Mukhtaruddin Yakob
Mukhtaruddin Yakob Pekerja Media

Saya seorang pekerja Pers untuk sebuah media televisi. Gemar menulis dan suka diskusi

Selanjutnya

Tutup

Hijau

Ruang Terbuka Hijau, Solusi Gelombang Panas

14 November 2017   14:30 Diperbarui: 14 November 2017   14:37 443 0 1
Ruang Terbuka Hijau, Solusi Gelombang Panas
15802566-167534860392378-7561075923567509504-n-5a0a9b0f63b248484673d864.jpg

Fenomena urban  yang mengejar  modernisasi telah menyebabkan pengalihan lahan.   Lahan kosong yang sebelumnya bertaburan tanaman dan pepohonan berubah menjadi hutan beton yang penuh permukiman. Kebutuhan tempat tinggal menjadi alasan alih fungsi lahan. Lahan pertanian dan perkebunan menjadi tempat tinggal manusia dengan segenap polah dan tingkahnya.

Kawasan kota memang menjadi pemicu urbanisasi  warga desa memilih tinggal dan mencari rezeki di kota. Infrasruktur dan akses menjadi dalih penduduk desa pindah ke kota. Bukan hanya karena mudah dan  cepat mendapatkan  sesuatu. Roda perekonomian yang berputar cepat memicu kaum pedesaan   memilih kawasan perkotaan.  Akibatnya, lahan dan infrastruktur menjadi tantangan.

Lahan perkotaan yang sempit diperparah dengan  sesaknya permukiman baru di beberapa kawasan. Daerah perbatasan yang sebelumnya menjadi kawasan penyangga menjelma jadi permukiman baru dengan beragam coraknya. Perumahan dan pertokoan pun saling berlomba tumbuh di kawasan penyangga. Lahan daerah penyangga berubah fungsi menjadi permukiman tanpa mempertimbangkan efek alih fungsi lahan. Banyaknya pengalihan lahan hijau menjadi lahan beton satu dari penyebab gelombang panas. Bencana gelombang panas yang melanda India Mei 2015 menewaskan ribuan warga satu dari degradasi  atau penuruna kualitas lingkungan.

Sebagaimana dikutip dari www.kompas.com, gelombang akibat dari Gelombang Rossby.Cuaca ekstrem ini merupakan dampak dari tertahannya fenomena Gelombang Rossby. Gelombang massa udara di atmosfer ini bergerak melingkar di wilayah kutub hingga subtropis. Pergerakannya ke arah timur tanpa putus bak "ban berjalan". Jika pergerakannya terganggu, akan muncul cuaca ekstrem. Itulah yang terjadi saat ini di India berupa gelombang panas. Kondisi sebaliknya berupa cuaca dingin yang ekstrem dapat terjadi di belahan bumi lain saat musim dingin, seperti yang terjadi di Eropa pada tahun 2010.

Baru-baru ini, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO/World Meteorology Organization) seperti yang dikutip oleh BBC Magazine-Detik.com mengeluarkan data yang menunjukkan bahwa dalam kurun waktu lima tahun (2011-2015) merupakan tahun-tahun terpanas sepanjang catatan sejarah untuk semua benua, kecuali Benua Afrika.

Tata Ruang

Untuk mengantisipasi ledakan urbanisasi yang mendorong naiknya suhu bumi, pemerintah menciptakan tata ruang. Tata ruang yang dituangkan dalam regulasi atau peraturaran daerah seperti qanun pun kadang tak berjalan mulus. Akibatnya perencanaan dengan realitasi di lapangan bertolak belakang.

Ruang terbuka hijau (RTH) satu dari  rencana tata ruang. Lahan  sisa dibiarkan bebas bangunan agar dapat ditanami pepohonan dan tempat bermain. Sebagaimana dikutip dari https://sim.ciptakarya.pu.go.id/p2khGreen Open Space  adalah area atau jalur dalam kota/wilayah yang penggunaannya bersifat terbuka. Dikatakan 'hijau' karena RTH menjadi tempat tumbuh tanaman---baik secara alamiah ataupun yang sengaja ditanami. RTH memiliki banyak manfaat antara lain:

Fungsi ekologi.RTH merupakan 'paru-paru' kota atau wilayah. Tumbuhan dan tanaman hijau dapat menyerap kadar karbondioksida (CO2), menambah oksigen, menurunkan suhu dengan keteduhan dan kesejukan tanaman, menjadi area resapan air, serta meredam kebisingan.

Ruang tempat warga dapat bersilaturahmi dan berekreasi. Anak-anak mendapatkan ruang untuk bermain, sehingga tidak terlalu banyak menghabiskan waktu di depan televisi atau video game. Masyarakat dapat berjalan kaki, berolahraga, dan melakukan aktivitas lainnya.

Fungsi estetis. Kehadiran RTH memperindah pemukiman, komplek perumahan, perkantoran, sekolah, mall, dan lain-lain. Bayangkan suasana kantor yang 'kering', sekolah yang panas, perumahan yang gersang, mall yang hanya dipenuhi tembok dan tanaman artifisial. Bandingkan dengan kantor, sekolah, perumahan, dan mall yang menghijau. Bukan saja hati dan perasaan jadi adem. Kepala pun bisa diajak berpikir lebih jernih dan kreatif.

RTH dalam tata kota memiliki fungsi planologi.RTH dapat menjadi pembatas antara satu ruang dengan ruang lainnya yang berbeda peruntukannya.

RTH memenuhi fungsi pendidikan.RTH menjadi ruang tempat satwa dan tanaman yang bisa dijadikan sarana belajar. Kalau anak-anak juga dilibatkan dalam pengelolaan RTH,mereka juga akan mendapat pelajaran soft skill yang penting dan mungkin tak bisa didapatkan di bangku sekolah: belajar berorganisasi dan menghayati nilai-nilai luhur dari upaya menjaga kelestarian lingkungan. Ini bekal yang penting bagi mereka sebagai generasi penerus di masa depan, jadi mengapa sekarang?

RTH juga punya fungsi ekonomis.Jenis-jenis tanaman tertentu punya nilai jual dan nilai konsumsi yang lumayan. Bunga, buah-buahan, kayu-kayuan. Apabila ditata dengan baik, RTH bukan saja menjadi lokasi wisata yang strategis, RTH juga menghasilkan nilai ekonomi bagi pengelolanya. Oleh karena itu, keberadaan RTH dapat menyejahterakan masyarakat di sekitarnya.

Dengan sekian banyak manfaatnya, bisa kita pahami mengapa keberadaan RTH menjadi sangat penting dalam perencanaan wilayah. Tanpa RTH, sebuah kawasan akan mengalami banyak kerugian.

Peran Warga

Mewujudkan RTH bukan hanya tanggungjawab pemerintah. Warga kota atau desa pun bisa menciptakan sendiri RTH dengan menata pembangunan yang berpeluang adanya RTH. Meskipun lahan sempat RTH dalam kondisi terkecil pun bisa diwujudkan. Membangun taman terbatas yang ditanami beberap pohon produktif paling tidak akan membantu diri sendiri dan Indonesia sedikit terhambat gelombang panas. Maka, saat bergerak menciptakan RTH di rumah masing dengan menanam pohon.