Agus Oloan
Agus Oloan Penulis Lepas di Kompasiana

Pengajar yang masih perlu Belajar...

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Prestasi Timnas U-16, Kiprah Egy Vikri, Sinyal Kebangkitan Sepak Bola Kita di Mata Dunia?

13 Maret 2018   13:50 Diperbarui: 13 Maret 2018   14:13 606 0 0
Prestasi Timnas U-16, Kiprah Egy Vikri, Sinyal Kebangkitan Sepak Bola Kita di Mata Dunia?
Egi Vikri Maulana, Pemain Indonesia Pertama di Liga Polandia sumber: https://bola.kompas.com/

Indonesia dikenal penghasil populasi manusia terbanyak ke empat atau ke lima di seantero jagad raya ini bersanding dengan Brazil dan diantara negara Adikuasa Amerika, Cina dan India yang masing-masing sebagai penyumbang urutan satu sampai tiga jumlah penduduk terbanyak. Amerika, yang lebih dikenal sebagai negara super power, sudah pernah mencicipi dan bahkan sempat jadi langganan peserta Piala Dunia sebanyak sepuluh kali, terkecuali  tahun ini.

Amerika Serikat gagal melangkah ke Rusia setelah dikandaskan tim lemah Trininad -- Tobago di penyisihan Grup Zona CONCACAF, sehingga Amerika Serikat yang sejak tahun 1986 merupakan langganan, hingga menjadi tim yang sangat ditakuti di Piala Dunia, gagal untuk pertamakalinya.

Sementara Cina? Sudah pernah merasakan bagaimana menjadi peserta Piala Dunia tahun 2002 ketika Jepang bersama Korsel menjadi tuan rumah. Cina kala itu dengan ambisinya, merekrut pelatih kawakan Bora Milutinovic yang sanggup membawa empat negara berbeda lolos ke Piala Dunia dan Cina negara kelima yang membuatnya menjadi pelatih yang sanggup membawa lima negara berbeda lolos ke Piala Dunia. 

Hingga sekarang, ambisi Cina untuk merajai sepakbola dunia menggeliat dengan hampir lolosnya Cina ke PD 2018 ditangan Marcello Lippi, sang altenatero yang membawa tim Pizza Italia juara PD 2006. Kemajuan luar biasa ditunjukkan Cina selama Kualifikasi PD 2018 dengan hanya kalah satu kali dari Iran yang akhirnya jadi juara grup. Bukti kedua, menggeliatnya Liga Super Cina yang menampung seluruh pemain-pemain terbaik yang terbuang di liga-liga top Eropa, sebut saja seperti Carlos Tevez, Ramires, Oscar, Hulk dan banyak lagi pemain di usia emasnya memilih bermain di Liga Cina yang super ketat tersebut. 

Aroma kompetisi antar pemain lokal dan pemain top dari Amerika Latin, benua Afrika hingga Eropa nyata terlihat, sehingga dengan sendirinya makin membangun kekuatan tim sepakbola Cina dengan sendirinya seperti yang dialami oleh Jepang setelah menarik pemain-pemain top di eranya.

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Bersanding dengan Brazil sama-sama penghasil Sumber Daya Manusia? Kita seharusnya malu sedikit karena ternyata Brazil tidak habis-habis menelurkan bintang-bintang sepakbola dunia dari zamannya Piala Dunia masih bernama Julius Rimet hingga sekarang. Bicara prestasi? 

Tidak usah kita ulas, karena ibarat langit dan bumi, Brazil dengan lima gelar PD-nya, kita masih berbangga dengan sejarah tahun 1938 ketika bernama Hindia-Belanda masuk ke PD. Tapi kita sedikit berbangga, karena akhir-akhir ini sepakbola kita menunjukkan sedikit perbaikan di era Pemerintahan Jokowi. Tidak bisa disangkal, sepakbola adalah magnet di negeri ini yang bisa menumbuhkan berbagai semangat nasionalisme,no racism, geliat ekonomi, rasa persatuan untuk saling mendukung dan tentunya prestasi yang bakal tumbuh dengan baik. 

Piala Presiden di dua kali edisi telah menambah asa akan kualitas klub-klub di tanah air, belum lagi Liga Super Indonesia yang melahirkan juara baru bernama Bhayangkara FC dan runner-up Bali United, walau masih menyisakan berbagai masalah, terutama perhitungan point, sehingga Bali United sempat mengklaim jadi Juara Liga 1.

Timnas U-16 Juara Piala Jenesys 2018 dan Kiprah Egy di Eropa

Yang paling gress tentunya kiprah Timnas Indonesia U-16 yang baru saja mengukir prestasi Internasional dengan menjuarai turnamen bertajuk Piala Jenesys 2018 yang diselenggarakan di Jepang. Timnas U-16 mampu menjuarai turnamen setelah dibabak final mengalahkan Vietnam U-16 dengan skor tipis 1-0. Gol dicetak oleh Rendy Juliansyah, sehingga Garuda Cilik mampu mengukir prestasi gemilang di kancah internasional. 

Tim yang diarsiteki Fakhri Husaini -- mantan gelandang elegan Timnas Garuda era-80-an -- ini dikabarkan selain mampu juara dengan gemilang, juga mengukir rekor sempurna mulai dari babak penyisihan tidak pernah kalah, kebobolan hanya 1 kali, sementara mampu menggelontorkan 12 gol dengan rincian Filipina di bobol 7 gol, Kamboja dibobol 5 gol. Di babak semifinal, tuan rumah Jepang ditekuk dengan skor tipis 1-0 yang menghantarkan Timnas U-16 jumpa Vietnam.

"Timnas Indonesia U-16 meraih gelar juara pada Turnamen Jenesys 2018, setelah menumbangkan Timnas Vietnam U-16 dengan skor akhir 1-0!Gol dicetak oleh Rendy Juliansyah pada menit ke-64. Selamat, Garuda Asia!!! Juara!" cuit akun PSSI seperti dilansir dari www.kompas.com.

Ini harusnya menjadi berita luar biasa, karena turnamen Jenesys Cup (Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youths) merupakan ajang pencarian dan penggalian bakat sekaligus ajang kompetisi di usia muda antar negara Asia. Dan yang paling membanggakan, gelandang Timnas U-16, Septian David Maulana didaulat menjadi pemain terbaik sepanjang turnamen. Sungguh prestasi terbaik yang diraih timnas U-16 setelah lolos ke babak final Piala AFF U-16 dan Piala Asia U-16. 

Hasil ini membuktikan bahwa generasi muda kita memang memiliki kualitas yang baik, asalkan dibina dan dilatih dengan baik dan terpogram. Kabar baiknya, pencetak gol kemenangan Timnas U-16 atas Vietnam, Rendy Juliansyah dikabarkan akan bergabung dengan salah satu sekolah sepakbola terbaik di Jepang, SSB Aomori Yamada Soccer. 

Memang kualitas dan kemampuan predator Rendy tidak perlu diragukan lagi, selain pernah menyabet gelar Player of The Month Liga Kompas Gramedia Panasonic U-14, Rendy pencetak gol terbanyak dengan 7 gol saat Timnas U-16 menjuarai turnamen Thien Phong Plastic Cup di Vietnam tahun lalu.

Selain prestasi Timnas U-16, kita kembali digemparkan dengan akan berkiprahnya Egy Maulana Vikri di Liga Polandia, tepatnya digaet oleh klub Lechia Gdansk, klub liga utama Polandia, klub Eropa tersebut kini tercatat berada di posisi tengah klasemen Liga Polandia. 

Kesempatan besar ada di depan dan tanggung jawab besar juga dialamatkan ke pundak Egy Vikri, pasalnya dia dipercayakan memakai jersey kebesaran no. 10, nomor keramat yang biasanya disematkan kepada pemain yang dianggap paling jenius, paling berpengaruh dan paling memiliki kualitas individu, motor serangan hingga memiliki daya mistis, pikat serta skill diatas pemain lain.

So, selamat kepada seluruh punggawa, hingga orang-orang yang terlibat dalam kesuksesan Timnas U-16, juga kepada Egy Vikri Maulana yang telah membuka mata dunia bahwa Indonesia memiliki talenta-talenta lapangan hijau yang tidak kalah menterengnya. Semoga fenomena Vikri yang telah melanglang buana hingga ke Polandia di usia 18 tahun untuk memulai karir sepakbolanya dapat diikuti oleh pemain lain. Maju terus prestasi sepakbola Indonesia! Semoga!