Advertorial
Advertorial

Akun resmi Advertorial Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi highlight

Meikarta Digadang Menjadi Kebanggaan Nasional

13 Oktober 2017   15:18 Diperbarui: 13 Oktober 2017   15:38 951 0 0
Meikarta Digadang Menjadi Kebanggaan Nasional
Presiden Direktur PT Lippo Cikarang Tbk Toto Bartholomeus bersama dengan Presiden Lippo Group Theo L Sambuaga memberikan penjelasan master plan kompleks apartemen Meikarta kepada Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI (Watimpres) Suharso Monoarfa | Sumber: SentraMedia

Mega proyek Meikarta yang akan dibangun di kawasan Cikarang dinilai menjadi langkah tepat untuk keberlangsungan masyarakat di masa mendatang. Dengan berdirinya Meikarta, pendapatan daerah dapat meningkat dan lapangan kerja terbuka lebar bagi masyarakat Indonesia.

"Pada akhirnya, pembangunan ini dapat meningkatkan pendapatan daerah, sekaligus meringankan beban pemerintah. Jadi itu ya kalau dilihat dari sisi lingkungan. Belum lagi penduduk sekitar akan mendapat  lapangan pekerjaan," kata Suharso Monoarfa, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (12/10).

Menurut Suharso, langkah Lippo patut menjadi contoh bagi pengusaha properti di seluruh wilayah Indonesia. Ia berharap, hal serupa bisa diikuti oleh perusahaan lain.

"Dalam pemahaman saya, Meikarta  merupakan proyek yang cukup kolosal dan bisa memberi catatan tersendiri bagi kita sebagai suatu bangsa. Betapa bangganya kita jika memang seluruh perencanaan yang disiapkan bisa terealisasi," kata Surya Paloh, pengusaha nasional.

Suryo Paloh saat berkunjung ke Meikarta | Sumber: SentraMedia
Suryo Paloh saat berkunjung ke Meikarta | Sumber: SentraMedia

Surya mengaku telah memberikan saran dan pesan kepada CEO Lippo Group, James Riyadi, untuk menjaga fokus dalam menyelesaikan tiap tahapan Meikarta. Dalam perbincangannya dengan Surya, James mengatakan bahwa ada sekitar 70.000 penyerapan tenaga kerja di kawasan Meikarta, termasuk dengan pekerja konstruksi.

Harga hunian yang dijual di Meikarta seharga Rp 6,7 juta per meter persegi tersebut disebut dianggap telah selaras dengan nawacita Presiden Joko Widodo untuk memberikan rumah hunian rumah dengan harga murah kepada masyarakat.

 "Ini bagus sekali, ada sekitar 40 persen atau 100 ribu unit dari 250 ribu unit dijual dengan harga subsidi Rp6,7 juta per meter, bayangkan negara saja menjual Rp11 juta, ada Rp8,9 juta paling murah," jelas Surya Paloh.

Suharsono juga melihat masih banyak birokrasi yang mempersulit upaya pengusaha properti dalam membangun hunian dan pusat bisnis.

"Dalam pertemuan saya dengan pengusaha di berbagai tempat, keinginan mereka hanya satu, yakni tidak dipersulit dengan aturan yang tidak masuk akal. Saya harap ucapan saya dipahami oleh pengambil keputusan," katanya.