Politik Pilihan

Menjadi Generasi Pengganti

7 Desember 2017   21:38 Diperbarui: 7 Desember 2017   21:53 514 0 0

Akhir-akhir ini rakyat Indonesia disuguhi lakon anak manusia di atas pentas politik, terutama pada saat pilkada, pileg, juga pilpres. Mereka berlomba-lomba mendemonstrasikan sosok sebagai pemimpin ideal yang layak dan pantas dipilih oleh rakyat. Inilah panggung drama politik negeri ini. 

Mulai dari pencitraan seorang pemimpin yang dekat dengan rakyatnya, tegas dalam bersikap, serta cerdas dalam berpikir dan bertindak. Semuanya ideal. Semua bicara peduli rakyat. Benarkah demikian? Hanya Allah dan dirinya yang tahu.

Namun, jika kita melihat ke belakang, nampaknya gambaran itu hanya menjadi mimpi-mimpi yang berbuah janji. Gambaran negeri yang sejahtera di bawah pemimpin ideal seperti di atas hanya menjadi angan-angan. Nyatanya, di negeri ini banyak pemimpin (leader) yang tak mempunyai kemampuan memimpin. Betapa banyak pejabat di negeri ini, tapi banyak juga yang yang gagal.

Sederet jari tak kan cukup untuk menghitung tentang banyaknya berapa banyak leader yang tumbang dan berjatuhan. Saya, Anda, dan kita tentu mudah menyebutkannya. Tapi, saat harus menunjuk dimana sang pejabat yang negarawan, jari dan lidah ini seolah kelu. Karena memang sulit mengidentifikasinya.

Saat ini, bangsa yang kita cintai dan banggakan ini berharap banyak lahirnya pemimpin yang punya jiwa leadership (kepemimpinan). Satu abad lalu kita jumpai dalam deretan sejarah emas negeri ini tentang sosok leader yang punya leadership, disana ada Diponogoro, Cut Nyak Dien, dll. Dalam suasana rebut kemerdekaan, juga ada Soekarno dan Bung Hatta.

Asa harus tetap ditegakkan walau hampir roboh "mencium" bumi. Kelak dengan segenap keyakinan akan lahir dan dilahirkan pemimpin yang punya kemampuan untuk memimpin dalam bingkai moralitas yang tercerahkan oleh nilai-nilai ilahiyah. Inilah kelak yang akan menjadi generasi pengganti. Wallahu'alam bi shawab.