Fandi Sido
Fandi Sido swasta/hobi

Humaniora dan Fiksiana mestinya dua hal yang bergumul, bercinta, dan kawin. | @FandiSido

Selanjutnya

Tutup

Muda

Marty Natalegawa Memegang Diplomasi Indonesia

8 Desember 2010   15:13 Diperbarui: 26 Juni 2015   10:54 2760 0 1
Marty Natalegawa Memegang Diplomasi Indonesia
1291818317868865370

[caption id="attachment_76885" align="alignright" width="266" caption="Marty Natalegawa, Tokoh Utama diplomasi Indonesia/news.xinhuanet.com"][/caption] Marty Natalegawa. Begitu publik mengenalnya sebagai seorang diplomat handal dan terbukti dipercaya oleh negara dalam hal hubungan luar negeri bangsa kita yang bebas aktif. Kini, kemerdekaan diplomasi Indonesia dipercayakan padanya tatkala ia ditunjuk menjadi Menteri Luar Negeri pada periode pemerintahan SBY jilid II. Terkenal dengan kelihaiannya mengendalikan komunikasi bahkan di saat genting membuat SBY meliriknya sebagai calon terkuat Menteri Luar Negeri menggantikan Dr. Hasan Wirajuda. Ini disebut-sebut merupakan cita-citanya yang terwujud dan merupakan puncak karirnya sebagai seorang Doktor hubungan luar negeri setelah mengalami proses pembelajaran yang panjang dalam jalur diplomasi internasional. Dalam situs Ensiklopedi Tokoh Indonesia, disebutkan bahwa ia adalah diplomat termuda yang pernah dimiliki Indonesia. Bukti-bukti kemampuannya menggunakan pemikiran yang idealis sekaligus tepat guna dalam menyikapi setiap isu internasional sudah diakui dunia bahkan hingga Washington. Di PBB, kiprah Dr. Raden Marty Muliana Natalegawa, M.Phil, B.Sc, cukup menonjol. Salah satu sikapnya (mewakili Indonesia) yang cukup menonjol tatkala dia satu-satunya yang bersikap abstain ketika Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa sepakat menjatuhkan sanksi baru bagi Iran, terkait dengan masalah sengketa atom. Resolusi DK No. 1803 itu diambil lewat voting di Markas Besar PBB, New York, Selasa 4 Maret 2008 (WIB). Dari 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB, 14 negara menyetujui, hanya Indonesia satu-satunya yang bersikap abstain. Marty Natalegawa menjelaskan alasan dia mengacungkan tangan menunjukkan sikap Indonesia: “Tujuan dari strategi resolusi sebelumnya sudah tercapai. Iran telah bekerjasama dengan Badan Energi Atom Internasional IAEA. Pada titik ini, pemberian sanksi baru bukanlah langkah terbaik.“ Keberanian bersikap abstain dan kepiawaian berdiplomasi membuat dirinya pantas diacungi jempol, bukan oleh bangsa Indonesia saja, melainkan juga para diplomat dunia. Hal itu terbukti tatkala pada saat hampir bersamaan, 28 Februari 2008, Marty (Indonesia) terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Komite Khusus PBB untuk Dekolonisasi periode 2008. (situs tokohindonesia.com) Dalam sambutannya, Dubes Marty mengatakan, Indonesia sangat terhormat dengan kepercayaan yang diberikan masyarakat internasional melalui pemilihannya sebagai Ketua Komite Khusus Dekolonisasi secara aklamasi itu. Menurut Marty, kesediaan Indonesia untuk menerima mandat sebagai ketua komite ini merupakan salah satu perwujudan pelaksanaan lebih lanjut dari semangat Dasasila Bandung Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955. Sebagaimana diketahui, sebelum menjabat sebagai Menlu, Marty dipercayakan sebagai juru bicara Departemen Luar Negeri RI. Pada 11 November 2005 hingga  5 September 2007 ia dipercaya sebagai duta besar Indonesia untuk Inggris dan dikenal sebagai Duta Besar termuda, apalagi di pos penting yang terdiri atas Inggris, AS, dan Jepang kala itu. Pembuktian demi pembuktian membuat publik internasional dan pemerintah semakin yakin akan kemampuannya. Kepercayaan semakin tinggi diberikan oleh negara kepadanya, dengan mengangkatnya menjadi Wakil Tetap Republik Indonesia (RI) untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sejak 5 September 2007. Dia mengoptimalkan peran Indonesia di PBB dengan jabatan itu. Pada bulan November 2007, Marty mendapat