Agustinus Wahyono
Agustinus Wahyono Penganggur

Warga Balikpapan, Kaltim, tapi bukan siapa-siapa sejak menjadi "Taruna" (29 Maret 2018). Tidak tertarik pada uang dari K-rewards, meski dia masih tergolong dalam kaum melarat (https://www.kompasiana.com/agustinuswahyono/5bd813cbaeebe115571e1586/konsistenitas-dalam-titik-terendah-dari-sebuah-keterbatasan). Bukunya: kumpulan cerpen "Gadis yang Mengendarai Ombak" dan "Aku Ingin Menjadi Malam" (http://guepedia.com/penulis/agustinus-wahyono/).

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara Pilihan

Bersiap Menanggapi Pemilu 2019

3 Januari 2019   02:03 Diperbarui: 3 Januari 2019   02:07 243 3 0
Bersiap Menanggapi Pemilu 2019
Dok. RT 32, Kel. Mekarsari, Balikpapan Tengah

Sekarang, jelas, 2019, ya? Angka-angka mulai bergerak menuju 17 April 2019 alias Pemilu, yaitu Pemilihan Legislatif (Pileg), dan Pemilihan Presiden (Pilpres). Jumlahnya berkurang dengan istilah "H minus (-)" sekian. Tanpa perhitungan dan pengelolalaan yang aduhai, kesia-siaan adalah menjaring angin.

Maaf, tiada maksud untuk "mengajari buaya berenang ke muara" tetapi sekadar upaya keikutsertaan (partisipasi) sebagai seorang warga negara Indonesia yang biasa-biasa saja. Anggap saja secara sederhana sebagai bentuk perhatian minimalis. Minimalis, ya, berupa tulisan semacam ini.

2018 sudah berlalu. Cukuplah politik identitas, politik tempe, politik cengeng, politik emak-emak, politik hoaks, politik manuver, politik salah rezim, dan politik-politik dengan kampanye hitam atau negatif alias yang tidak mendidik itu diletakkan pada tahun lalu. Di akhir 2018 semua sudah "meletus" dengan gegap-gempita kembang api beraneka kontroversi.

2019 adalah sekarang. Waktu-waktu bisa melaju dengan kencang dan menguras tenaga, pikiran, logistik, dan lain-lain. Kelengahan dalam pemaparan program-program terbaik bisa berpotensi kurang diharapkan. 

Tim sukses (timses) kedua belah kontestan, yaitu  Tim Kampanye Nasional (TKN) Koalisi Indonesia Kerja (KIK) milik kontestan 01, dan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Koalisi Indonesia Adil Makmur milik kontestan 02, tentunya, akan lebih keras menunaikan kewajiban mereka.

Untuk TKN KIK, kata "Kerja" menjadi "juru bicara". Rekan-rekannya ialah "pekerjaan", "kerja sama", "etos kerja", "kinerja", dan lain sebagainya. Kesemuanya "wajib" tersampaikan kepada para calon pemilih. Krida yang "sudah" dan "masih" yang faktual sangat perlu disosialisasikan.

17 April 2019 merupakan kesempatan terakhir yang sangat menentukan bagi kontestan 01 karena, khususnya bagi Joko Widodo, pertaruhan berada pada saat itu sebelum muncul hasilnya untuk periodesisai posisinya secara administratif-konstitusional. Juga merupakan "duel" ulang sekaligus terakhir melawan Prabowo Subinato. Berbeda dengan pasangannya, yaitu K.H. Ma'ruf Amin karena faktor alamiah (usia).

Untuk BPN Koalisi Indonesia Adil Makmur, kata "adil" dan "makmur" menjadi "duet bicara". Rekan-rekannya ialah "keadilan", "pengadilan", "kemakmuran", "pemakmuran", dan lain sebagaimana. Validitas data "keadilan" dan "kemakmuran" pun "wajib" disertakan karena kesemuanya akan menyasar pada satu tujuan yang akurat agar memudahkan calon pemilih untuk tidak meleset ketika mencoblos.

Sama halnya dengan Joko Widodo, 17 April 2019 merupakan kesempatan terakhir bagi kontestan 02 alias Prabowo untuk berduel melawan Joko Widodo, selain duel babak kedua. Boleh dikatakan, inilah duel pamungkas bagi seorang mantan komandan jenderal melawan mantan tukang kayu.

Berbeda dengan Sandiaga Uno alias Sandi. Sandi masih berkesempatan pada periode berikutnya, semisal 2024, untuk tampil. Namanya baru mencuat di kancah politik sejak 2016 ketika akan menjadi kontestan dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017. Secara alamiah, usianya pun belum 70 tahun.

Sementara prinsip kedua belah pendukung sudah tidak bisa diganggu-gugat. Masing-masing sudah menetapkan dan memantapkan diri. Tidak perlu repot dengan istilah "pemilih emosional" atau "pemilih rasional" karena, kalau sudah menyangkut "prinsip", di situ harga diri mendadak menjadi harga mati alias tidak bisa ditawar lagi.

Realitas yang terungkap pada akhir 2018 tidaklah mampu mengubah prinsip kedua belah pendukung. Kedua belah pendukung pun akan selalu berduel seperti 2014 silam, dan menjadi duel terakhir pada 2019. Meski begitu, julukan "Cebong" dan "Kampret", tentunya, sangat tidak manusiawi diteruskan sampai titik waktu 17 April karena sama saja dengan "menyekutukan manusia dan binatang".

Di luar kontestasi pilpres adalah kontestasi pileg. Polarisasi pendukung pilpres bisa berdampak pada pilihan calon legislatif (caleg) yang disodorkan oleh semua partai peserta Pemilu 2019. Tentu saja hal ini sangat mendebarkan bagi  partai-partai baru dan partai-partai yang sedang menuju batas eliminasi. Partai-partai mapan, mungkin, kurang berdebar-debar, karena perjuangan dan pemantapan posisi sudah dimulai pada jauh tahun-tahun silam.

Ya, 2019 sudah masuk pada hari ke-3. Angka-angka mulai bergerak menuju 17 April 2019. Iklim politik bisa semakin ekstrem dan lebih fenomenal daripada El Nino Southern Oscillation (ENSO) atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ). Jangan sampai bencana alam di sana-sini berimbas pada politik menjadi bencana politik. Jangan sampai pemilu adalah "pembuat pilu" versi Kartunis G.M. Sudarta atau "pemilu membunuhmu" versi Penyair Saut Situmorang. Berharaplah yang baik-baik saja untuk Indonesia tercinta.

*******
Balikpapan, 3 Januari 2019