Mohon tunggu...
Afifah Nailal Husna
Afifah Nailal Husna Mohon Tunggu... Pelajar Sekolah - Pelajar

" Memulai perubahan dengan menulis"

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Batik Kaltim, Si Kain Bercorak Penuh Pesona

26 Juni 2021   16:58 Diperbarui: 29 Juni 2021   16:08 570
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Kunjungan wisata terasa kurang lengkap tanpa oleh-oleh, baik untuk keluarga maupun kerabat dekat. Kebanyakan penjual menyediakan berbagai kuliner, pakaian, souvenir dll. Salah satunya kain batik yang banyak diminati. Tak hanya di Indonesia, tapi juga mancanegara.

Menururt Lokadata.id, kata batik berasal dari Bahasa Jawa yaitu ambat (menulis) dan tik ( membuat titik).  Batik merupakan proses penggambaran motif pada kain menggunakan lilin (malam) yang dipanaskan dan diteteskan pada kain dengan menggunakan canting. Sehingga kata batik lebih mengacu pada prosesnya, bukan kainnya.

Menurut pendataan dari Bandung Fe Institute dan Sobat Budaya, jumlah motif batik di Indonesia mencapai sekitar 5.894 motif. Mulai dari daerah Aceh sampai Papua, salah satunya batik Kaltim yang berasal dari Provinsi Kalimantan Timur. Beberapa diantaranya terbuat dari sutra, semi sutra, serat sutra, serat nanas, katun, dan tekstil tenun dobby/ ulap doyo. Para penggemar tekstil lebih menyukai jenis bahan sutra karena sifatnya yang lembut dan nyaman dipakai, sayangnya harganya cukup tinggi.

Batik Kaltim biasanya memiliki warna yang terang, mencolok, dan seringkali menggunakan gradasi warna jingga, hijau, merah, merah muda dan merah jambu, berbeda dengan mayoritas batik jawa yang memiliki ciri warna kalem dan anggun. Sedangkan pada corak motifnya, biasanya cenderung melingkar / meluk-liuk dan didominasi oleh budaya Dayak. Misalnya pada motif batik Dayak yang memiliki corak berkaitan dengan aktivitas suku Dayak, motif batik Mandau yang menjadi simbol senjata khas suku Dayak, dan motif batik Shaho yang dikembangkan dari berbagai ukiran dan lukisan suku Dayak.

Selain itu, ada juga motif  batik Batang Garing, yang menggambarkan sumber kehidupan, motif  batik Burung Enggau yang menggambarkan fauna khas daerah Kalimantan Timur, batik Empiek, batik Jumputan, batik Bayam Raja, batik Pakis Anggrek, batik Kembang Kenanga, batik Kambang Tampuk Manggis, batik Daun Jaruju, batik Naga Balimbur, dan lainnya.

Sebagai salah satu ikon dari Benua Etam, kita patut bangga akan ciri khas budaya yang memiliki banyak pesona. Meski sekilas hanya terlihat ragam motif dan warna, batik Kaltim mempunyai daya tarik yang lebih dari sekedar kain. Setiap ukiran dan corak motifnya memiliki kandungan makna serta pesan-pesan tertentu yang diwariskan secara turun temurun.

Batik Kaltim merupakan salah satu jenis batik yang banyak diminati, baik masyarakat Indonesia maupun masyarakat mancanegara. Diantaranya beberapa negara di Timur Tengah seperti Mesir, Syiria, Nigeria dan Turki yang memiliki ketertarikan terhadap kemeja bermotif sarung Samarinda dan batik sutra halus khas Kaltim.  Sayangnya, harganya masih cukup tinggi sehingga masih kurang mampu bersaing dengan produk negara lain.

Dalam beberapa perhelatan/ pertemuan nasional, batik Kaltim selalu digunakan oleh para perwakilan dari instansi, ormas, organisasi profesi yang berasal dari Kalimantan Timur. Batik Kaltim juga digunakan masyarakat Kalimantan Timur dalam interior rumah (gorden, taplak meja, sarung bantal, dll), acara adat, acara pertemuan, pernikahan, dsb.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi UKM (Disperindagkop dan UKM) Kaltim, H. Mohammad Djailani menyatakan bahwa batik Kaltim pernah digunakan sebagai salah satu dari 5 bahan dekorasi di sejumlah ruangan di Istana Negara Jakarta pada HUT Kemerdekaan ke-68 Republik Indonesia.

Sebagai masyarakat Indonesia, kita patut melestarikan dan memelihara batik Kaltim. Tak hanya sekedar mengaku bangga dan suka, namun juga turut memberikan apresiasi dan berpartisipasi dalam menjaga kebudayaan kita. Dalam hal ini, pemerintah menerapkan beberapa kebijakan terkait pelestarian batik. Salah satunya menetapkan aturan pemakaian seragam batik bagi pegawai Pemprov Kaltim yang awalnya setiap 1 hari dalam sepekan menjadi 5 hari dalam sepekan.

Beberapa perlombaan seperti Lomba Busana Kerja Batik Kaltim pada tahun 2015  dan Lomba Kreasi Batik  kaltim pada tahun 2016 juga diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan minat dan kecintaan anak terhadap penggunaan Batik. Kerajinan lokal dari daerah Kalimantan Timur juga ikut ditampilkan dalam beberapa pameran guna memperkenalkan budaya di daerah Kalimantan Timur. Salah satunya Pameran HKG PKK ke-47 tahun 2019 di  Padang, Sumatera Barat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun