Mohon tunggu...
Ahmad Said Widodo
Ahmad Said Widodo Mohon Tunggu... Sejarawan, Peneliti dan Penulis

Penggemar Sejarah, Politik dan Sastra, Pecinta Alam dan Petualang

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Sejarah Gudang Kopi (Koffie Pakhuis) di Cikao

10 Mei 2021   10:10 Diperbarui: 10 Mei 2021   17:33 149 4 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sejarah Gudang Kopi (Koffie Pakhuis) di Cikao
Gudang Kopi (Koffie Pakhuis) di Cikao. Koleksi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde

Sepenggal Sejarah Gudang Kopi (Koffie Pakhuis) di Cikao

Tanah air kita Indonesia (dahulu disebut sebagai Nusantara dan Hindia Belanda atau Nederlansche Indiesche). Sudah sejak tahun 1696 tanaman kopi dibudidayakan di tanah air kita. Wilayah-wilayah penamaan kopi adalah Priangan (Jawa Barat), beberapa diantaranya adalah Cianjur, Kampung Baru (Bogor, Buitenzorg), Sukabumi, Bandung, Sumedang, Garut, Sukapura (Tasikmalaya), Karawang (di Wanayasa dan sekitarnya) dan Subang.

Gouverneur Generaal van Vereenigde Oostindische Compagnie Mattheus de Haan (1725-1729) atas inisiatif Bupati Bandung Tumenggung Anggadireja I (1704-1747) memulai apa yang disebut sebagai koffietransport dengan menggunakan hewan beban, biasanya kerbau atau sapi. Kopi-kopi dari daerah ini pada awalnya dibawa dengan hewan beban (kerbau, sapi dan kuda), rata-rata selama 60-72 hari.

Pedati Kerbau. Koleksi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Pedati Kerbau. Koleksi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Pedati Sapi, Koleksi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Pedati Sapi, Koleksi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal VOC Mattheus de Haan itu, dia minta agar para tenaga kerja (kuli) untuk membawa kopi dari Bandung, Parakanmuncang dan Sumedang ke Gudang Kopi Cikao, yang dibangun pada tahun 1744, pada saat itu masih wilayah Kabupaten Bandung.

Gudang Kopi (Koffie Pakhuis di Tepi Sungai Citarum dengan Perahu-perahu BPV Sewaan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Gudang Kopi (Koffie Pakhuis di Tepi Sungai Citarum dengan Perahu-perahu BPV Sewaan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Setelah jalanan semakin baik, maka kopi-kopi kemudian dibawa dengan pedati-pedati kerbau dan sapi menuju ke Batavia (Jakarta) dengan perantaraan perahu-perahu berdayung dan/atau bertiang layar tunggal dan dengan layar tunggal berbobot hingga bisa lebih dari 100 ton. 

Menghiliri Sungai Citarum dari arah hulu hingga tiba di hilir (muara), dari mulai Cikaobandung hingga ke muara Ujung Karawang (sekarang wilayah Muara Gembong, Kabupaten Bekasi), kemudian hingga ke Batavia untuk selanjutnya diekspor ke luar negeri, seperti ke negara-negara di benua Eropa dan Amerika.

Kapal Bersandar di Dermaga Gudang Kopi (Koffie Pakhuis) di Tepi Sungai Citaru, Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Kapal Bersandar di Dermaga Gudang Kopi (Koffie Pakhuis) di Tepi Sungai Citaru, Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Perjalanan pengiriman kopi dari gudang kopi (koffie pakhuis) di Cikao ke Batavia dengan menggunakan perahu-perahu yang disewa oleh Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda, yaitu Bataaviasch Prauwen Veer (BPV) memerlukan waktu selama 8 hari, bandingkan dengan jika kita menggunakan kereta kuda pos dari Purwakarta ke Batavia hanya memerlukan waktu selama 2-3 hari sekali jalan. 

Hanya saja perjalanan dengan kereta kuda harus sambung menyambung dan setiap 1 pal (15 km) kuda-kuda pos harus diganti dengan kuda-kuda yang lain yang lebih segar.

Contoh Perahu-perahu BPV yang Disewa Pemerintah Kolonial Hindia Belanda Untuk Mengangkut Kopi dari Gudang Kopi (Koffie Pakhuis) Cikao ke Batavia. Koleksi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Contoh Perahu-perahu BPV yang Disewa Pemerintah Kolonial Hindia Belanda Untuk Mengangkut Kopi dari Gudang Kopi (Koffie Pakhuis) Cikao ke Batavia. Koleksi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Cikaobandung dahulu pernah menjadi wilayah Kabupaten Bandung, kemudian menjadi wilayah Kabupaten Karawang dan sekarang menjadi wilayah Kabupaten Purwakarta. 

Cikaobandung adalah sebuah wilayah desa di Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Catatan: perkebunan tanaman kopi di wilayah Jawa Barat sudah ada sejak jaman Preangerstelsel (1677-1871), Cultuurstelsel (1830-1870) dan jaman particulair onderneming (1870-1942).

Jalan Desa Menuju Lokasi Gudang Kopi (Koffie Pakhuis) di Cikao. Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Jalan Desa Menuju Lokasi Gudang Kopi (Koffie Pakhuis) di Cikao. Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Perahu-perahu Bersandar di Dermaga Gudang Kopi (Koffie Pakhuis) Cikao. Koleksi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Perahu-perahu Bersandar di Dermaga Gudang Kopi (Koffie Pakhuis) Cikao. Koleksi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Situasi Perkampungan di Sekitar Gudang Kopi (Koffie Pakhuis: Cikao. Koleksi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Situasi Perkampungan di Sekitar Gudang Kopi (Koffie Pakhuis: Cikao. Koleksi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Sungai Citarum di Jawa Barat Urat Nadi Perekonomian Sejak Jaman Dahulu. Koleksi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Sungai Citarum di Jawa Barat Urat Nadi Perekonomian Sejak Jaman Dahulu. Koleksi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Gudang Kopi (Koffie Pakhuis) Cikao dengan Latar Belakang Gunung Burangrang. Koleksi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Gudang Kopi (Koffie Pakhuis) Cikao dengan Latar Belakang Gunung Burangrang. Koleksi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Tokoh Sejarah Berkaitan dengan Gudang Kopi (Koffie Pakhuis) Cikao 1830-1832
  1. Bupati Bandung: Raden Adipati Aria Wiranatakusumah III, Dalem Karanganyar (1829-1846).
  2. Patih Bandung: Raden Aria Adinegara.
  3. Wedana Cikao: Raden Rangga Anggadireja.
  4. Koffie Pakhuis Mester: Tuan Diblot (de Blaute).
  5. Juru Tulis Semua Gudang: Seorang Belanda
  6. Pengawas Gudang Kopi: Raden Rangga Anggadireja.
  7. Kumetir Kopi: Raden Aria Adinegara (kemudian menjadi Patih Bandung) dan Raden Aria Wiratmaja.
  8. Juru Tulis Kopi: Seorang “Raden” dari Bandung dan Raden Isa dari Cianjur.
  9. Pengawas Gudang Gula: Seorang Cina.
  10. Pengawas Gudang Garam: Tidak diketahui namanya.
  11. Alim Ulama: K.H.R. Asy’ari (≤ 1800-1870).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x