke

Penikmat Sepak Bola dan Tukang Mantau Timur Tengah

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Hama Tikus, Pengintai Sawah dan Nyawa Petani

15 Mei 2019   15:24 Diperbarui: 15 Mei 2019   15:48 0 1 0 Mohon Tunggu...
Hama Tikus, Pengintai Sawah dan Nyawa Petani
Sumber foto: cellcode.us

Pemandangan lampu warna-warni menjadi pemandangan menarik di malam hari, kala melewati jalan menuju desa. Warna merah, kuning, biru, putih, berjajar rapi memanjang dan diiringi oleh nyanyian para katak. Lampu berwarna-warni itu bukan lampu pasar malam atau lampu rumah warga di kejuhan, itu adalah lampu penanda adanya kabel listrik yang melingkar di setiap lahan sawah untuk membunuh hama tikus. Tak sedikit pula petani yang memasang papan peringatan "awas ada listrik!" sebagai peringatan bagi siapa saja yang melewati daerah itu.

Hampir dua tahun ini, para petani Desa Sawo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik dan sekitarnya dihadapkan dengan masalah rumit yang membuat mereka gelisah, yaitu hama tikus. Tikus bukan hanya membunuh padi, jagung, dan perekonomian keluarga, tetapi juga membunuh petani sendiri! Sudah ada dua petani yang meninggal dalam kurun waktu tiga bulan ini akibat terkena kabel listrik yang mereka pasang untuk membasmi tikus.

Deretan lampu penanda adanya kabel listrik untuk membasmi tikus | dokpri
Deretan lampu penanda adanya kabel listrik untuk membasmi tikus | dokpri

"kenapa tidak diracun saja?" mungkin itu adalah pertanyaan pertama yang terlintas dalam benak anda ketika mendengar hama tikus menyerang. Saya pun berpikir demikian dan hal itu bukan tanpa alasan. Dulu sewaktu kecil, saya sering menjumpai gabah yang tercecer di beberapa titik untuk meracuni tikus sawah. Namun, siasat itu tidak lagi bisa digunakan saat ini karena besarnya jumlah tikus yang menyerang tanaman.

Salah seorang petani pernah menemukan 170 lebih tikus mati akibat terkena setrum di sawahnya dalam satu malam! Salah seorang yang lain juga pernah melihat gerombolan tikus dalam jumlah sangat besar sedang menyebrangi jalan. Saking banyaknya, dia pun sempat merinding dan ketakutan ketika melihat kawan tikus itu. Cerita-cerita itu bukan bualan semata. Buktinya, banyak lahan sawah yang tiba-tiba rusak setelah sebelumnya dalam kondisi baik-baik saja.

Beberapa tanaman jagung yang tersisa dalam satu lahan | dokpri
Beberapa tanaman jagung yang tersisa dalam satu lahan | dokpri

Pada mulanya, para petani menggunakan genset sebagai sumber listrik untuk membasmi tikus. Meski tidak memiliki tegangan yang kuat, aliran listrik itu sudah cukup untuk membunuh tikus dan hewan-hewan lain, seperti ular. Namun, mereka kemudian beralih menggunakan sumber listrik yang disambungkan dari rumah terdekat.

Alasan mendasar yang membuat para petani mengalihkan sumber listrik tersebut adalah biaya. Ketika menggunakan genset, para petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli bahan bakar dan itu dilakukan setiap hari. Selain itu, petani juga harus berjaga di sawah demi memastikan genset tidak kehabisan bensin.

Dengan listrik yang dialirkan dari rumah terdekat, petani hanya cukup mengeluarkan biaya 25.000 per-bulan. Akan tetapi, ada harga mahal yang harus dibayar para petani, yaitu keselamatan mereka. Dua petani yang menjadi korban memiliki cerita yang hamper sama, yaitu tidak sengaja terperosok kemudian terkena kabel yang masih menayala.

Setelah kejadian yang pertama, pihak pemerintah desa memutuskan untuk menghentikan setrum listrik di sawah demi mencegah jatuhnya korban selanjutnya. Karena larangan itu tidak disertai dengan solusi lain, maka para petani pun kembali menggunakan cara itu selang beberapa hari. Sebenarnya, pemerintah desa juga sempat mendatangkan Dinas Pertanian daerah, tetapi tidak ada upaya lanjutan untuk menangani situasi ini. Setelah tiga bulan, kembali jatuh korban selanjutnya. Meski jumlahnya berkurang, tetapi hingga saat ini masih banyak petani yang memasang kabel listrik di lahannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2