Mohon tunggu...
agus siswanto
agus siswanto Mohon Tunggu... Guru - tak mungkin berlabuh jika dayung tak terkayuh.

Guru Sejarah di SMAN 5 Magelang.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Loss Learning Itu Nyata Adanya

31 Agustus 2022   11:42 Diperbarui: 31 Agustus 2022   11:49 191 5 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana Adalah Platform Blog. Konten Ini Menjadi Tanggung Jawab Bloger Dan Tidak Mewakili Pandangan Redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber gambar: suara.com

Dahulu saat pandemi tengah bersimaharaja lela di negeri kita ini, kekhawatiran akan terjadinya loss learning mengemuka. Ketakutan akan anak-anak kita kehilangan naluri belajarnya gegara 2 tahun harus menjalani pola pembelajaran terpisah alias non tatap muka. Sehingga dikhawatirkan saat mereka harus kembali ke sekolah, mereka sudah lupa lagi dengan cara belajar. Tak ubahnya seekor singa yang puluhan tahun hidup di kebun binatang.

Saya sebagai guru saat itu pun terbawa ketakutan ini. Namun hanya sebatas ketakutan, karena secara nyata belum berhadapan dengan situasi ini. Tapi ketika dalam 2 bulan ini saya dipertemukan dengan anak-anak dalam pembelajaran tatap muka, saya baru ngeh dengan semua ini. Ternyata kekhawatiran itu bukan omong kosong, namun nyata adanya.

Perubahan yang paling nyata adalah cara mereka bersikap atau berperilaku. Ternyata 2 tahun berada di luar sekolah, mengubah semuanya. Kontrol orang tua yang selama ini kita harapkan, tidak sepenuhnya efektif. Terbukti semangat orang tua dalam mendampingi anak belajar, hanya muncul saat pandemi mulai meraja. Setelah itu, mereka dipusingkan dengan berbagai kiat untuk bertahan di masa pandemi. Terutama dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

Pemandangan anak-anak di kelas tidak mampu fokus pada kegiatan pembelajaran, menjadi hal yang biasa. Kebiasaan mereka mengikuti pembelajaran dengan semau mereka, saat di rumah, masih belum bisa hilang. Ada saja hal yang membuat mereka tidak betah duduk lama-lama. Salah satu contoh yang paling sepele adalah keseringan minta izin untuk ke kamar kecil.

Urusan sepele ini jika dikaji secara mendalam, ternyata tidak sesepele itu. Tindakan yang mereka lakukan sepenuhnya untuk menghilangkan rasa jenuh mereka di ruang kelas. Bayangkan saja jika sebelumnya mereka bebas bergerak ke mana saja saat pembelajaran daring, kini harus duduk diam mulai dari jam 7 pagi hingga setengah empat sore. Tentu saja menjadi sebuah "siksaan" yang luar biasa.

Pemandangan yang juga tak kalah miris adalah ketergantungan pada gawai. Pembelajaran daring yang sepenuhnya mengandalkan jaringan internet, mau tidak mau harus berhubungan dengan gawai. Keharusan mereka untuk menggunakan gawai membuka peluang mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak berkaitan dengan pembelajaran. Orang tua sebagai pengawas di rumah, tidak mampu mengontrol seratus persen. Akhirnya sebagian besar menyerah.

Saat anak harus masuk sekolah, gawai pun tidak bisa lepas dari mereka. Setiap ada kesempatan sesempit apapun, maka jari-jemari mereka sudah asyik bermain di bilah-bilah gawai. Keasyikan mereka dapat dipastikan bukan mengakses segala hal yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Kebanyakan mereka terjebak dengan aneka game online yang tersaji di kotak ajaib di tangan mereka itu.

Dari dua hal tersebut di atas, mau tidak mau berpengaruh besar pada kemampuan mereka menyerap materi pelajaran yang disajikan. Kurikulum yang begitu padat muatannya, akhirnya hanya sekedar lewat di telinga mereka, tanpa ada yang mengendap dalam dirinya. Ketidakmampuan mereka untuk menjaga fokus selama pembelajaran berlangsung, menjadi salah satu penyebabnya.

Situasi semacam inilah yang akhirnya mendorong sebagian besar guru lebih fokus untuk mengembalikan naluri belajar mereka. Sebab seberapa banyak materi pelajaran mereka berikan, akan sia-sia jika sang anak sendiri belum siap untuk menerimanya. Beberapa guru yang mencoba untuk menjejalkan materi tanpa melihat situasi, ujung-ujungnya harus menelan kekecewaan. Sikap penolakan dari anak dan hasil tes atau ulangan yang rendah menunjukkan bahwa mereka belum siap.

Berkaca dari situasi ini, maka kerja sama antara sekolah dengan orang tua tampaknya menjadi solusi terbaik. Upaya sekolah harus didukung sepenuhnya oleh orang tua di rumah. Karena tidak bijak rasanya untuk sebuah impian besar bagi seorang anak yang dibangun orang tua, hanya mengandalkan pihak sekolah, tanpa ada campur tangan orang tua. Kerja sama ini diharapkan dapat mengikis gejala loss learning yang saat ini tengah terjadi.

Lembah Tidar, 31 Agustus 2022

Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan