Mohon tunggu...
Agung Pratama
Agung Pratama Mohon Tunggu... Bacoter, nyinyir addict

21 tahun, mahasiswa penggiat isu sosial, politik, gender, dan media. netizen barbar tapi kritis.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Soal Skripsi, Tidak Semua Mahasiswa Punya Keterampilan Menulis Kreatif

10 Desember 2019   21:16 Diperbarui: 10 Desember 2019   21:20 205 3 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Soal Skripsi, Tidak Semua Mahasiswa Punya Keterampilan Menulis Kreatif
Ilustrasi (www.mycollegeadvice.org)

"Cobalah untuk meneliti hal baru", itu salah satu permintaan dosen saat kita memulai pengajuan judul skripsi di semester tua. Menghabiskan seluruh kredit sks bukan berarti masalah selesai saat itu juga, ada satu masalah yang jauh lebih menyebalkan daripada merangkum, membuat makalah, atau menyusun laporan praktik. Sebut saja dia bunga wkwkwk. Bukan itu, maksud saya skripsi.

Mendalami disiplin ilmu sosial dan politik adalah proses yang gampang-gampang susah, apalagi di rumpun ilmu yang lebih sulit, entah program studi apakah itu tidak perlu saya sebutkan. 

Pada disiplin ilmu sosial, tentu saja ketika menghadapi tugas akhir yang harus melakukan penelitian, yang diteliti adalah manusia dan ruang lingkup sosial, maka metode penelitian yang cukup populer digunakan adalah metode deskriptif dan teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara.

Tidak bisa dipungkiri, setiap mahasiswa yang hendak menyematkan gelar sarjana sudah dipastikan membuat sebuah karya tulis ilmiah di akhir masa pendidikan, dan tidak semua mahasiswa itu beruntung dapat mengajukan judul penelitian hanya dalam satu kali pertemuan dengan dosen yang bersangkutan. 

Pada saat itu, mahasiswa akan ditanya "kenapa kamu ambil judul ini?,"kamu mau pakai teori apa?", "apa pentingnya penelitian kamu itu?", dan berakhir dengan "penelitian ini sudah banyak, ganti!".

Sungguh malang nasib mahasiswa semester tua, ada banyak sekali tekanan dan beban pikiran. "Setelah tamat mau kerja dimana?", "duit habis, mau minta sama orangtua sudah mulai malu", itulah yang beputar-putar di dalam kepala mahasiswa semester tua, dan satu lagi yang membuat putaran kepusingan itu semakin kuat adalah ketika diminta untuk melakukan penelitian yang baru, unik, dan layak teliti. Apakah semua mahasiswa mampu melakukan itu? berpikir super kreatif? punya bakat lingustik dan tulis menulis yang handal? tentu saja tidak saudara-saudara.

Mahasiswa juga manusia biasa, bukan seperti Entong anak betawi yang selalu punya ide. Tapi mau bagaimana lagi, mampu tidak mampu, suka tidak suka tetap harus dikerjakan. Skripsi menjadi hal yang menyebalkan, tentu bagi mahasiswa yang kebingungan mau diisi apa lembaran-lembaran menyebalkan itu, sudah mengerjakan banyak tapi malah dicoret-coret saat konsultasi, disinilah medan revisi tiada habis itupun bermula. Beda halnya dengan mereka yang sudah terbiasa dengan ide-ide cemerlang, yang selalu punya sesuatu yang segar untuk dituangkan di dalam skripsinya, tugas akhir bukanlah hambatan atau masalah.

Bukanlah hal tabu jika mahasiswa menyelesaikan studi sarjananya melebihi tenggang waktu yang ditetapkan, sebagian kecil sibuk dengan organisasi, sebagian kecil lagi sibuk dengan pekerjaan sampingan, dan sebagian besarnya tidak lain adalah terhambat skripsi. 

Hambatan dalam skripsi juga bermacam-macam, dosen yang sulit ditemui, dosen yang terlalu killer sehingga merasa takut untuk konsultasi, dan juga tidak tahu mau mulai dari mana.

Bapak/Ibu dosen yang sangat kami cintai, kami yakin skripsi sudah pasti akan kami lalui, entah 4 tahun, 5 tahun, 6, bahkan di masa yang lebih lama lagi, tapi memudahkan urusan seorang manusia adalah suatu perbuatan yang mulia.

Sekali lagi dengarkan rintihan kami yang tidak punya bakat menulis skripsi yang bagus...

mewakili suara mahasiswa akhir,

Agung Pratama.

VIDEO PILIHAN