Mohon tunggu...
Aditya Nuryuslam
Aditya Nuryuslam Mohon Tunggu... Auditor - Menikmati dan Mensyukuri Ciptaan Ilahi

Menjaga asa untuk senantiasa semangat berikhtiar mengadu nasib di belantara Megapolitan Ibukota Jakarta

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Artikel Utama

Penanganan Stunting Jangan Setengah Setengah, Pilih Program yang Tepat Sasaran

28 November 2023   17:09 Diperbarui: 30 November 2023   10:54 748
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
diskominfo.kaltaraprov.go.id

Penanganan stunting adalah salah satu target dari 4 target utama Pemerintahan Jokowi pada periode ke 2 saat ini. Selain target penurunan kemiskinan ekstrim, penurunan tingkat inflasi dan peningkatan nvestasi, penanganan stanting adalah sebuah kerja besar pemerintah dalam menangani gizi buruk dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

Pencanangan penanganan stunting bukan hanya digerakkan oleh Pemerintah Pusat saja, namun juga membutuhkan sinergi dan kolaborasi dengan Pemerintah Daerah. Sehingga target penurunan stunting dari 2022 ke 2024 dapat dioptimalkan dengan menurunkan prevalensi stunting 3,8 persen per tahun, sehingga target angka 14% di tahun 2024 dapat tercapai.

Sebagaimana dilansir dalam website Ditjen Kekayaan Negara menyebutkan bahwa penyebab stunting menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ada dua, yakni faktor lingkungan dan genetik.

Lingkungan adalah aspek penting yang masih dapat diintervensi sehingga perawakan pendek atau stunting dapat diatasi. Faktor lingkungan yang berperan dalam menyebabkan perawakan pendek antara lain status gizi ibu, pola pemberian makan kepada anak, kebersihan lingkungan, dan angka kejadian infeksi pada anak. Selain disebabkan oleh lingkungan, stunting dapat disebabkan oleh faktor genetik dan hormonal. Namun sebagian besar stunting disebabkan oleh kekurangan gizi.

Kementerian Kesehatan sebagai motor penggerak sekaligus koordinator utama penanganan stunting nasional ini setidaknya telah mengupayakan tiga cara diantaranya adalah kepada remaja putri yaitu pemberian TTD atau Tablet Tambah Darah kepada remaja putri setiap minggu, peningkatan aktivitas fisik berolahraga dan gerakan hidup sehat dengan konsumsi makanan bergizi yang seimbang.

Cara yang kedua adalah pada segmentasi ibu hamil dengan pemberian TTD, pemeriksaan kehamilan dan pemberian makanan tambahan kepada ibu hamil. dan cara ketiga adalah dengan pemberian makanan tambahan berupa protein hewani kepada anak-anak usia 6-24 bulan.

Hal di atas seharusnya dapat dijadikan replikasi bagi kegiatan penanganan stunting di tiap tiap daerah. Namun demikian, tidak selamanya contoh yang baik akan ditindaklanjuti dengan yang baik di masing-masing daerah.

Misalnya, sebagaimana dilansir Tribunnews pada tanggal 14 November 2023, dimana anak-anak yang menderita stunting di Kota Depok, Jawa Barat, hanya mendapat makanan tambahan nasi dan sayur sop, padahal, anggaran yang dialokasikan yaitu Rp 18.000 per orang.

Dari situ menjadikan kita semua tersadar bahwa besarnya anggaran yang sudah ditetapkan, kadangkala dalam pelaksanaan di lapangan masih jauh dari yang diharapkan.

Belum lagi kita bicara stunting tentang ketidaktepatan penggunaan anggaran, sebagai disampaikan Presiden Joko Widodo yang dilansir harian Republika pada tanggal 14 Juni 2023 yang menyebutkan bahwa dari total dana Rp 10 miliar yang dianggarkan untuk program stunting, Jokowi menyebut hanya sebanyak Rp 2 miliar yang dimanfaatkan secara konkret.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun