Mohon tunggu...
Afriantoni Al Falembani
Afriantoni Al Falembani Mohon Tunggu... Dosen dan Aktivis

Menulis dengan hati dalam bidang pendidikan, politik, sosial, fiksi, filsafat dan humaniora. Salam Sukses Selalu.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Tata Kelola Pendidikan Nasional dalam Bingkai New Normal Perspektif Kelokalan

15 Juni 2021   08:38 Diperbarui: 15 Juni 2021   09:04 99 2 0 Mohon Tunggu...

Rumusan Rekomendasi Webinar Pendidikan Nasional dengan tema : "Tata Kelola Pendidikan Nasional dalam Bingkai New Normal Perspektif Kelokalan" di Universitas Bina Darma Palembang, Sabtu, 13 Juni 2020 dengan sistem online melalui zoom meeting

 PENGANTAR

 Pada saat ini dunia internasional dilanda penyebaran Virus Corona Diease 19 (Covid-19) atau pandemik Covid-19. Dalam bidang Pendidikan dampaknya sangat signifikan, sehingga UNICEF, WHO dan IFRC dalam Covid-19 Prevention and Control in Schools (Maret, 2020) menyebut bahwa ketika situasi persebaran virus semakin cepat maka sekolah harus ditutup dan proses pendidikan dilakukan melalui pembelajaran online dengan menggunakan berbagai media. Berdasarkan data UNESCO (2020) menyebut 1,5 miliar siswa dan 63 juta guru di tingkatan sekolah dasar hingga menengah di 191 negara yang terdampak pandemi Covid-19.

Dunia Pendidikan di Indonesia mendapat perhatian serius di masa penyebaran pandemik Covid-19. Kondisi pandemi Covid-19 ini mengakibatkan perubahan yang luar biasa, termasuk bidang pendidikan. Apabila sebelum dilanda pandemik metode pengajaran yang digunakan hanya sebatas tatap muka dan terkadang diselingi penugasan secara online, kini, pergeseran besar terjadi, pendidikan tidak hanya dilaksanakan di sebuah ruang bersama bernama kelas, tapi juga dilakukan di ruang tanpa batas bernama ruang digital.

Sampai sekarang bangsa Indonesia belum usai menghadapi pandemik covid-19 dan berpengaruh dalam sistem Pendidikan nasional secara luas. Mencermati kondisi ini, sesunggunya telah terjadi perubahan mendasar di dalam pendidikan global. 

Beberapa alasan, antara lain: Pertama, mengubah cara mendidik jutaan orang. Kedua, solusi baru untuk pendidikan yang dapat membawa inovasi yang sangat dibutuhkan. Ketiga, pendefinisian ulang peran pendidik. Keempat, adanya kesenjangan digital menyebabkan pergeseran baru dalam pendekatan pendidikan dan dapat memperluas kesenjangaan. Kelima, mengajarkan pentingnya keterampilan hidup di masa yang akan dating, dan Keenam, membuka lebih luas peran teknologi dalam menunjang pendidikan. Intinya bahwa seluruh jenjang pendidikan 'dipaksa' bertransformasi untuk beradaptasi di situasi pandemic Covid-19.

Perubahan proses pembelajaran di era pandemik masih mencari formulasi baik level nasional dan kelokalan agar Pendidikan dapat tetap bertahan: pergantian cara belajar dan mengajar, hingga proses ujian akhir pun semua berganti. Diketahui bahwa dalam proses pembelajaran di sekolah dan perguruan tinggi mengalami perubahan dan penyesuaian diri dengan kondisi dengan cepat. 

Model yang bakal berkembang dalam dunia pendidikan ke depan berubah model belajar baru, misalnya: online schooling, home learning, and online system learning yang bisa dipilih untuk proses belajar yang aman, dan nyaman. Berbagai aplikasi media pembelajaran pun sudah tersedia, baik pemerintah maupun swasta. Pihak swasta pun menyuguhkan bimbingan belajar online seperti ruang guru, Zenius, Klassku, Kahoot, dan lainnya.

Model ini bukan hanya pada masa pandemi covid19, melainkan memang platform baru model belajar baru yang bisa dipilih. Yang kesemuanya mengandalkan media komunikasi belajar online. Persoalan yang masih belum menyentuh adalah bagaimana daerah dalam menyambut penerapan Pendidikan dalam persepektif kelokalan yang juga harus memperhatikan infrastruktur internet yang saat ini masih sangat terbatas setiap wilayah.

Pendidikan butuh sebuah kurikulum yang merupakan perencanaan untuk memperbaiki seperangkat pembelajaran agar seseorang menjadi terdidik. Kurikulum adalah rekonstruksi dari pengetahuan dan pengalaman secara sistematik yang dikembangkan sekolah atau perguruan tinggi agar dapat meningkatkan pengetahuan dan pengalaman siswanya. Untuk mengembangkan suatu kurikulum setidaknya harus ada 3 alasan. Pertama, manusia dan misi kehidupan. Konsep tersebut berkaitan dengan manusia sebagai makhluk Tuhan, memiliki fitrah mencari kebenaran, kebaikan, keindahan serta saling menghargai dan beradab. 

Kedua, perkembangan Ilmu Teknologi dan Seni serta perubahan sosial yang dapat mengubah gaya hidup dan menciptakan perubahan tatanan kehidupan global. Ketiga pengalaman empirik dimana fokus utama menyasar pada keluhan berbagai pihak, seperti banyaknya jumlah mata kuliah atau mata pelajaran, padatnya jam belajar, serta perlunya penetapan kompetensi lulusan yang sesuai dengan tuntutan perkembangan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN