agung marhaenis
agung marhaenis Mahasiswa Pascasarjana School of Government and Public Policy

Pecinta kata, kopi, kuliner, dan kebun.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Hanya Merekam Alih-alih Membantu, Sudah Matikah Kepedulian Orang Indonesia?

14 Februari 2018   19:23 Diperbarui: 14 Februari 2018   23:04 2154 6 4
Hanya Merekam Alih-alih Membantu, Sudah Matikah Kepedulian Orang Indonesia?
Masyarakat menonton insiden jatuhnya parapet di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (3/11/2017).(Sub Bagian Humas Polres Metro Jakarta Selatan)

Seorang teman membagikan sebuah link berita di Facebook mengenai kecelakaan di Tanjakan Emen, Subang. Dari judulnya: "Tak Ada Warga yang Menolong Saya, Mereka Hanya Merekam..." saya sudah bisa menduga isi berita tersebut. Berita ini diunggah di Kompas.com siang ini.

Setelah membaca berita tersebut, hati saya terasa teriris. Benarkah kejadian tersebut di Indonesia? Selama ini kita mengagung-agungkan bahwa (warga) bangsa kita adalah bangsa yang ramah dan ringan menolong. Saya berharap berita tersebut tidak terjadi di Indonesia dan berharap kesaksian tersebut tidak benar. Tapi rasanya terlalu berlebihan bila orang bersaksi palsu dalam sebuah kecelakaan yang merenggut nyawa orang-orang terdekatnya.

Salah salah kesaksian yang membuat miris datang dari Karmila, salah satu penumpang bus. "Enggak ada warga sekitar yang mau menolong saya dan teman-teman lainnya, mereka cuma ngerekam," kata Karmila seperti dikutip dari Kompas.

Bila orang-orang tersebut tidak menolong, karena bingung harus melakukan apa terhadap korban kecelakaan, saya masih memaklumi. Terkadang orang memang tidak tahu harus berbuat apa ketika melihat kecelakaan. Dia mungkin takut tindakannya justru membuat kondisi korban semakin buruk. Alasan lain yang terkadang muncul adalah: Tidak mau repot berurusan dengan hukum apalagi jadi saksi di pengadilan. Yah, pikiran ini memang masih jamak ditemui di Indonesia.

Sumber foto: fraserhealth.ca
Sumber foto: fraserhealth.ca
Untuk alasan pertama, soal ketidaktahuan cara menangani kondisi darurat pernah saya temui secara langsung. Pernah satu hari pulang dari kantor saya melihat kerumunan dan ternyata seorang bapak berusia sekitar 50 tahun terduduk di pinggir jalan dengan kaki berdarah-darah. Beberapa orang menanyakan kondisi bapak tersebut tapi terlihat bingung harus ngapain. Saya pun langsung tancap gas mencari apotek untuk membeli perban dan obat luka.

Saat saya kembali ke lokasi sudah ada polisi, tapi juga tidak melakukan penanganan darurat terhadap korban. Saya pun memberikan obat merah dan mengikat luka di kaki bapak tersebut dengan perban. Hal-hal seperti ini memang tidak banyak dipahami oleh masyarakat, termasuk polisi juga.

Saat mencoba mengangkat korban, Pak Polisi yang berada di lokasi tangan kanan dan kirinya memegang handy talkie dan lampu pengatur lalu lintas. Saya pun langsung memarahi polisi tersebut, karena hal tersebut bisa membahayakan korban. Bila dia kehilangan fokus antara memegang peralatan dan korban, bisa jadi hal tersebut akan membahayakan si korban. Bayangkan bila dia gagal fokus dalam memegang peralatan dan si korban jatuh? Bisa tambah parah luka korban.

Tentu tidak semua orang seperti itu. Sebab, saya pernah kecelakaan dan ditolong orang diantar hingga rumah sakit dan salah satu yang mengantar adalah polisi. Tapi harus saya akui banyak di antara orang-orang yang berkerumun tersebut bertindah sebagai "penonton", bukan penolong.

Kembali ke urusan penanganan pertama di Tanjakan Emen, Subang, bila orang yang melihat kejadian dia mematung karena tidak tahu harus memberikan pertolongan apa, saya bisa memaklumi. Tapi bila hanya menonton dan memvideokan ---apalagi dengan harapan videonya bisa viral---menurut saya tindakan tersebut kok sudah masuk kategori tidak berperikemanusiaan. Kejam. Bila masih punya nurani, tidak seharusnya hal tersebut dilakukan. Entahlah bila kepedulian mereka sudah mati.

Saya rasa pemerintah, bisa lewat POLRI, Kementerian Perhubungan, dan/atau Kementerian Komunikasi dan Informasi bisa membuat kampanye positif atas tragedi semacam ini. Mereka harus mewartakan kepada warga bila melihat kecelakaan hal pertama yang harus dilakukan adalah menolong mereka, bukan menvideokannya. Saya rasa menjadi tanggung jawab pemerintah juga untuk memupuk kepedulian di antara warga negara.

Semoga kepedulian-kepedulian kecil tersebut masih ada dalam hati kita. Semoga rasa peduli itu lebih besar dan utama dibanding sekadar rasa curiga. Urusan politik sudah memecah kita dalam suasana curiga. Jangan sampai hal itu menular dalam urusan kemanusiaan seperti menolong korban kecelakaan. Semoga. Mari berharap dan memulainya dari diri kita.