Agung Dwi Ertato
Agung Dwi Ertato Editor

Menulis - Menyunting - Mengunggah.

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Pilihan

Memperebutkan Titel Tim Independen Terbaik MotoGP 2018

13 Maret 2018   13:27 Diperbarui: 13 Maret 2018   13:49 836 0 0
Memperebutkan Titel Tim Independen Terbaik MotoGP 2018
Johann Zarco-Danilo Petrucci-Cal Crutchlow. Foto: MotoGP

Panggung seru MotoGP 2018 bukan hanya milik tim pabrikan macam Repsol Honda, Ducati Corse, dan Movistar Yamaha. Tim independen seperti LCR Honda, Pramac Ducati, dan Tech3 Yamaha bakal ikut unjuk gigi menjadi yang terbaik.

Ketika Jack Miller menjuarai seri Assen, Belanda, musim 2016 silam, para pandit MotoGP mengamini bahwa kebangkitan tim independen di kelas premier segera dimulai. Memang, kala itu, Miller yang masih mengendarai Honda RC213V di Marc VDS memenangi lomba saat sirkuit Assen diguyur hujan. Namun, bukan berarti tim independen menang karena beruntung.

Beberapa bulan berikutnya, giliran Cal Crutchlow yang juga menunggangi Honda RC213V memenangi lomba di Brno, Ceko, dan Phillip Island, Australia. Musim 2016 pun didapuk sebagai musim terbaik lantaran ada 9 pebalap pemenang berbeda dan dua di antaranya adalah pebalap dari tim independen.

Musim 2017, tajuk media motorsport dunia masih enggan berpindah dari kejutan yang dibuat oleh tim independen. Giliran dua pebalap Tech3 Yamaha, Johann Zarco dan Jonas Folger, yang menjadi kejutan. Uniknya lagi, dua pebalap ini sama-sama pendatang baru di kelas utama alias rookie.

Di seri pertama musim lalu, Zarco langsung jadi bahan pembicaraan. Sebagai rookie, dia langsung memimpin balapan di Qatar selama beberapa putaran, meski akhirnya tergelincir karena kurang pengalaman menghemat ban. Sama halnya dengan Zarco, Folger juga sempat unjuk gigi di kampung halamannya, Sanchenring, Jerman. Rookie Jerman itu adu salip memperebutkan posisi satu dengan Marc Marquez, meski, ya, harus rela diasapi oleh RCV milik Marquez dan puas berdiri di podium 2.

Danilo Petrucci tampil mengejutkan di Sirkuit Assen Belanda. Foto: Jawa Pos
Danilo Petrucci tampil mengejutkan di Sirkuit Assen Belanda. Foto: Jawa Pos

Selain Tech3, Pramac Ducati juga tampil luar biasa. Danilo Petrucci yang menggunakan motor spesifikasi sama dengan pabrikan Ducati, GP17, tampil luar biasa di Assen, Belanda. Ia cuma terpaut 0,067 detik dengan Valentino Rossi yang memenangkan GP Belanda 2017. Hanya selisih sekedipan mata. Di trek basah, Misano dan Motegi, Petrucci kembali menunjukkan kecakapannya mengendarai Desmosedici GP17. Di dua trek itu, ia sempat memimpin balapan beberapa lap, meski akhirnya harus puas finis di urutan 2 (Misano) dan 3 (Motegi).

Sayang, musim kemarin, tim independen yang menggunakan motor Honda tak bisa berbuat apa-apa. Crutchlow yang digadang-gadang bisa berbuat banyak pun harus berjibaku dengan RCV-nya. "Motor RCV terlalu agresif. Cuma Marquez yang bisa menaklukkan. Jika Miller atau Tito (Rabat) mengendarai (Yamaha) M1, mungkin mereka bisa tampil di depan," ujarnya, seperti dikutip dari crash.net beberapa waktu lalu.

Musim 2018 Bakal Lebih Sengit

Jarak yang begitu rapat antara tim pabrikan dan independen selama dua musim terakhir akan semakin mempersengit peta persaingan MotoGP 2018. Apalagi musim ini, tim-tim pabrikan secara resmi terlibat langsung dalam tim-tim independen. Tim-tim pabrikan itu menjadikan tim independen sebagai tim junior mereka.

Langkah ini telah dijalankan oleh Honda Racing Corporation (HRC) dan Ducati Corse. HRC bekerja sama dengan LCR Racing, sedangkan Ducati menggandeng Pramac Ducati sebagai tim juniornya. Kedua pebalap LCR dan Pramac langsung terikat kontrak dengan Honda dan Ducati, dan masing-masing tim memiliki satu motor yang sama spesifikasi dengan motor pabrikan. Di LCR, motor Crutchlow setipe dengan RCV milik Marquez dan Dani Pedrosa. Sementara, motor Petrucci di Pramac bakal sama dengan motor Jorge Lorenzo dan Andrea Dovizioso. Bisa dibayangkan, seberapa rapat nanti jarak antara tim pabrikan dan independen musim ini.

