Mohon tunggu...
AGUNG CHRISTANTO
AGUNG CHRISTANTO Mohon Tunggu... Guru - Pendidik

Dari nol belajar Menggali dari pengalaman pribadi yang menginspirasi untuk sesama

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Sebuah Refleksi Diri Mencari Jalan Keluar: Benarkah Guru Terpenjara pada Kurikulum?

29 November 2023   18:50 Diperbarui: 29 November 2023   19:07 84
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Benarkah Guru Terpenjara pada Kurikulum?

Dalam dunia pendidikan, perdebatan mengenai sejauh mana guru memiliki kebebasan dalam mengajar, seringkali memunculkan pertanyaan apakah guru benar-benar "terpenjara" pada kurikulum atau tidak. Sebagai seorang pendidik, guru memiliki peran krusial dalam membentuk proses pembelajaran. Meski demikian, kurikulum dianggap sebagai panduan yang menentukan konten dan batasan materi yang harus diajarkan dalam kurun waktu tertentu.

Di satu sisi, beberapa orang berpendapat bahwa guru merasa "terpenjara" karena adanya batasan dan ketentuan dalam kurikulum. Hal ini dapat membatasi kreativitas dan fleksibilitas guru dalam menyusun metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa di kelas. Sebagai hasilnya, ada risiko bahwa pembelajaran menjadi monoton dan kurang memotivasi.

Di sisi lain, pendukung kurikulum bersikeras bahwa struktur kurikulum diperlukan untuk memastikan konsistensi dan standar kualitas pendidikan. Kurikulum membantu memastikan bahwa siswa di berbagai tempat dan latar belakang mendapatkan pemahaman dasar yang setara. Dengan adanya kurikulum, pemerintah dan lembaga pendidikan dapat mengukur pencapaian dan perkembangan siswa secara lebih obyektif.

