Agus Riyanto
Agus Riyanto Pembelajar

berusaha untuk terus belajar dan terus menulis.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Literasi adalah Budaya Kita (1)

22 Oktober 2018   10:12 Diperbarui: 22 Oktober 2018   10:22 135 1 0

Sabtu pagi yang cerah, Alun-alun Utara Jogjakarta terlihat sibuk dengan segala aktivitasnya. Kebanyakan wisatawan dan anak-anak sekolah yang semenjak pagi mulai memenuhi lapangan dan trotoar di sepanjang kawasan alun-alun utara. 

Lalu lalang kendaraan seperti biasanya di akhir pekan Jogjakarta. Suasana yang sudah sangat familier untuk orang Indonesia yang pernah berkunjung ke Jogjakarta. 

Di salah satu sudut alun-alun utara, berhadapan langsung dengan Keraton Jogjakarta terdapatlah sebuah museum budaya yang diberi nama Sonobudaya. Bukan akan menceritakan museumnya, tapi di Tempat ini, Kompasiana bekerjasama dengan Kementerian Agama RI dan Pengelola Museum Sonobudaya mengadakan kegiatan kece bertajuk Mengenal Peradaban melalui Manuskrip.

Mendengar kata museum dan manuskrip, kita pasti berpikir akan diajak untuk kegiatan yang membosankan, kuno, dan tidak berguna. Akan tetapi tidak dengan kegiatan ini. Kegiatan yang dialokasikan untuk lima puluh lima Kompasianer ini toh nyatanya tetap mendapat antusiasme yang tinggi dari kompasianer di sekitaran Jogjakarta. Bahkan ada peserta yang datang dari Jakarta dan Jawa Timur. 

Secara pribadi, saya mengikuti kegiatan ini karena berasa keren saja. Ada kegiatan yang merangkul museum dan manuskrip sebagai hal untuk digali lebih jauh. Sesuatu yang jarang dilakukan kebanyakan orang bukan?! Kegiatan untuk menggali (terutama manuskrip) ini dirasa tambah keren karena ternyata budaya menulis bangsa kita ini sudah semenjak dulu ada. 

Koleksi-koleksi manuskrip yang ada di museum menjadi bukti bhwa dunia menulis memang sudah mendarah daging dan menjadi gen nenek moyang bangsa ini.

Nah, kegiatan semacam ini sebenarnya sangat penting untuk tetap menjaga tradisi literasi bangsa ini. Dunia pendidikan semacam sekolah seharusnya memberikan porsi yang lebih besar untuk mengadakan kegiatan ini. Dunia pendidikan (sekolah) yang menjadi tempat para peserta didik belajar dn mewakili kalangan intelektual harus dikenalkan sejak dini agar budaya luhur nenek moyang ini tidak hilang. 

Walau kita tahu bahwa sebenarnya sekolah-sekolah juga sudah mengagendakan kunjungan ke museum, tapi baru sebatas kunjunganyang hanya datang ke museum kemudian melihat-lihat koleksinya dan setelah itu pulang tanpa makna kan? Seyogyanya kunjungan ke museum dimaksudkan untuk mendalami koleksi-koleksi museum melalui penjelasan secara dialog dengan pengelola museum.