Mohon tunggu...
AGUS WAHYUDI
AGUS WAHYUDI Mohon Tunggu... setiap orang pasti punya kisah mengagumkan

Jurnalis, pecinta traveling dan buku. Bekerja di Enciety Business Consult.

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Memintal Peluang dari Bisnis Konveksi

6 Maret 2020   13:22 Diperbarui: 6 Maret 2020   13:59 144 11 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Memintal Peluang dari Bisnis Konveksi
foto:eko saputro

Saya selalu antusias merekam perkembangan pengusaha muda. Mereka yang jatuh bangun, berproses, dan mati-matian memerjuangkan asa. Mau bertarung dan berkompetisi. Gak gampang oleng gegara pengalaman pahit.

Seperti sosok yang satu ini, M. Arif Sayfuddin. Pria kelahiran Surabaya, 25 Januari 1989. Karib disapa Aris. Menggeluti bisnis konveksi. Punya dua workshop, di Simo Tambaan Sekolahan dan Nambangan, Surabaya. Karyawan 36 orang. 

Beberapa kali saya datang ke workshop-nya. Melihat dari dekat aktivitas bisnis yang dijalankan. Dari pekerjaan menjahit, memotong, makeup, naskat, dan lainnya. Saya juga sempat memesan produk di usaha yang memakai brand Arsyadina itu.  

Awal merintis bisnis konveksi, Aris keliling menawarkan jasa ke teman-temannya. Juga beberapa orang yang dikenal. Dia sengaja gak memasang iklan di koran. Tahu sendiri, biayanya pasti mahal. Beberapa bulan, ia akhirnya mendapat pesanan. Meski jumlahnya tidak banyak, Aris mengerjakan dengan serius.

Dari satu pekerjaan dia kemudian dapat pekerjaan lain. Kliennya terus bertambah. Belakangan, dia tahu kalau klien yang datang padanya lantaran direkomendasi temannya. Istilahnya word of mouth, promosi dari mulut ke mulut. 

Akhir 2012, Aris memberanikan diri mengajukan pinjaman di bank. Nilainya Rp 100 juta. Uang itu digunakan membeli mesin. Juga peralatan untuk mendukung bisnis konveksinya. Dari dana itu, lamat tapi pasti, bisnisnya mengalami peningkatan. Jika sebelumnya order lebih banyak dari dari komunitas dan teman, kini Aris mendapat pesanan dari beberapa perguruan tinggi. Di antaranya ITS, Unair, Unesa, dan UK Perta. Juga sejumlah perusahan, yakni Telkom, MPM Honda, Bank Mandiri, Aksa Mandiri, dan Marine.

Saat itu, Aris punya tekad kuat harus bisa menjadi pebisnis tangguh. Usaha konveksi jadi pilihan. Dengan menjadi pengusaha, dia bisa membuka lapangan pekerjaan. Bermanfaat dan berbagi dengan sesama.

Aris sadar kalau bisnis konveksi tidak mudah. Persaingannya ketat. Pemainnya juga banyak. Butuh pengalaman dan jam terbang. Tidak bisa instan. Ada proses yang musti dijalani. Itu sebabnya, Aris percaya nasihat orang bijak dan bernas, "Tidak ada kegagalan dalam bisnis. Yang ada adalah mencoba sekali lagi."

Tahun 2013, dia menawarkan pekerjaan ke brand-brand ternama. Prosesnya, ia menawarkan proposal. Berikut desain yang akan dikerjakan. Hasilnya, dia berhasil mendapatkan order dari Caesar, Benhill, Larusso, dan Jonathan.

Di tempatnya, Aris juga memekerjakan penyandang disabilitas. Jumlahnya dua orang. Mereka ditempatkan sesuai kemampuan dan passion-nya.  Sebelum bekerja, penyandang disabilitas ini diberikan pembekalan berupa pelatihan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN