Mohon tunggu...
Agustiawan
Agustiawan Mohon Tunggu... Doktermu

Dokter | Promotor Kesehatan | Humoris | Dapat Diandalkan Instagram: @agustiawan28 @hep.id @hep.program

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Jangan Katakan Selamat Hari Aids: Fakta yang Harus Diketahui Mengenai HIV dan Aids

12 Desember 2019   18:45 Diperbarui: 12 Desember 2019   18:40 160 0 0 Mohon Tunggu...

Munculnya beberapa penyakit baru dalam tiga sampai empat dekade ini memang menyebabkan keresahan di kalangan masyarakat awam dan menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga kesehatan, terutama para peneliti yang mencari mekanisme penularan, pencegahan dan pengobatan penyakit tersebut. Sebut saja mereka Ebola, Flu Babi dan yang paling tidak asing di telinga kita "HIV" dan "AIDS". Kenapa HIV dan AIDS? Pemisahan yang saya lakukan disini untuk menghindari salah kaprah di kalangan awam "bahwa HIV dan AIDS itu sama".

Human Immunodefciency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang atau menginfeksi sel darah putih sehingga menyebabkan kekebalan tubuh seseorang melemah, sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan sekumpulan gejala penyakit yang muncul akibat dari penurunan kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV.

HIV dalam hal ini adalah virusnya, sedangkan AIDS adalah penyakitnya. Sama halnya dengan tuberkulosis (TB) dimana mikobakterium TB-nya (MTB) adalah nama bakterinya, sedangkan TB Paru adalah nama penyakitnya. Setiap orang bisa saja memiliki bakteri TB maupun virus HIV, tetapi tidak mengalami TB paru pada MTB atau AIDS pada HIV. Kasus HIV pertama kali di Indonesia ditemukan di Bali pada tahun 1987, [1] pandemi HIV sekarang telah diluar dugaan selama dekade terakhir. [2]

Kenapa kita harus mengucapkan "SELAMAT HARI AIDS" setiap 1 Desember-nya? Apa dan siapa yang harus kita kasih upacan selamat ? Sedangkan tujuan dari perayaan itu sendiri adalah untuk meningkatkan kewaspadaan kita mengenai penularan, pencegahan dan pengobatan HIV dan AIDS.

Penularan HIV sebenarnya tidak mudah karena mambutuhkan viral load (dalam hal ini jumlah virusnya), medium (seperti cairan tubuh atau darah) dan kondisi imun dari pejamu (penurunan kekebalan tubuh) yang memungkinkan. Penularan HIV dapat terjadi melalui cairan tubuh, tetapi apabila cairan ini terdapat dalam konsentrasi rendah tidak menjdai risiko penularan HIV. Cairan yang paling banyak menyebabkan penularan adalah air mani (sperma tidak mengandung HIV), sekresi serviks atau vagina, ASI serta darah. Penularan HIV dapat melalui transfusi atau produk darah, dan dengan berbagi peralatan suntik pada pengguna narkoba.

Penularan HIV dapat terjadi melalui hubungan seksual, pemakaian narkoba suntik, transfusi darah yang terinfeksi dan dari ibu ke anak (dalam rahim). HIV dapat ditularkan sebagai virus bebas atau sel yang terinfeksi virus, serta beberapa faktor menentukan kemungkinan penularan. [2] Ibu dengan HIV tetap dapat memiliki anak tanpa HIV dengan cara melakukan persalinan melalui opeasi sesar. Hal ini baru saya ketahui ketika saya memiliki teman ODHIP (orang dengan HIV positif) ketika masih aktif di salah satu yayasan yang membantu ODHIP dan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS).

Penularan HIV terbanyak di Indonesia disebabkan oleh hubungan heteroseksual, diikuti homoseksual dan pengguna narkoba suntik. [1] Infeksi vertikal (dari ibu ke janin) merupakan penyebab paling infeksi pada masa kanak-kanak yang paling banyak. Ini dapat terjadi dalam tiga periode, termasuk infeksi intrauterin (dalam janin), infeksi selama persalinan atau selama menyusui. [3] Perkembangan teknologi kedokteran sudah mencapai pencegahan penularan HIV dari ibu ke janin. Hal ini adalah salah satu pencapain terbesar dalam kesehatan masyarakat selama 20 tahun terakhir. Pencegahan penularan dari ibu ke bayi dapat menurunkan angka penularan HIV 25-42% tanpa intervensi apa pun. [4]

Ibu hamil dengan HIV yang tidak diobati memiliki risiko penularan 19-36%. Sebanyak 25-35% infeksi berkembang selama kehamilan, terutama pada akhir kehamilan dan 70-75% selama persalinan serta 10-16% selama menyusui. [4] Hal ini menunjukkan bahwa risiko penularan HIV dari menyusui lebih rendah, bahkan sudah digalakkan pemberian ASI pada bayi dengan ibu HIV meskipun harus dengan bimbingan atau pantauan konselor.

Kalau bicara masalah penularan. Kita harus memperbaiki stigma kita mengenai "siapa saja yang bisa tertular HIV", karena sebenarnya semua orang bisa tertular HIV. Contohnya seorang dokter atau perawat yang sedang bekerja, tiba-tiba tertusuk jarum dari orang yang tidak mengetahui status HIV-nya positif atau negatif. Seseorang yang menggunakan pisau cukur yang sama juga bisa. Tapi, kembali lagi ke atas mengenai 3 syarat penularan HIV. Sampai sini, setelah kita tau bagaimana penularan HIV, kita jangan lagi parno dengan Hoax mengenai HIV yang disebarkan dari minuman, berenang bersama, dan makan satu piring.

Bagaimana caranya agar kita tau status HIV kita? Kita dapat melakukan VCT (voluntary counseling and test). Sebelum kita diperiksa, kita akan diberkan konseling dahulu mengenai risiko yang kita miliki, bagaimana nanti kalau ternyata kita positif HIV dan lain sebagainya (tergantung seni dari konselor sendiri). Kita bisa tenang, karena tidak sembarang orang atau dokter yang boleh melakukan VCT. VCT hanya dilakukan oleh orang yang telah mendapatkan pelatihan dan izin. Setelah menjalani konseling, kita akan melakukan pengambilan sampel dan kemudian disuruh menunggu hasilnya.

Hasilnya akan dimasukkan ke dalam amplop rahasia yang tidak memiliki nama. Jadi, yang tahu identitas darah siapa yang diperiksa sejak dari konseling-pengiriman sampel sampai hasil hanyalah konselor. Kita hanya akan mendapatkan nomor yang sifatnya rahasia. Apabila ternyata kita positif HIV, kita akan disemangati dan dihubungkan dengan yayasan atau grup setara (peer group) untuk saling mendukung. Tidak sampai disana, kita juga akan menerima pengobatan dan pemeriksaan yang ditanggung oleh negara.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x