kepercayaan penting sebagai Presiden Dewan Keamaan PBB. Marty Natalegawa nampaknya memang seorang visioner. Penampilan kumis tipis, kacamata ala Habibie serta sikap tegap membuatnya fit dalam balutan sebagai orang yang bisa bergaul di semua benua. Kemampuannya menguasai sedikitnya 3 bahasa Internasional dan memahami esensi jembatan dunia timur dan barat membuatnya bisa diterima di mana saja. Saat pada suatu kesempatan (8/12) diwawancarai oleh TVRI di sela-sela persiapan Bali Democracy Forum, ia mengatakan bahwa sikap Indonesia terkait campur tangan AS dan Cina pada krisis Semenanjung Korea sangat jelas, yaitu Indonesia memahami perannya sebagai jembatan diplomasi kedua belah pihak tanpa kecenderungan ke salah satu pihak manapun. Indonesia selalu percaya pada diplomasi yang bersifat bebas dan terbuka, artinya kita akan terus mengikuti perkembangan dinamika yang ada dengan tetap aware dengan kemungkinan terburuk. Ia juga mengiyakan pernyataan yang pernah dilontarkan oleh Dubes RI untuk AS, Dinno Pati Djalal bahwa Indonesia adalah negara bebas yang tidak punya musuh satupun, dan ini bisa dimanfaatkan sebagai kekuatan diplomasi yang kuat sekaligus netral dan punya presisi. Paling tidak, masa depan dilpomasi Indonesia sudah mulai menemui titik terang di saat dunia memandang Indonesia adalah mitra yang penting dalam jalur diplomasi internasional. Dalam kunjungannya ke Indonesia November silam Presiden AS Barack Obama juga mengatakan hal senada, bahwa AS dan Indonesia akan menjalin kerjasama komprehensif di berbagai bidang, termasuk pemberantasan KKN, peningkatan pendidikan, dan terorisme. Beberapa pihak berspekulasi bahwa Menlu Marty Natalegawa akan mampu memperbaiki arah dan visi internasional Bangsa Indonesia sekaligus menegaskan sikap RI terhadap beberapa isu yang saat ini bergulir. Dengan tandem Dinno Pati Djalal di AS, maka dianggap masa depan hubungan luar negeri RI akan semakin kuat, tidak secara ekonomi, namun juga politik. *** Boleh dibilang, latar belakang Marty membuatnya menjadi seperti sekarang ini. Ia sudah mulai mengecap dunia internasional saat duduk sebagai siswa setingkat SMP di  Singapore International School, Singapura, 1974, sebelum pindah ke SMP, Ellesmere College, Inggris, 1978. Kemudian dia masuk SMA, Concord College, Inggris, 1981. Setelah itu meraih gelar BSc, Homour, in International Relations, London School of Economics and Political Science, University of London, 1984 dan Master of Philosophy in International Relations, Corpus Christi College, Cambridge University, 1985. Jadi sejak sekolah menengah pertama hingga menamatkan S2, Marty selalu bersekolah di Inggris. Gelar doktornya (Doctor oh Philosophy in International Relations) diraih di Australian National University, 1993. Dari kecil, dia memang bercita-cita menggumuli dan berkarir di bidang hubungan internasional. Maka setelah menyelesaikan studi dan kembali ke Indonesia, dia pun langsung merapat ke Departemen Luar Negeri. Dia memulai karir sebagai Staf Badan Litbang, Deplu, 1986-1990. Ia mengaku saat itu ia mengalami cultural shock melihat banyaknya persoalan dan perbincangan yang selalu dianggap susah. Namun ia memilih menyesuaikan diri, bukan melebur. Dia bertekad harus punya prinsip dasar kalau melihat satu lingkungan yang tidak benar, harus berani mengoreksi. Dia bertekad harus berani mencoba mengubah, yang dimulai dari diri sendiri. Dia memberi misal, sikap birokrat yang menutup diri, minta dilayani, yang sudah begitu mengakar dalam sistem birokrasi kita. Harus diubah, dan kalau ingin berubah, harus mulai dari diri sendiri. Prinsip ini selalu ditularkan kepada rekan dan staf di lingkungan kerjanya. Kalau sedang sidang, kadang dia minta teman membacakan kertas posisi. Pengalaman seperti ini, menurutnya, penting karena pengalaman tidak tergantung usia.

"Ada yang sudah senior, tetapi kalau tidak pernah belajar ya begitu-begitu saja." katanya pada suatu kesempatan.

