Mohon tunggu...
Faiz Muzaki
Faiz Muzaki Mohon Tunggu... Hanya sebutir debu di antara milyaran debu yang ada di dunia

Mahasiswa resmi di UIN Jakarta sampai sekarang

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Idealisme Pemuda dalam Beragama dan Bernegara

12 Januari 2020   12:40 Diperbarui: 12 Januari 2020   12:53 350 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Idealisme Pemuda dalam Beragama dan Bernegara
Sumber gambar: cnnindonesia.com

Republik ini lahir dari berbagai kultur, ideologi, interaksi antar ras, suku, dan agama serta tidak lepas dari adanya konflik yang berkepanjangan. Namun, semuanya itu bisa melebur secara menyeluruh hingga membentuk satu kesatuan dalam suatu sistem sosial-politik yang didasari atas cita-cita dan kesadaran berbangsa maupun bernegara. Republik Indonesia telah mengambil kesempatan dari berbagai bentuk peluang yang bervariasi sehingga menjadikan republik ini berdaulat secara utuh. 

Tak terhitung berapa jumlah harta, tenaga, pikiran bahkan jiwa dalam membangun bersama-sama suatu peradaban yang bebas dan merdeka dari cengkaraman imperialisme dan kolonialisme dalam bentuk apapun itu. Sumbangsih paling terbesar yang menjadikan Republik Indonesia tetap utuh hingga kini ialah berkat para jasa pahlawan termasuk pemuda-pemudi yang telah mendobrak habis-habisan pintu penjajahan dan berhasil merubah mindset masyarakat negara sehingga timbul suatu kesadaran dan keinginan untuk menjadi bangsa yang bebas dan merdeka. Baik tantangan, ancaman, maupun rintangan sudah bisa dilewati secara bersama-sama oleh rakyat Indonesia dalam mewujudkan negara yang berdikari. 

Namun, kita tidak boleh menafikkan pula bahwa semuanya itu datangnya hanya berasal dari luar wilayah (faktor eksternal) saja. Akan tetapi, Republik Indonesia juga telah siap sedia dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang datangnya dari wilayah Indonesia itu sendiri (faktor internal).

Dalam proses merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari bangsa asing tentu terdapat banyak kesamaan prinsip-prinsip dari para pejuang termasuk di dalamnya peran para pemuda yang ingin membebaskan dan mewujudkan cita-cita untuk meraih kemerdekaan Indonesia. Prinsip-prinsip inilah yang biasa kita sebut sebagai idealisme. 

Prinsip-prinsip tersebut saling bersinergi, berintegritas, dan membentuk suatu kekuatan solidaritas antar sesama hingga melahirkan berbagai peran aktif untuk mewujudkan bangsa yang merdeka. Hal tersebut merupakan bukti nyata bahwa para pemuda di Indonesia ikut menanggung dan bertanggung jawab atas beban moral terhadap nasib bangsanya sendiri, yakni membebaskan dari segala macam bentuk imperialisme dan kolonialisme. Meminjam istilah Tan Malaka, hal tersebut merupakan cita-cita untuk merebut dan menuju kemerdekaan 100%.

Idealisme yang dimiliki oleh seorang pemuda bisa dikatakan sudah tak ternilai harganya. Kendati demikian, idealisme pemuda dapat menjadi senjata utama dalam memerangi segala penindasan, kebodohan, dan penghisapan manusia atas manusia (Exploitation de l'homme par l'homme). Bahkan, Tan Malaka dalam bukunya yang berjudul Madilog: Materialisme, Dialektika, dan Logika dikatakan bahwa idealisme merupakan kemewahan terakhir yang dimiliki oleh seorang pemuda. 

Artinya, tidak ada lagi yang lebih berharga dari harta, tahta, jiwa maupun darah melainkan idealisme itu sendiri. Namun, untuk melahirkan berbagai idealisme yang positif mestilah berdasarkan ajaran-ajaran agama yang termaktub dalam diktum-diktum keagamaan yang benar dan jelas. Hal tersebut diperlukan sebagai tolak ukur keberhasilan seorang pemuda dalam mempertahankan dan menjalankan idealismenya sehingga memiliki kualitas yang dipengaruhi oleh moral yang berlandaskan pada nilai-nilai religius. 

Sederhananya, ajaran-ajaran agama yang melandasi idealisme seorang pemuda diharapkan dapat mengarahkan tindakan maupun perilakunya ke arah yang tepat, baik, benar, dan positif sehingga terhindar dari berbagai perilaku-perilaku yang merugikan banyak pihak dan berbagai kerusakan lainnya seperti akibat tindakan yang dilakukan kelompok-kelompok yang menganut paham vandalisme, anarkisme, separatisme, radikalisme, dan lain-lain. 

Menurut para ahli sosiologi agama, ada banyak tipe-tipe seseorang dalam beragama khususnya agama Islam, di antaranya konservatif, fundamentalis, liberal, radikal, dan moderat (progresif). Banyaknya pemahaman yang dianut seringkali menimbulkan keresahan antar sesama umat itu sendiri maupun antar umat beragama, misalnya saja antar kelompok yang menganut paham radikalisme dengan kelompok yang cenderung mengedepankan aspek keterbukaan (moderat). Dengan kata lain, terdapat banyak pertentangan dan perdebatan antara kelompok yang menganut paham Islam radikal dengan kelompok yang menganut Islam moderat.

Perbedaan mendasar antara Islam radikal dengan Islam moderat yaitu hanya berkutat pada seputar esensi pemahaman terhadap ajaran agama Islam itu sendiri. Dalam buku Islam Moderat vs Islam Radikal: Dinamika Politik Islam Kontemporer karya Dr. Sri Yunanto dijelaskan bahwa penganut Islam radikal cenderung memahami agama secara tekstual, berpikiran kolot, anti-hermeneutika, ekslusif, eksplisit, normatif, dan terlebih lagi ingin memperjuangkan formalisasi syariah ke dalam konstitusi negara. 

Lain halnya dengan kaum Islam moderat (wasathiyyah), mereka cenderung lebih bersikap inklusif, implisit atau berpikiran terbuka, dan lebih mengutamakan isi, substansi, dan mempertahankan kemajuan Islam secara defensif serta tidak melakukan perubahan secara sistemik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN