Agung Baskoro
Agung Baskoro Analis Politik Poltracking

Analis Politik Poltracking Indonesia | Tanoto Foundation Scholar | The Next Leader Award Versi Universitas Paramadina-Metro TV 2009 | Buku Status Update For The Best Student (Gramedia Pustaka Utama, 2012) | Juventini | Contact : agungbaskoro86@gmail.com - Fb : Agung Baskoro - Twitter : @agungbaskoro - IG : @agungbaskoro31 - www.agungbaskoro.com |

Selanjutnya

Tutup

Politik

Sketsa 'Perang Bintang' 2019

22 Desember 2017   09:19 Diperbarui: 22 Desember 2017   09:43 593 0 0

Stabilitas politik nasional yang sering gonjang-ganjing dan menguatnya politik identitas di masa sekarang, membutuhkan sosok kuat yang bisa menjadi pengayom bagi semua pihak. Figur yang dimaksud dan makna arti bintang dalam judul tulisan ini merujuk pada maraknya kehadiran para jenderal dari kalangan TNI-Polri.

Realitas tersebut diperkuat dengan masifnya kemunculan Gatot Nurmantyo (Gatot) dalam berbagai momentum politik, diikuti pula intensnya penampakan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di sejumlah daerah. Hasilnya, kini nama AHY dan Gatot berkibar di peringkat ketiga dan keempat dalam simulasi 5 kandidat sebagai salah satu calon penantang Presiden Jokowi dan berikutnya Gatot dan AHY kembali muncul di peringkat pertama dan kedua sebagai pendamping Presiden Joko Widodo dalam survei terbaru yang dirilis Poltracking  bulan lalu.

Pada bagian lain walaupun kutub-kutub politik sudah terbentuk, namun segala sesuatunya masih lentur karena sampai sekarang, baik PDIP, PAN dan PKB belum memberikan restunya (sebagaimana sikap anggota Koalisi Pemerintah lainnya) kepada Presiden Jokowi maju untuk kedua kalinya. Ditambah lagi, Kesolidan Gerindra-PKS sebagai poros di luar pemerintah dan Demokrat dengan peran penyeimbangnya mengkonfirmasi segala sesuatunya masih sangat dinamis. Apalagi saat ini skema Presidential Threshold (PT) dalam Paket UU Pemilu yang baru disahkan, sedang proses uji materi di Mahkamah Konstitusi. Dengan demikian, peluang bagi Gatot, AHY atau nama lainnya maju sebagai kandidat Capres/Cawapres 2019 masih terbuka.

Pemilu 2019 memiliki nilai strategis bukan hanya untuk memastikan bahwa demokrasi kita semakin terkonsolidasi, namun harapannya dapat pula mengakselerasi regenerasi kepemimpinan nasional yang berkualitas di semua lini agar reproduksi optimisme anak bangsa terus bergulir lebih besar ketimbang energi negatif yang rutin ditebar oleh para elit politik.

Tantangan

Selain Gatot dan AHY, terdapat nama-nama bintang lainnya yang silih berganti menghiasi 'panggung depan' politik tanah air saat ini. Mereka di antaranya adalah Prabowo Subianto (Gerindra), Wiranto (Menko Polhukam/Hanura), Luhut Binsar Panjaitan (Menko Maritim/Golkar), AM. Hendropriyono (Ketum PKPI), Tito Karnavian (Kapolri), Budi Gunawan (BIN), dan Budi Waseso (BNN). Mengemukanya nama-nama dari kalangan TNI/Polri jelang 2019, sebenarnya hal yang biasa karena sejarah kepemimpinan di negeri ini mencatat dua nama presiden, yakni Presiden Soeharto dan Presiden SBY lahir dari rahim militer.

Nama-nama bintang yang hadir, selain berpotensi menjadi Capres/Cawapres juga  membawa tantangan besar bagi masing-masing. Bagi Gatot misalnya, bagaimana mengelola magnet figur yang ia miliki pascapensiun. Untuk AHY, publik menanti dirinya agar segera memiliki amanah kepemimpinan baru yang lebih konkrit setelah Pilkada DKI.

