Mohon tunggu...
Agung Han
Agung Han Mohon Tunggu... Blogger Biasa

Kompasianer of The Year 2019 | Nomine Best in Spesific Interest Kompasianival' 19 | Admin Ketapels | IG @agunghan_ | agungatv@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Yuk Berkontribusi bagi Dunia Pariwisata

5 Januari 2015   15:43 Diperbarui: 17 Juni 2015   13:47 37 5 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Yuk Berkontribusi bagi Dunia Pariwisata
1420421619479148935

[caption id="attachment_388594" align="aligncenter" width="500" caption="Panorama Alam Indonesia (dokpri)"][/caption]

Alam Indonesia dengan keindahan yang menakjubkan, menjadi anugerah Sang Pencipta. Berderet kepulauan berbaris, bagai untaian permata katulistiwa. Menarik perhatian dan minat, dikagumi seluruh penjuru dunia. Betapa banyak obyek wisata tersebar, mulai yang terkenal sampai yang masih tersembunyi. Mulai dari yang termasyur, sampai yang belum tertemukan. Konon Nusantara dianggap "cukilan" tanah surga, yang ditempelkan pada permukaan bumi. Indah panorama, kaya sumber daya alam, dan subur tanahnya tak diragukan. Sanjung puja dan puji bagi indah permai negri, sering terdengar dan bergema. ( klik link http://www.indonesia.travel/wonderfulindonesia ). Group musik Koes Plus yang tenar pada tahun 70-an, pernah mempersembahkan lagu terkenal sepanjang masa.

Bukan lautan hanya kolam susu

Kail dan jala cukup menghidupimu

Tiada topan tiada badai kau temui

Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga

Tongkat Kayu dan batu jadi tanaman

Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga

Tongkat Kayu dan batu jadi tanaman

Gambaran ideal perihal tanah surga, kini perlahan mengabur luntur. Perusakan hutan dan penebangan pohon marak, kebijakan penguasa (seolah) tak lagi berpihak. Eksploitasi sumber daya alam tak ada henti, demi mengeruk keuntungan pribadi. Rerimbunan hutan hijau, menjelma kerontang dan gersang. Sumber daya air yang jernih, berubah menjadi banjir bandang tak bersahabat. Kekayaan alam yang konon warisan anak cucu, dengan penuh angkara dihabiskan masa sekarang. Hasil panen dari sawah yang terbentang luas, tak jarang gagal sebelum dipetik. Daya saing produk pertanian yang rendah, berimbas pada kesejahteraan petani yang memprihatinkan.

Hidup seperti dua sisi dalam sekeping uang, memiliki wajah yang saling berhimpitan. Selalu saja ada jiwa perampas, pada saat bersama ada jiwa pemelihara. Manusia yang dipenuhi dengan nafsu, cenderung berpikir untuk jangka pendek. Mulai jaman nabi Adam manusia pertama sampai akhir masa, "pertempuran" baik dan buruk tak ada usianya. Bagai sebuah pilihan, terserah diri ini menentukan peran sesuai pilihan. Pada akhirnya diri sendiri juga, yang bakal merasakan akibatnya.

Namun hidup musti mengenggam optimis, tak boleh meyerah kalah sebelum berbuat. Tak elok hanya memendam gelisah, tanpa bertindak apapun juga. Tak bijak melihat di depan mata keabaiaan terjadi, tanpa sigap turun tangan beraksi sekecil yang bisa.

Termaktub sebuah sabda baginda Rasulullah SAW “Sampaikanlah walau hanya satu ayat”(HR. Bukhari). Hadist ini bisa menjadi senjata ampuh, untuk mengobarkan semangat diri berkontribusi dalam kebaikan.

Pepatah sedikit demi sedikit lama lama menjadi bukit, menjadi pas dan tepat rasanya. Apabila setiap individu sebagai elemen terkecil, mampu dan mau bersumbang saran dan aksi demi kebaikan. Maka niscaya waktu akan menjawab, pada masa mendatang akan terjadi sebuah keajaiban.

******

[caption id="attachment_388595" align="aligncenter" width="638" caption="Alam Indonesia (dokpri)"]

1420421696651741168
1420421696651741168
[/caption]

Kebutuhan manusia tak lagi sekedar, sandang, pangan dan papan. Berkembang bersama masanya, tumbuh sejajar dengan perkembangan jaman. Pendidikan, Kesehatan, rasa nyaman, menjadi kebutuhan yang tak bisa dikesampingkan. Berekreasi menjadi sub kebutuhan, yang mendesak hadir tak bisa diabaikan keberadaanya. Seiring dengan kesibukan yang demikian padat, penat dan stress tak jarang menghampiri. Setiap orang perlu menyegarkan pikiran, untuk sejenak melepaskan aeka beban. Aneka macam hiburan tersedia di mana mana, baik berupa aktivitas fisik atau pikiran. Yang paling sederhana melalui televisi, atau kalau suntuk bisa pergi keluar rumah. Pikiran yang "kusut dan ruwet", akan kembali segar bila sudah refreshing. Oleh oleh menyegarkan pikiran, akan menunjang tubuh dan pikiran lebih produktif. Bagai meng-upgrade segenap potensi, refreshing seolah menjadi "makanan" rohani dan menggali inspirasi.

Seorang ulama ternama pernah berpetuah, perihal rumus sederhana dalam menjalani keseharian. Cara untuk meningkatkan kualitas diri, sehingga bisa mencapai kebahagiaan lahir dan batin.Rumus tersebut terdiri dari tiga kalimat pendek, agar mudah diingat awal kalimat dipakai huruf "M". Sang tokoh menyingkat rumusnya menjadi 3M, "Mulai dari diri sendiri","Mulai dari hal kecil", "Mulai dari sekarang". Secara sekilas rumus 3M tersebut, dapat dijelaskan dengan sederhana pula.

"Mulai dari Diri Sendiri", semua nasehat atau kebaikan, seyogyanya dipraktekkan dari diri sendiri dulu. Tak pantas hanya menyeru orang lain, sementara diri sendiri tak melakukan. Seperti orang menasehati sesama agar berkata baik, namun dia sendiri sendiri suka berkata kotor dan menghardik. Atau mengajak orang berderma, tapi justru sebagai penasehat pribadi yang kikir.

"Mulai dari hal kecil", sesuatu yang besar dimulai dari yang kecil. Konon Lao Chai (Filsuf China) pernah berujar, "bahwa perjalanan bermil mil jauhnya dimulai dari satu langkah". Sebuah kebaikan besar dimulai dari yang kecil, kemudian dilakukan secara berkelanjutan. Apabila kebaikan kecil dilakukan sedikit demi sedikit, dibarengi dengan konsistensi tinggi. Maka perlahan namun pasti, akan menumbuhkan hasil menggembirakan. Pembiasaan kebaikan adalah hal yang penting, agar apa yang dikerjakan tak lagi dianggap beban.

"Mulai dari sekarang", waktu yang tepat untuk memulai adalah saat ini. Penundaan sebuah pekerjaan (baik), sama dengan menunda kebaikan lain terjadi. Menunda perkerjaan (baca kebaikan) adalah kebiasaan buruk, musti segera disingkirkan dan dihilangkan. Tak ada seorangpun yang bisa memastikan, apakah besok masih bisa mengenggam waktu. Waktu yang menjadi "hak" setiap diri, adalah sekarang atau saat ini.

*****

Nusantara negeri indah gemah ripah loh jinawi, musti diperkenalkan dan dimunculkan ke permukaan. Jangan sampai pontensi dan keindahan alam menjadi "mubazir", apabila tak dikabarkan keberadaannya. Tugas mulia ini bukan lagi hanya kewajiban pemerintah, tapi menjadi tugas setiap individu yang bernama rakyat.

[caption id="attachment_388596" align="aligncenter" width="576" caption="Gua Pindul (dokpri)"]

1420421770947456601
1420421770947456601
[/caption]

Setiap warga dari negara yang kaya ini, sebaiknya menjadi pewarta keindahan Negri ini. Hanya kita yang tahu isi "rumah" kita sendiri, bukan orang lain bukan siapa siapa. Keindahan alam yang ada di dekat kita, akan tersembunyi apabila tak dikabarkan. Saya yakin banyak keindahan alam, yang dimiliki bangsa ini belum terekspos keluar. Sudut demi sudut kepulauan yang kaya ini, belum semua terjamah jejak kaki. Selaksa keindahan yang tersembunyi, menunggu saat yang tepat untuk tampil dan berseri.

[caption id="attachment_388597" align="aligncenter" width="640" caption="Sungai Oyo (dokpri)"]

14204218271970820827
14204218271970820827
[/caption]

Beberapa waktu lalu saya sempat ke Gua Pindul dan Sungai Oyo, tepatnya di daerah Gunung Kidul Jogjakarta. Sungai yang terdapat di dalam gua Pindul dan rafting tenang di Sungai Oyo, baru terkenal dua atau tiga tahun terakhir. Konon aliran di Gua Pindul adalah sungai bawah tanah, yang terpendam dan belum terdeteksi keberadaannya. Namun setelah ditemukan penduduk, kini tempat indah ini menjadi semarak. Setelah media meliput dan mengabarkan, masyarakat luas menyambut kehadirannya.

Obyek wisata ini menjadi "incaran", alhasil berbondong turis berdatangan. Geliat tempat wisata gua dan sungai ini, berdampak pada "efek domino positif". Penduduk yang berada di sekitar lokasi, merasakan berkah dari kunjungan wisatawan dalam dan luar negeri.

Potensi lain berupa makanan khas, kerajinan, penginapan, semua terangkat otomatis. Taraf hidup masyarakat grafiknya naik, senyum bahagia terbit merekah. Belum lagi efek berkurangnya arus urbanisasi, putra daerah memilih mengabdi pada tanah kelahiran. Pemandu yang mengiringi perjalanan saya saat itu, bercerita pernah merantau ke Semarang. Setelah daerahnya berkembang dengan baik, segera balik langkah ke kampung sendiri. Pendek kata semua pihak yang terkait dengan obyek wisata ini, akan merasakan peningkatan pendapatan. Roda perekonomian yang semula mandek, perlahan bergerak naik. Kini perlu upaya untuk mempertahankan, agar berkelanjutan dan langgeng hingga anak cucu.

Sukses story dari Gua Pindul dan Gua Oyo perlu ditularkan, pada potensi obyek wisata yang tersembunyi lainnya. Niscaya akan terjadi dampak positif serupa, akan menyebar dan masyarakat yang bergembira. Permasalahan perpindahan penduduk, dapat terselesaikan dengan sendirinya. Masalah kriminalitas, pembengkakan angkatan kerja, dan dampak sosial lainnya dapat berkurang.

[caption id="attachment_388599" align="aligncenter" width="554" caption="Kampung Agrowisata (dokpri)"]

14204218991154161501
14204218991154161501
[/caption]

Tak hanya obyek alami yang mendapat perhatian, obyek wisata buatan musti diperlakuan sama. Tempat umum yang mengundang perhatian massa berkumpul, menurut hemat saya adalah potensi wisata. Tak perlu jauh jauh menggali potensi itu, di sekitar tempat tinggal kita pasti banyak. Entah taman kota, Situ / Danau (alami atau buatan) , Kebun Binatang, Hutan Kota, Bebukitan, dan banyak tempat lainya.

*******

Peran masyarakat memegang peran penting, untuk menyebarkan keberadaannya. Strategi marketing "mouth to muoth", adalah cara yang efektif dan efisien. Tak perlu banyak biaya, tak perlu banyak tenaga. Setiap peran individu dalam masyarakat, perlu diberdayakan dan dimaksimalkan. Sehingga memberi dampak positif bagi kemajuan daerahnya, dan ujungnya pada kesejahteraan rakyat..

