Ahlis Qoidah Noor
Ahlis Qoidah Noor Writer, Educator, Researcher

trying new thing, loving challenge, finding lively life. My Email : aqhoin@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup

Berkomunikasi dengan Pasangan (3)

12 Januari 2019   19:17 Diperbarui: 12 Januari 2019   19:22 91 3 2

Usia perkawinan yang semakin lama tidak menjamin para pribadi yang di dalamnya pun mengalami kedewasaan berfikir. Ada yang bahkan baru menikah beberapa tahun tapi sudah membawa bekal sebelum usia memasuki tahun ke lima. Ada juga yang telat  menikah tetapi dia belajar banyak dari teman, kerabat dan kolega dalam berumah tangga dan mematangkan psikologinya. Lebih ekstrimnya adalah" Tua itu pasti adapun dewasa itu pilihan ".

Banyak kalangan berpendapat usia perkawinan mengalami ujian pada kurun waktu lima tahunan: 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun dan seterusnya sampai pasangan tersebut menemukan kesejatian perkawinan dan cinta yang telah teruji matang. Kesempurnaan cinta bukan diukur dari seberapa banyak materi terlimpah atau seberapa lama mereka berdua tetapi kualitas dan tujuan serta komitmen bersama antar pasangan, bila perlu seluruh anggota keluarga.

Idealitas setiap keluarga itu berbeda tergantung dari tujuan awal yang ingin dibentuk dan disepakati. Saya akan memberikan sedikit hal tentang salah satu ujian dalam rumah tangga. Salah satunya adalah hadirnya pihak ketiga baik secara sengaja atau pun tidak. Dari beberapa orang yang " curcol" dengan saya di beberapa kesempatan memberikan saya beribu pengalaman bahwa komunikasi dalam "periode ini " sangat dan sungguh amat diperlukan. Bagaimana tidak? Kita dihadapkan dengan pasangan yang sedang" tergoda " atau " menggoda " pihak ketiga. Beberapa kasus yang saya temui di masyarakat memberikan efek yang sangat menyakitkan bagi kedua belah pihak dan sebagian berakhir" tak bisa melanjutkan komunikasi " lagi alias bubar jalan.

Kehadiran pihak ketiga biasanya dimulai dari rasa tidak cocok , tidak nyambung, tidak selevel lagi dalam diksi dan lain-lain dalam berkomunikasi dengan pasangan.. Kesimpulan awalnya adalah mulai ada rasa tidak cocok setelah sekian tahun membangun biduk rumah tangga. Pada titik kejenuhan inilah dibutuhkan " maha keterbukaan " untuk evaluasi diri. Apa yang kurang: makanan, minuman, layanan, cara bicara, performa , vitalitas tubuh dan sebagainya. Pihak istri tidak selalu menjadi yang harus melayani tetapi kedua pihak sama-sama membutuhkan.

Instink sebagai suami dan istri dipertaruhkan di sini. Kepekaan dalam bahasa tubuh dan selera bermain sangat dominan dalam keseharian. Mungkin di titik inilah yang membuat salah seorang teman saya tak bisa bertahan sehingga dia sampai saat ini harus menahan sakit hati berkepanjangan. Ada juga yang terus marapatkan diri untuk perjalanan jauh ke depan. Bisa saja itu dianggap sebagi batu sandungan dan harus dihindari di watku berikutnya.

Kembali kepada instink. Instink bagaimana yang dibutuhkan ?Setiap suami pasti mengenali kebiasaan istrinya , demikian juga sebaliknya. Ada saat di mana perlu sekali untuk "evaluasi kemesraan " ini dilakukan di tempat khusus dalam event manis seperti ulang tahun salah satu dari mereka atau tanggal pernikahan maupun hari jadian pertama. Keromantisan inilah yang harus selalu dijaga seiring bertambahnya usia. Kadang semakin bertambah usia seorang suami akan merasa berkurang dalam melayani ( baca: memuaskan ) dan seorang istri pun demikian. Ada saat dimana menjelang manepouse atau sudah masa manepouse menjadikan seorang istri minder terhadap suaminya. Komunikasikan saja segala sesuatunya. Intinya jadikanlah cinta usia 71 tahun serasa 17 tahun. he he.

Penting diingat adalah beberapa hal berikut ini.Jadikan ' Customer Satisfaction " sebagai tolok ukur kita menyenangkan pasangan. Customer kita dalam hal ini adalah pasutri itu sendiri, dengan segala kelebihan dan kekurangan. Jangan lupa " Customer complaint" pun mesti segera ditindaklanjuti bila tak ingn customer melirik pihak lain.

Kadang atau bisa dikatakan yang sering lalai dalam hal ini adalah para bapak. Sering ketika di rumah mereka berpenampilan seadanya tanpa mengindahkan bahwa istrinya pun ingin melihat suami mereka  yang segar,bersih , rapi , wangi dan selalu menyenangkan hati. Bila pihak istri di awal perkawinan dituntut dengan karakeristik di atas maka mestinya pihak suami pun demikan .