Sebagai solusi, mungkin diperlukan pendekatan yang seimbang di mana guru memiliki kebebasan dalam memilih metode pengajaran dan menyesuaikannya dengan kebutuhan siswa, sambil tetap memastikan bahwa kurikulum memberikan landasan yang solid. Fokus dapat diberikan pada pengembangan keterampilan guru dalam mengadaptasi materi pembelajaran agar relevan dan menarik bagi siswa, sekaligus memastikan pemenuhan standar pendidikan yang ditetapkan.
Pernyataan "guru terperangkap pada kurikulum" sering dilontarkan oleh para pendidik dan pengamat pendidikan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
*Kurangnya otonomi guru dalam mengembangkan kurikulum
Kurikulum yang berlaku di Indonesia saat ini cenderung bersifat baku dan kurang memberi ruang bagi guru untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi mereka. Guru dituntut untuk mengikuti kurikulum secara ketat, tanpa banyak peluang untuk menyesuaikannya dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik mereka.
*Beban administratif yang tinggi
Guru di Indonesia dituntut untuk melaksanakan berbagai tugas administratif, seperti membuat laporan, mengisi data, dan mengikuti pelatihan. Hal ini menyebabkan mereka memiliki sedikit waktu untuk merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif.
*Kurangnya penghargaan terhadap profesionalisme guru
Guru sering kali diperlakukan sebagai pekerja dengan status rendah, baik dari segi gaji maupun rasa hormat. Hal ini menyebabkan mereka kurang termotivasi untuk mengembangkan diri dan melakukan praktik pembelajaran yang lebih baik.
Meskipun demikian, pernyataan bahwa guru terperangkap pada kurikulum tidaklah sepenuhnya benar. Ada banyak guru yang mampu menerapkan pembelajaran yang kreatif dan inovatif, meskipun mereka terikat oleh kurikulum. Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:
*Menggunakan kurikulum sebagai panduan, bukan sebagai diktat
Guru harus memahami tujuan dari kurikulum dan menggunakannya sebagai panduan untuk mengembangkan pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik. Mereka tidak boleh terpaku pada materi pelajaran yang ada dalam kurikulum, tetapi harus mencari cara untuk menyampaikan materi tersebut dengan cara yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
*Mengintegrasikan kurikulum dengan konteks lokal
Guru harus mempertimbangkan konteks lokal ketika mengembangkan pembelajaran. Hal ini berarti bahwa mereka harus menggunakan contoh dan bahan ajar yang relevan dengan kehidupan peserta didik dan lingkungan mereka.
*Melakukan refleksi diri
Guru harus melakukan refleksi diri secara berkala untuk mengevaluasi efektivitas pembelajaran mereka. Mereka harus bertanya kepada diri sendiri apakah pembelajaran yang mereka berikan sesuai dengan tujuan kurikulum dan apakah peserta didik mereka terlibat dan termotivasi.
Dengan cara-cara ini, guru dapat mengatasi keterbatasan kurikulum dan memberikan pembelajaran yang berkualitas bagi peserta didik mereka.
Berikut adalah beberapa contoh praktik pembelajaran yang kreatif dan inovatif yang dapat diterapkan oleh guru:
*Membuat pembelajaran menjadi kontekstual
Guru dapat membuat pembelajaran menjadi kontekstual dengan menggunakan contoh dan bahan ajar yang relevan dengan kehidupan peserta didik dan lingkungan mereka. Misalnya, guru mata pelajaran IPS dapat meminta peserta didik untuk membuat laporan tentang masalah lingkungan di daerah mereka.
*Melakukan pembelajaran berbasis proyek
Pembelajaran berbasis proyek adalah metode pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam kegiatan yang berpusat pada proyek nyata. Misalnya, guru mata pelajaran IPA dapat meminta peserta didik untuk mendesain dan membuat model mobil yang hemat energi.
*Menggunakan teknologi dalam pembelajaran
Teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan kreativitas dan interaktivitas dalam pembelajaran. Misalnya, guru dapat menggunakan alat peraga digital atau video untuk menyampaikan materi pelajaran.
*Melakukan pembelajaran kolaboratif
Pembelajaran kolaboratif adalah metode pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam bekerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Misalnya, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat meminta peserta didik untuk berkelompok dan menulis cerita pendek bersama-sama.
Peran Pengembangan Profesional Guru
Pengembangan profesional guru adalah proses yang berkelanjutan yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam melaksanakan tugasnya. Pengembangan profesional guru dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti pelatihan, seminar, workshop, dan studi lanjut.
Pengembangan profesional guru memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Pengembangan profesional guru dapat membantu guru untuk:
*Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka
*Meningkatkan pemahaman mereka tentang kurikulum dan pembelajaran
*Meningkatkan kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan perubahan
*Meningkatkan motivasi mereka untuk mengajar
Peran Kerjasama Antar Guru
Kerjasama antar guru adalah kerja sama yang dilakukan oleh guru untuk saling berbagi pengalaman dan praktik. Kerjasama antar guru dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti:
*Kelompok kerja guru
*Komunitas belajar guru
*Jaringan guru
