Firman Pratama
Firman Pratama profesional

Seorang pakar pikiran dan praktisi pendidikan yang membuat dua buah metode dahsyat yaitu Alpha Telepati dan Alpha Mind Control Blog pribadi di www.firmanpratama.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Ini Sebab Mengapa Sudah Bersedekah tapi Kondisi Rezeki Tetap Saja

2 November 2018   10:39 Diperbarui: 2 November 2018   11:14 426 2 0
Ini Sebab Mengapa Sudah Bersedekah tapi Kondisi Rezeki Tetap Saja
dokpri

Sedekah sering disebut sebagai amalan yang bisa mendatangkan rezeki, tapi faktanya banyak orang mengeluh bahwa dirinya sudah rajin sedekah tapi rezekinya tidak kunjung datang, benar kan? mungkin anda salah satunya. Saya mau membahas tentang amalan sedekah ini sambil duduk santai selepas subuh menikmati segarnya udara pagi di tepi kolam renang sebuah hotel di kota malang.

Dan, saya menikmati liburan ini Gratis akibat sedekah yang saya lakukan hari senin lalu kepada orang dijalan yang membantu memperlancar arus putar balik mobil saya, mereka sering disebut "polisi cepek", setiap hari sih saya selalu memberi kepada mereka. Tapi hari senin kemarin, ketika memberi uang ke polisi cepek itu saya sambil bicara ke ALLAH, "ya ALLAH saya mau liburan ke hotel A di malang dengan gratis ya". 

Sebagian dari anda tentu bertanya, Darimana gratisnya? Jadi senin saya melakukan sedekah kepada polisi cepek itu, eh selasanya saya dapat rezeki sejumlah uang yang jumlahnya bisa untuk menginap di hotel A selama dua malam termasuk untuk makan dan sebagainya :). Ajaib ya, langsung diberikan oleh ALLAH. Apakah semata-semata karena sedekah saya? Maka saya jawab TIDAK, sebab banyak orang sering melakukan sedekah tapi tidak mengalami keajaiban rezeki yang seperti itu, betul? Lantas apanya yang membuat keajaiban?. Bukan sedekahnya yang salah,juga bukan ALLAH yang tidak memenuhi janjinya, tapi pikiran manusia itu sendiri yang membuat sedekah menjadi tidak ada efeknya.

Banyak orang lantas menyalahkan ALLAH, menyalahkan TUHAN. Menganggap Tuhan tidak memenuhi janjinya. "saya sudah bersedekah, tapi kenapa rezeki tidak meningkat", "saya sudah rajin sedekah, tapi kenapa bisnis malah bangkrut", "saya sudah setiap hari bersedekah, tapi kenapa anak saya malah meninggal". Kalau pertanyaan ini anda ajukan ke orang-orang yang menyebut dirinya uztad maka jawabannya pasti "kamu kurang ikhlas", "itu sudah takdir ALLAH". Gitu kan ya?

Semua amalan yang diajarkan dalam agama, apapun agamanya harus dilandasi dengan pemahaman yang benar tentang diri dan Tuhan. Selama ini kita hanya diajarkan tentang amalannya, harus melakukan A, harus mengerjakan B, harus membaca tulisan C dan sebagainya. Tapi tidak ada yang mengupas tentang apa makna sesungguhnya di balik amalan-amalan tersebut. Dan celakanya, banyak orang tidak mau "berpikir" tentang itu, hanya menurut saja jika diperintahkan.

Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,

Sudahkah anda berpikir maksud dari amalan yang diberi nama "sedekah" itu? atau cuma mengerjakan saja. Kalau anda tidak mau berpikir maka itu artinya anda tidak menjalankan perintah Allah. Padahal seharusnya kalau anda mengaku Muslim, mengaku memiliki Tuhan maka seharusnya anda WAJIB BERPIKIR.

Baca artikel saya ini : Kalau Anda Mengaku Seorang Muslim maka Berpikirlah

Kunci meningkatnya rezeki bukan terletak pada amalan sedekahnya, bukan terletak besar atau kecil jumlah uang yang disedekahkan. Tapi terletak pada pikiran anda, kalau pikiran anda tidak tahu dan tidak ada definisi jelas tentang Rezeki, maka yang percuma saja. Apalagi jika anda masih takut dengan uang, masih menganggap uang itu sesuatu yang berbahaya tentu sedekah anda menjadi sia-sia. Apakah ada manusia yang takut dengan uang? Jawabannya banyak, saat dikelas AMC banyak orang menyadari bahwa dirinya takut dengan uang efek dari ajaran-ajaran yang salah tentang rezeki.

Kenapa sedekah menjadi sia-sia? karena anda sedang menolak/mengingkari janji ALLAH yang mengatakan bahwa dengan sedekah bisa mengembalikan rezeki berkali-kali lipat. Bukan Allah yang tidak memenuhi janjinya, tapi diri manusia itu sendiri yang tidak mau/menolak menerima janji-janji Allah.