Isterinya, Sranya Bamrungphong juga dikenal berasal dari keluarga diplomat. Namun, perjalanan karirnya dalam setahun terakhir sedikit diuji. Kasus perselisihan antara Indonesia dan Malaysia terkait penangkapan 3 Pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan RI oleh Polisi Di Raja Malaysia Agustus lalu sempat menjadi salah satu tugas beratnya sebagai Menlu yang baru menjabat. Saat itu, di hadapan Anggota DPR RI ia dinilai melakukan diplomasi yang sangat lemah dan cenderung mempertontonkan ketidaktegasan negara kita dalam melawan Malaysia. Dicecar oleh fraksi DPR, ia berpendapat bahwa hal itu memang adalah pertemuan tingkat menteri (joint ministerial level)  antara Kemenlu RI dan Menteri Luar Negeri Malaysia, namun ada baiknya presiden sendiri yang menghadiri dan memimpinnya. Akhirnya, muncul opini publik yang mengatakan bahwa Kemenlu kita tidak menunjukkan sikap diplomasi Indonesia yang "katanya" kuat. *** Walau demikian, sejauh ini posisi Indonesia dalam percaturan hubungan internasional dunia semakin baik dan selalu menjadi perhatian. Semakin seringnya diadakan forum dan pertemuan tingkat internasional di Indonesia menunjukkan perubahan awareness dunia terhadap RI. Kepercayaan organisasi internasional semisal World Bank terhadap tokoh tanah air juga tidak bisa dipungkiri menjadi perhatian Menteri Luar Negeri sebagai pemegang tanggung jawab urusan diplomasi luar negeri Bangsa kita. Yang jelas, Marty Natalegawa sudah mempatrikan dirinya sebagai Dubes dan Menlu termuda hingga saat ini. Dengan sikapnya yang santun, berjiwa muda nan dinamis, ini akan menjadi obat optimistik bagi publik tanah air dalam turut menjaga kestabilan dunia internasional. [caption id="attachment_76901" align="alignleft" width="300" caption="bersama Menlu Tiongkok, Yang Jiechi (3/11/10)"]

12918215091309215696
12918215091309215696
[/caption] *** Nama: Dr Marty Natalegawa Nama Lengkap: Raden Mohammad Marty Muliana Natalegawa Lahir: Bandung, 22 Maret 1963 Agama: Islam Isteri: Sranya Bamrungphong Anak: - Raden Siti Annisa Nadia Natalegawa - Raden Mohammad Anantha Prasetya Natalegawa - Raden Mohammad Andreyka Ariif Natalegawa Jabatan: - Menteri Luar Negeri RI, 2009-sekarang - Wakil Tetap RI untuk PBB, 2007- 2009 - Duta Besar RI untuk Inggris, 2005-2007 [caption id="attachment_76902" align="alignleft" width="300" caption="bersama Menlu Swedia, Carl Bildt (10/11/09)"]
12918216121413939858
12918216121413939858
[/caption] Pendidikan: - SD, Kris Jakarta, 1974 - SMP, Singapore International School, Singapura, 1974 - SMP, Ellesmere College, Inggris, 1978 - SMA, Concord College, Inggris, 1981 - BSc, Homour, in International Relations, London School of Economics and Political Science, University of London, 1984 - Master of Philosophy in International Relations, Corpus Christi College, Cambridge University, 1985 - Doctor oh Philosophy in International Relations, Australian National University, 1993 Pengalaman Kerja: - Staf Badan Litbang, 1986-1990 - Staf/Kasubbid Politik II PTRI New York, 1994-1997 - Kepala Bidang Politik II, Perwakilan Tetap RI pada PBB, New York, 1997-1999 - Kepala Subdirektorat Organisasi Internasional, 2000-2001 - Direktur Organisasi Internasional, Deplu, 2001-2002 - Kepala Biro Administrasi/Juru Bicara Deplu, 2002-2004 - Direktur Jenderal Kerjasama ASEAN/Juru Bicara Deplu, 2003-2005 - Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Inggris, 2005-2007 - Wakil Tetap Republik Indonesia (RI) untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 2007-sekarang - Ketua Komite Khusus PBB untuk Dekolonisasi periode 2008 [caption id="attachment_76903" align="alignleft" width="300" caption="bersama Menlu AS, Hillary Clinton (pertemuan kerjasama komprehensif AS-Indonesia,17/10/10)"]
12918217301501585663
12918217301501585663
[/caption] [caption id="attachment_76904" align="aligncenter" width="300" caption="Marty dan Isterinya"]
1291821954580859682
1291821954580859682
[/caption] Sumber: http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/m/marty-natalegawa/index.shtml http://www.wartanews.com/read/News/2449361a-6109-43c1-b0f8-402c78e92d88/Marty-Natalegawa-Batu-Sandungan-Buat-Indonesia