Kerjasama antar guru memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Kerjasama antar guru dapat membantu guru untuk:
*Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka
*Mendapatkan dukungan dari rekan sejawat
*Meningkatkan kreativitas dan inovasi mereka
*Meningkatkan efektifitas pembelajaran
Hubungan Antara Pengembangan Profesional Guru dan Kerjasama Antar Guru
Pengembangan profesional guru dan kerjasama antar guru adalah dua hal yang saling berkaitan. Pengembangan profesional guru dapat membantu guru untuk meningkatkan kompetensi mereka, dan kerjasama antar guru dapat membantu guru untuk menerapkan kompetensi tersebut.
Kerjasama antar guru dapat menjadi sarana bagi guru untuk berbagi pengalaman dan praktik yang telah mereka pelajari melalui pengembangan profesional guru. Dengan berbagi pengalaman dan praktik, guru dapat saling belajar dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
Berikut adalah beberapa contoh bagaimana pengembangan profesional guru dan kerjasama antar guru dapat saling mendukung:
*Guru mengikuti pelatihan tentang pembelajaran berbasis proyek. Pelatihan tersebut mengajarkan guru tentang cara menerapkan pembelajaran berbasis proyek di kelas. Setelah pelatihan, guru dapat menerapkan pembelajaran berbasis proyek di kelas mereka. Guru juga dapat berbagi pengalaman mereka menerapkan pembelajaran berbasis proyek dengan rekan sejawat mereka.
*Guru mengikuti seminar tentang penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Seminar tersebut mengajarkan guru tentang cara menggunakan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Setelah seminar, guru dapat menggunakan teknologi dalam pembelajaran mereka. Guru juga dapat berbagi pengalaman mereka menggunakan teknologi dalam pembelajaran dengan rekan sejawat mereka.
Dengan kerjasama yang erat antara pengembangan profesional guru dan kerjasama antar guru, guru dapat meningkatkan kompetensi mereka dan memberikan pembelajaran yang berkualitas bagi peserta didik.
Guru dapat menjadi fasilitator yang kreatif dan memotivasi dalam kelas tanpa merusak keintegritasan kurikulum dengan cara-cara berikut:
*Fokus pada tujuan pembelajaran
Guru harus memahami tujuan pembelajaran dari kurikulum. Tujuan pembelajaran adalah apa yang ingin dicapai oleh peserta didik setelah mengikuti pembelajaran. Dengan memahami tujuan pembelajaran, guru dapat merencanakan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan tersebut.
*Gunakan kurikulum sebagai panduan, bukan sebagai diktat
Kurikulum adalah panduan untuk pembelajaran, bukan diktat. Guru harus memiliki kebebasan untuk mengembangkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik mereka.
*Integrasikan kurikulum dengan konteks lokal
Guru harus mempertimbangkan konteks lokal ketika mengembangkan pembelajaran. Hal ini berarti bahwa guru harus menggunakan contoh dan bahan ajar yang relevan dengan kehidupan peserta didik dan lingkungan mereka.
*Gunakan metode pembelajaran yang beragam
Guru harus menggunakan metode pembelajaran yang beragam untuk membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan bermakna bagi peserta didik. Metode pembelajaran yang beragam dapat membantu peserta didik untuk belajar dengan cara yang berbeda-beda.
*Berikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat aktif
Guru harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat aktif dalam pembelajaran. Peserta didik yang terlibat aktif dalam pembelajaran akan lebih termotivasi untuk belajar.
*Gunakan teknologi secara bijak
Teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan kreativitas dan interaktivitas dalam pembelajaran. Namun, teknologi harus digunakan secara bijak agar tidak merusak keintegritasan kurikulum.
*Lakukan refleksi diri
Guru harus melakukan refleksi diri secara berkala untuk mengevaluasi efektivitas pembelajaran mereka. Guru harus bertanya kepada diri sendiri apakah pembelajaran yang mereka berikan sesuai dengan tujuan kurikulum dan apakah peserta didik mereka terlibat dan termotivasi.
Berikut adalah beberapa contoh praktik pembelajaran yang kreatif dan memotivasi yang dapat diterapkan oleh guru:
*Membuat pembelajaran menjadi kontekstual
Guru dapat membuat pembelajaran menjadi kontekstual dengan menggunakan contoh dan bahan ajar yang relevan dengan kehidupan peserta didik dan lingkungan mereka. Misalnya, guru mata pelajaran IPS dapat meminta peserta didik untuk membuat laporan tentang masalah lingkungan di daerah mereka.
*Melakukan pembelajaran berbasis proyek
Pembelajaran berbasis proyek adalah metode pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam kegiatan yang berpusat pada proyek nyata. Misalnya, guru mata pelajaran IPA dapat meminta peserta didik untuk mendesain dan membuat model mobil yang hemat energi.
*Menggunakan teknologi dalam pembelajaran
Teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan kreativitas dan interaktivitas dalam pembelajaran. Misalnya, guru dapat menggunakan alat peraga digital atau video untuk menyampaikan materi pelajaran.
*Melakukan pembelajaran kolaboratif
Pembelajaran kolaboratif adalah metode pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam bekerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Misalnya, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat meminta peserta didik untuk berkelompok dan menulis cerita pendek bersama-sama.
Dengan menerapkan praktik pembelajaran yang kreatif dan memotivasi, guru dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik, bermakna, dan efektif bagi peserta didik mereka.
Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk membuat refleksi diri, mengevaluasi diri, dan mengambil tindak lanjut agar siswa mendapatkan pengalaman pembelajaran yang holistik dan bermakna, sambil tetap memenuhi tujuan pendidikan nasional:
1.Lakukan refleksi diri secara berkala
Refleksi diri adalah proses merenungkan pengalaman dan praktik pembelajaran guru. Refleksi diri dapat dilakukan dengan cara bertanya kepada diri sendiri tentang hal-hal berikut:
*Apa yang berhasil dalam pembelajaran saya?
*Apa yang perlu saya perbaiki?
*Bagaimana saya dapat membuat pembelajaran saya lebih bermakna bagi siswa?
2.Evaluasi diri secara objektif
Evaluasi diri adalah proses menilai kinerja guru berdasarkan kriteria tertentu. Evaluasi diri dapat dilakukan dengan cara meminta umpan balik dari rekan sejawat, kepala sekolah, atau siswa.
3.Buat rencana tindak lanjut
Berdasarkan hasil refleksi diri dan evaluasi diri, guru dapat membuat rencana tindak lanjut untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mereka. Rencana tindak lanjut dapat berupa perubahan dalam metode pembelajaran, materi pelajaran, atau penilaian.
Berikut adalah beberapa contoh tindakan yang dapat dilakukan oleh guru untuk menciptakan pengalaman pembelajaran yang holistik dan bermakna:
*Fokus pada pengembangan karakter
Selain mengembangkan pengetahuan dan keterampilan, guru juga harus fokus pada pengembangan karakter siswa. Karakter yang kuat akan membantu siswa menjadi warga negara yang baik dan berkontribusi bagi masyarakat.
*Gunakan pembelajaran kontekstual
Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dikaitkan dengan kehidupan nyata siswa. Pembelajaran kontekstual dapat membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna dan relevan bagi siswa.
*Berikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif
Peserta didik yang terlibat aktif dalam pembelajaran akan lebih termotivasi untuk belajar. Guru dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif dengan berbagai cara, seperti pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis proyek, atau pembelajaran berbasis masalah.
*Gunakan teknologi secara bijak
Teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Namun, teknologi harus digunakan secara bijak agar tidak menggantikan peran guru sebagai fasilitator pembelajaran.
Dengan melakukan refleksi diri, evaluasi diri, dan mengambil tindak lanjut secara berkala, guru dapat meningkatkan kualitas pembelajaran mereka dan menciptakan pengalaman pembelajaran yang holistik dan bermakna bagi siswa.
dengan menerapkan praktik pembelajaran yang kreatif dan inovatif, guru dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik, bermakna, dan efektif bagi peserta didik mereka. Berikut adalah beberapa alasan mengapa praktik pembelajaran yang kreatif dan inovatif penting bagi peserta didik:
*Membuat pembelajaran menjadi lebih menarik
Pembelajaran yang menarik akan membuat peserta didik lebih termotivasi untuk belajar. Peserta didik akan lebih terlibat dalam pembelajaran dan lebih mudah menyerap materi pelajaran.
*Membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna
Pembelajaran yang bermakna akan membantu peserta didik untuk memahami materi pelajaran dengan lebih baik. Peserta didik akan dapat menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan mereka sehari-hari.
*Membuat pembelajaran menjadi lebih efektif
Pembelajaran yang efektif akan membantu peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Peserta didik akan dapat menguasai materi pelajaran dengan lebih baik.
Berikut adalah beberapa contoh praktik pembelajaran yang kreatif dan inovatif yang dapat diterapkan oleh guru:
*Pembelajaran berbasis proyek
Pembelajaran berbasis proyek adalah metode pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam kegiatan yang berpusat pada proyek nyata. Pembelajaran berbasis proyek dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan bermakna bagi peserta didik.
*Pembelajaran kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah metode pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam bekerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif dapat membantu peserta didik untuk mengembangkan keterampilan kerja sama dan komunikasi.
*Pembelajaran berbasis masalah
Pembelajaran berbasis masalah adalah metode pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam memecahkan masalah nyata. Pembelajaran berbasis masalah dapat membantu peserta didik untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah.
*Pembelajaran menggunakan teknologi
Teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Teknologi dapat digunakan untuk membuat pembelajaran menjadi lebih menarik, interaktif, dan mudah diakses.
Guru perlu memahami kebutuhan dan karakteristik peserta didik mereka untuk dapat menerapkan praktik pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Guru juga perlu memiliki kreativitas dan inovasi untuk dapat mengembangkan praktik pembelajaran yang baru dan menarik.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun