Mohon tunggu...
ASH
ASH Mohon Tunggu... Founder Sang Penggagas; Penulis Buku Powerful Life; Seorang Pecinta Literasi; Bisa dihubungi di agilseptiyanhabib@gmail.com

Berbisik Dalam Sunyi, Bersuara Dalam Senyap, dan Mengubah...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Jijiknya Melihat Kasus Inses dan Kejahatan Seksual Keluarga Dekat

23 Juli 2020   10:11 Diperbarui: 23 Juli 2020   19:12 106 11 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jijiknya Melihat Kasus Inses dan Kejahatan Seksual Keluarga Dekat
Ilustrasi gambar: tirto.id / Getty Images / iStockphoto

Seorang ibu dan anak laki-lakinya diamankan oleh warga dan aparat kepolisian pasca ketahuan menjalin hubungan terlarang. Ironisnya, hubungan tersebut diketahui oleh putri dan saudara perempuan tersangka yang mengaku syok terhadap peristiwa hubungan seks sedarah (inses) tersebut. 

Merunut beberapa waktu ke belakang, seorang ABG diamankan pasca diketahui membuang janin hasil hubungan terlarangnya dengan sang adik yang masih ingusan. Di sisi lain, ada juga ayah kandung yang dengan tega menjadikan putrinya budak syahwat. 

Dengan disertai berbagai ancaman, anak yang semestinya mereka jaga dan lindungi itu justru dieksploitasi secara seksual dengan cara yang jauh dari kata manusiawi. 

Kasus-kasus serupa sepertinya juga masih banyak terjadi di luar sana. Bahkan dalam beberapa waktu terakhir khususnya dimasa pandemi ketika banyak orang "terpaksa" lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, kejahatan "berbau" seksual mengalami peningkatan yang cukup besar.

Faktor teknologi khususnya maraknya peredaran gawai atau gadget di masyarakat disinyalir menjadi pemicu begitu mudahnya konten berbau pornografi tersebar. 

Parahnya hal itu terjadi tanpa pandang bulu, mereka yang berstatus satu keluarga sekalipun turut menerima efek buruk dari kondisi ini. Sesama anggota keluarga yang semestinya lebih "disiplin" menjaga etika moral justru berbuat sesuatu yang jauh dari hal itu. 

Fungsi keluarga sebagai tempat bersemainya sebuah generasi sekarang mengalami degradasi yang memerihkan. Ironis. Tragis. Sulit membayangkan generasi penerus akan bertumbuh dengan layak apabila di lingkungan keluarganya saja masih "mempraktikkan" cara hidup yang jauh dari kata bermartabat.

Sejak dulu memang urusan terkait hubungan syahwat seksual memang masih menjadi sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Bahkan antara orang tua dan anak sekalipun. Sehingga menjadi sebuah kekhawatiran tersendiri kala perilaku seksual sebagian kalangan justru menjadikan anggota keluarga mereka sebagai obyek pelampiasan. 

Sepertinya sudah hilang rasa untuk membedakan siapa keluarga sendiri dan siapa yang bukan terkait dengan urusan seksualitas ini. Mereka yang terdekat adalah sasaran termudah untuk dieksploitasi. Moral menjadi urusan belakangan, memenuhi hasrat nafsu lebih diutamakan. Sungguh jijik melihatnya.

Entah mengapa situasi semacam ini semakin menggejala di lingkungan masyarakat kita yang notabene memiliki latar belakang budaya timur dan beragama yang kuat. 

Tidak ada satupun agama di Indonesia yang mengajarkan adanya hubungan seks sedarah apalagi kejahatan seksual terhadap kerabat dekat. Terkecuali memang semua nilai mulia yang ada itu telah dicampakkan oleh sebagian masyarakat kita. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x