Cal Crutchlow menjajal RCV terbaru. Foto: Twitter Michelin
Cal Crutchlow menjajal RCV terbaru. Foto: Twitter Michelin

Ya, ini pula yang bikin LCR Honda dan Pramac Ducati menjadi favorit sebagai tim independen terbaik di musim 2018. Baik LCR maupun Pramac bakal punya akses langsung ke tim pabrikan. Mereka bisa dengan mudah melihat data telemetri pebalap pabrikan dan juga pembaruan spare part bakal lebih mudah. Tidak mustahil, di musim 2018 nanti, Crutchlow dan Petrucci bisa ikut meramaikan perebutan podium bahkan juara seri. Ditambah, selama tes pramusim, catatan dua pebalap itu cukup menjanjikan.

Namun, jangan lupakan Tech3 Yamaha sebagai calon tim independen terbaik. Mereka punya Johann Zarco yang masih penasaran ingin menjuarai seri dan Hafidz Syahrin, rookie asal Malaysia yang menggantikan Jonas Folger karena sakit. Meski tak punya ikatan khusus dengan pabrikan, seperti LCR Honda dan Pramac Ducati, Tech3 tergolong sebagai tim independen yang punya kualitas sekelas pabrikan.

Tech3 sudah lama berkecimpung di kelas premier, kurang lebih 18 tahun. Pengalaman ini bisa menjadi senjata terbaik bagi Tech3. Ditambah lagi, Herve Poncharal, sang bos Tech3, punya intuisi bagus soal pilihan pebalap.

Selama tes pramusim, Zarco kerap tampil di lima besar tercepat. Terakhir, di Qatar, Zarco menjadi yang tercepat soal lap time. Pebalap Prancis ini, bahkan lagi-lagi, mengungguli duo pebalap Movistar Yamaha. Padahal, Zarco memakai sasis motor 2016, dua tahun lebih tua dari motor tim pabrikan.

Johann Zarco saat memimpin balapan di Phillip Island, Autralia. Foto: MCN
Johann Zarco saat memimpin balapan di Phillip Island, Autralia. Foto: MCN

Betul, Zarco memang lebih memilih sasis YZR-M1 2016 ketimbang versi 2017, sedangkan rekan setimnya memilih versi 2017. Alasan Zarco, sasis 2016 lebih cocok dengan gaya balapnya yang smooth. Pebalap Prancis ini mengopi gaya balap Lorenzo yang sangat smooth dan cepat di tikungan.

Tak bisa dimungkiri, M1 masih sangat melekat dengan gaya balap Lorenzo dan versi M1 2016 memang diciptakan sesuai dengan gaya balap Lorenzo. Ini juga diamini salah satu kepala mekanik Tech3 Yamaha, Nicolas Goyon. Menurut Goyon, agar bisa memaksimalkan M1, pebalap Tech3 harus bisa meniru gaya balap Lorenzo.

"(Mengendarai M1), kamu harus memahami gaya Yamaha adalah Jorge Lorenzo. Jadi, pebalap harus bisa meniru gaya Lorenzo: smooth dan tidak melakukan sliding," ujar Goyon yang juga kepala mekanik Syahrin.

Ya, itulah yang dilakukan Zarco dan kenapa pebalap Prancis ini lebih tertarik dengan M1 versi 2016. Ini terbukti dari catatan waktu Zarco selama di Qatar yang tembus 1:54.029. Catatan ini jauh lebih cepat dibandingkan catatan Lorenzo waktu merebut pole position di Qatar pada 2016 (1:54.543). Impresif bukan?

Rasanya, hanya LCR Honda, Pramac Ducati, dan Tech3 Yamaha yang bakal menjadi kandidat tim independen terbaik. Ketiganya memiliki pebalap dan paket motor yang bagus. LCR punya Crutchlow dan RCV terbaru, Pramac punya Petrucci dan GP18, serta Tech3 punya Zarco. Ditambah lagi, ketiga tim itu punya pebalap kedua yang tak kalah kelas: Takaaki Nakagami (LCR), Miller (Pramac), dan Syahrin (Tech3).

Bagaimana dengan tim independen lainnya? Memang masih ada tim Marc VDS Honda yang punya Franco Morbidelli dan Thomas Luthi yang menggunakan RCV 2017, Avintia Ducati yang memercayakan Tito Rabat (GP17) dan Xavier Simeon (GP16), serta Nieto Ducati dengan Alvaro Bautista (GP17) dan Karel Abraham (GP16). Kans ketiga tim itu cukup tipis. Sebab, dukungan pabrikan untuk tim independen ini sangat terbatas.

Dilihat dari tes pramusim kemarin, ketiga tim ini bakal memperebutkan posisi papan tengah. Avintia Ducati dan Nieto Ducati mungkin lebih unggul karena menggunakan Ducati GP17 yang kompetitif musim lalu. Namun, Marc VDS punya Morbidelli dan motor Marquez musim lalu yang bisa jadi kartu truf musim ini.

*Tulisan ketujuh preview MotoGP 2018