Nama Prabowo dan Wiranto tentu tidak asing di telinga publik, karena beberapa kali sempat mencalonkan diri dalam Pilpres. Keduanya kini dihadapkan pada tantangan personal, yakni memilih sebagai kandidat Capres dan Cawapres atau cukup menjadi king maker.Sementara dalam konteks Luhut dan Hendropriyono yang dikenal publik sebagai 'tangan kanan' presiden, tantangan bagi keduanya adalah memilih bagaimana dapat menjadi Cawapres terbaik atau tetap fokus sebagai 'sutradara' (off air politics)yang terbukti efektif mempengaruhi dinamika.

Dalam konteks Tito Karnavian, tantangan terhadap sosok ini bagaimana menempatkan profesionalitas Polri di tahun politik seperti sekarang dan berikutnya kejelasan kasus Habib Rizieq dan Novel Baswedan, yang ditunggu oleh publik ujung penyelesaiannya. Sementara untuk Budi Gunawan, publik ingin melihat netralitas BIN dan kecakapan institusi ini dalam mendeteksi setiap gejolak yang muncul di tanah air maupun percaturan global. Bagi Budi Waseso, tantangan terbesarnya adalah menjadikan kerja-kerja BNN lebih populer sekaligus mampu memberantas habis peredaran narkoba.

Semua nama-nama bintang tadi, walaupun telah dikenal, tetap perlu berjuang demi meraih simpati dan melekat dalam persepsi publik. Karena perang di medan tempur jauh berbeda dengan memenangkan hati rakyat. Kekalahan Wiranto dan Prabowo dalam pemilu-pemilu sebelumnya bisa menjadi bukti valid bahwa kesuksesan di dunia militer mesti berkombinasi dengan pengetahuan utuh terkait perilaku pemilih. Sampai pada tahap ini, Presiden SBY menjadi contoh terbaik pascareformasi sebagai tokoh militer paling sukses di panggung politik.

Keberhasilan Presiden SBY menempatkan dirinya sebagai sosok demokrat ketimbang figur militer, menarik dicermati. Salah satu pisau analisis yang bisa menjelaskan hal ini adalah teori strukturisasi Giddens (1984), karena melihat bahwa pendekatan struktur tidak selamanya mempengaruhi aktor ataupun sebaliknya pendekatan aktor tidak selamanya mempengaruhi strukutur. Pendekatan jalan ketiga (third ways) ini lebih kontekstual menjelaskan bagaimana hubungan struktur dan aktor yang saling terkait dalam merespon sebuah realitas ketimbang teori-teori lama yang menempatkan struktur maupun aktor berdiri sendiri.

Secara aturan, pascareformasi dwifungsi militer telah dihapuskan. Namun praksisnya, kemunculan para purnawirawan yang konsisten dalam pos-pos strategis kekuasaan sampai hari ini justru membuktikan lain, bahwa mereka punya kualitas dalam memimpin. Fakta berbicara jauh, didukung oleh struktur yang gonjang-ganjing atas kepemimpinan sipil dan momentum sosok SBY sebagai aktor yang 'dizalimi' pada masa itu, maka tercapailah syarat atau persepsi publik tentang siapa pemimpin yang ideal.

Di titik inilah, kejelian para bintang dalam menghadapi Pemilu 2019 diuji. Karena gagal menerjemahkan strategi, maka dukungan struktur dan peran yang bisa dilakukan akan lenyap dengan sendirinya. Artinya, pembacaan terhadap situasi yang terjadi saat ini menjadi penting, misalnya, apa langkah paling tepat pada 2019, menjadi RI1 atau cukup RI2? Jawaban atas dua pilihan pertanyaan tersebut, akan menghasilkan strategi yang berbeda. Artinya, kandidat yang bertarung nanti mesti bisa membaca panggung dengan baik, agar tak menjadi korban sutradara atau yang paling ironis tersungkur karena gagal berperan saat pertunjukan sudah dimulai.