Agustinus Wahyono
Agustinus Wahyono Penganggur

Warga Balikpapan, Kaltim, tapi bukan siapa-siapa sejak menjadi "Taruna" (29 Maret 2018). Tidak tertarik pada uang dari K-rewards, meski dia masih tergolong dalam kaum melarat (https://www.kompasiana.com/agustinuswahyono/5bd813cbaeebe115571e1586/konsistenitas-dalam-titik-terendah-dari-sebuah-keterbatasan). Bukunya: kumpulan cerpen "Gadis yang Mengendarai Ombak" dan "Aku Ingin Menjadi Malam" (http://guepedia.com/penulis/agustinus-wahyono/).

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Badut Psikopat Menista Pahlawan Sejati

9 November 2018   23:27 Diperbarui: 10 November 2018   11:56 147 0 0
Badut Psikopat Menista Pahlawan Sejati
Sultan Ageng Tirtayasa difoto oleh Rully Ferdiansyah, Banten

Setiap Hari Pahlawan 10 November, oh, alangkah ramai kata-istilah "pahlawan" digaungkan di seantero Nusantara. Mendadak riuh imbauan-imbauan untuk kembali menghormati jasa para pahlawan Indonesia.

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya," seru Presiden I RI Ir. Soekarno dalam pidato peringatan Hari Pahlawan 10 November 1961. 

Kata-kata mutiara Bung Karno itu pun senantiasa dikumandangkan oleh sekian orang Indonesia dalam rangka Hari Pahlawan, minimal melalui media sosial yang mudah sekali digapai oleh gawai mutakhir. Generasi milenial pun mudah menghafalnya.

Memang mudah sekali berbicara bahkan berkumandang lantang tentang pahlawan dan kepahlawanan. Akan tetapi, realitas masih menyuguhkan ironi yang miris.

Bahasa Indonesia

"Eh, kita ngomong ala-ala anak Jaksel yuk!"
"Oh... kayak literally, which is gitu ya?"

Begitu fenomena istilah "Anak Jaksel"--kebiasaan anak-anak muda di Jakarta Selatan dalam berkomunikasi dengan mencampurkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Fenomena yang berlangsung sejak 1 September 2018 itu sempat dikritik Ivan Lanin.

"Anak Jaksel" dalam "gado-gado" bahasa tidaklah sendirian. Ada lagi yang lebih parah, dan konyol. Misalnya, sebagian acara yang justru berkaitan dengan sastra Indonesia. "Launching buku", dimana bukunya berbahasa Indonesia dari Judul sampai isi. Acara itu diselenggarakan di Indonesia, dan dihadiri oleh orang Indonesia.

Kekonyolan ditambah dengan judul-judul buku berbahasa Inggris, padahal isinya  berbahasa Indonesia karena memang untuk pembaca Indonesia. Kekonyolan semacam ini justru sering kali dilakukan sebelum munculnya fenomena "Anak Jaksel".

Misalnya lagi, kegiatan bersama untuk suatu hajatan. Lomba CGH (Clean, Green, Health). Konyolnya jelas sekali. Bahasa Inggris dipakai untuk kegiatan yang panitia hingga peserta adalah orang Indonesia sendiri, dan dilaksanakan di Indonesia.

Sepakat atau tidak, "gado-gado" bahasa itu justru sedang memamerkan sikap kurang menghargai bahasa persatuan sekaligus perjuangan leluhur bangsa Indonesia yang berkumpul dalam Kongres Pemuda pada 27-28 Oktober 1928 yang telah menyebut "tanah air Indonesia", "bangsa Indonesia", dan "bahasa Indonesia" sebagai tonggak pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Bisa dibayangkan, bagaimana leluhur bangsa Indonesia bisa berkumpul dalam kondisi perjalanan yang tidak selancar sekarang (2018) ini, 'kan?

Beliau-beliau bersusah payah untuk berkumpul, berdiskusi serius, dan menancapkan tonggak bangsa Indonesia tetapi cucu-cucunya atau generasi masa kini malah "bermain-main" bahasa seenaknya.

Upaya yang serius juga terlihat dengan adanya kantor bahasa di bawah pengelolaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebagian upaya yang dilakukan adalah dengan menyepadankan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia.

Patutkah kemudian jika generasi "kurang aduhai" ini menyerukan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya? 

Dasar Negara

1 Juni 1945 merupakan hari lahirnya Pancasila, yang merupakan dasar negara Indonesia yang kemudian diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Dasar negara, fondasi negara, atau landasan ideologi negara sudah ditetapkan oleh para bapak pendiri bangsa.

Sudah jelas, 'kan? Sudah diajarkan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, 'kan?

73 tahun Indonesia berdiri dengan sejarah yang berupa "gempa" melalui pemberontakan terhadap dasar negara. Contohnya Pemberontakan DI/TII-Kartosuwiryo, Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta), Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), dan lain-lain.

Yang terdoktrin di benak orang Indonesia adalah komunisme-PKI sejak Musso 1948 di Madiun, dan partai sekaligus pergerakannya dibekukan melalui TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966. "Hantu-hantu"-nya masih "bergentayangan", 'kan?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4