Mohon tunggu...
Edukasi

Kehidupan Mahasiswa di Negeri 2 Nil

17 September 2018   10:10 Diperbarui: 17 September 2018   10:22 202 0 0 Mohon Tunggu...

Kalau ada orang yang  menghayal tentang Sudan sebelum menginjakkan kakinya di Negeri tersebut, kira-kira apa yang ada di benaknya? Salah satu negara Afrika, Afrika identik dengan cuaca panas, dihuni oleh kaum kulit hitam, dan bahkan parahnya ada yang mengatakan di Sudan kedaan masih primitf. 

Hampir benar semua kecuali yang primitif itu saya secara de facto menolaknya, meskipun sebagian besar mahasiswa, TKI, dan pejabat KBRI mengatakan," Sudan adalah Indonesia zaman 70-an". 

Mereka terlalu berlebihan. Sudan juga punya kota metropolitan yaitu, Khartoum sebagai ibu kota yang juga merangkap sebagai ibu tiri. Menggambarkan betapa dramatisnya kehidupan tarbiah di Sudan yang sering menutut kita untuk sabar, ikhlas, nikmati saja, dan diam saja, sebagaimana pepatah mengatakan, "Diam di Sudan itu emas tapi berbicara di momen yang tepat adalah berlian". 

Saya akan jujur tentang mengapa kita sering dituntut untuk sabar di negeri ini, contoh besarnya adalah sistem birokrasi Sudan bagian pengurusan visa yang boleh dikatakan 3R (ruwet, ribet, rempong) dalam artian acuh tak acuh, kita bagaikan bola pingpong yang dipantul-pantulkan ke sana kemari. 

Bayangkan, saya punya teman, beliau ingin mengumpulkan berkas untuk visa tinggal dan waktu yang beliau butuhkan untuk kumpul berkas saja yaitu, dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Sebenarnya banyak hikmah yang bisa kita petik dari sini. 

Yang pertama, tentunya lagi dan lagi adalah mengasah kesabaran. Kedua, kita jadi banyak bersilaturahim sekaligus menambah teman dari seluruh penjuru bumi ketika lagi asyik antre dan saling menyebarkan salam kepada orang-orang yang dikenal maupun belum kenal sebagaimana adat masyarakat Sudan sering menanyakan kabar kita, kabar keluarga kita, kabar urusan kita, kabar kuliah kita dan sebagainya kepada orang-orang yang bahkan tidak dikenalnya. Ketiga, pengalaman yang bisa jadi tidak akan terlupakan.

Kita lupakan sejanak masalah birokrasi Sudan. Kita lanjut ke bagian manisnya menuntut ilmu di Sudan. Masyarakat Sudan sangat menghargai kita sebagai penuntut ilmu di negaranya dan mereka bangga negaranya sebagai salah satu negara tujuan memperdalam ilmu agama, bahkan Sudan menjadi negara prioritas utama untuk memperdalam bahasa Arab karena konon katanya bahasa Arab orang Sudan belum terlalu terkontaminasi dengan bahasa ammiah (bahasa pasar orang Arab) seperti kebanyakan Negara Timur Tengah lainnya dan paling dekat dengan bahasa Arab yang fasih.

Sekarang, kita pindah ke sungai Nil. Selain negeri seribu matahari, seperti kita ketahui Sudan juga punya julukan "negeri dua Nil" karena memiliki dua sungai Nil, Mesir cuma punya satu. Yaitu, Nil Abyadh dan Nil Azraq

Secara kasat mata warnanya sama setelah saya lihat langsung. Nil Putih adalah sungai yang merupakan salah satu dari dua anak sungai utama dari sungai Nil Mesir, yang lainnya adalah Nil Biru. Itu sedikit yang saya ketahui. Yang jelas warnanya sama. Tidak ada yang warnanya seperti putihnya susu. 

Panorama sungai Nil di Sudan sangat indah apalagi menjelang sunset dan sunrise. Aneh rasanya jika anda di Sudan lantas tidak sempat berziarah ke satu-satunya sungai yang disebut di dalam Al-Quran ini. Apalagi sambil duduk-duduk minum teh bareng teman, keluarga, atau istri (bagi yang sudah punya). 

Bicara tentang tehsaya teringat ibu-ibu yang menjadi penjualnya atau yang sering kami sapa dengan sapaan paling akrab, "mama" atau "Yaa Haajah". Ibu-ibu penjual teh ini kita dapat temukan di pagi hari, sore hari, dan bahkan sampai malam hari di seluruh sudut kota Khartoum tanpa kedai alias outdoor

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x