Wujud peran yang paling sederhana, menjadikan tempat wisata terdekat sebagai tujuan kunjungan. Sering megunjungi bersama keluarga dan kerabat, entah sekedar jalan santai atau mengadakan acara. Sering mengabarkan keberadaan obyek wisata, kepada teman kantor atau sadaura. Kalau saja hal ini dilakukan kontinyu, mungkin bisa memancing pihak lain mengikuti.

[caption id="attachment_388600" align="aligncenter" width="532" caption="Situ Gintung- Tangsel (dokpri)"]

14204219501881578272
14204219501881578272
[/caption]

Sebagai blogger malu rasanya mengakui, apa yang sudah saya lakukan. Sedikit kebisaan menulis, saya coba kontribusikan bagi obyek wisata di daerah saya. Kebetulan domisili saya di Tangerang Selatan, potensi yang saya ketahui saya tuangkan dalam bentuk tulisan.

Sembilan Situ/ Danau yang dimiliki Tangerang Selatan, saya melihat sebagai potensi wisata. Meski kini beberapa Situ terancam punah, tak boleh mengabaikan keberadaan Situ yang bisa diangkat. Pemanfaatan Situ dan pemeliharaan, musti dimaksimalkan agar berdaya guna. Beberapa Situ kondisinya sudah memprihatinkan, perlu turun tangan semua pihak menyelamatkan. Pengurukan Situ atau pendangkalan Situ yang terjadi, perlu dikabarkan ke tengah masyarakat. Agar Pemkot selaku pembuat kebijakkan, merasa tersentil dan merasa diawasi rakyat.

Heboh jebolnya tanggul di Situ Gintung, pada tahun 2009 mendapat sorotan media. Pasca peristiwa yang menalan korban jiwa, membawa hikmah dan berkah. Kini Situ Gintung tampil semakin cantik, namanya juga semakin dikenal lebih luas. "Pekerjaan Rumah" selanjutnya, secara agresif mengangkat potensi Situ. Agar menarik perhatian mayarakat, untuk datang dan berkunjung.

[caption id="attachment_388601" align="aligncenter" width="640" caption="Situ Bungur (dokpri)"]

14204220011250250494
14204220011250250494
[/caption]

Beberapa kegiatan yang menyedot perhatian, pernah diselenggarakan di sekitar Situ. Sebuah acara musik disiarkan live televisi, pernah diselenggarakan beberapa hari di area Situ. Event pameran Pemkot Tangsel diadakan, membuat nama Situ semakin terangkat. Upaya upaya yang sudah dan sedang dilakukan, musti terus dijaga dan dipelihara. Peran individu (baca masyarakat) sangat penting, terus bersinergi dengan Pemerintah setempat.

*****

Maka tak perlu banyak pertimbangan untuk beraksi, bagi lingkungan dan negri tercinta. Potensi keindahan dan kekayaan alam Indonesia, bagai emas permata yang harus digali dan dimunculkan. Siapapun kita tak peduli latar belakang pendidikan,usia dan profesi apapun, bisa memberi kontribusi (meskipun) kecil. Tak usah berpikir untuk berbuat yang terlalu tinggi, atau ingin mengubah keadaan dalam skala besar. Karena semua yang besar dan menakjubkan, tentu dimulai dari yang kecil dan sederhana.

Gandeng tangan dan kerjasama setiap individu, menjadi dasar memperkokoh pertahanan. Kalau dari elemen masyarakat yang paling bawah sudah teguh, tinggal mengkoordinasikan dengan instansi terkait (baca pemerintah). Peran serta setiap individu dalam masyarakat, mutlak diperlukan kehadirannya. Kalau bukan kita, siapa lagi yang peduli. (salam)

VIDEO PILIHAN