Mohon tunggu...
Aditya Nuryuslam
Aditya Nuryuslam Mohon Tunggu... Menikmati dan Mensyukuri Ciptaan Ilahi

Sosok jawa tulen yang berikhtiar mengadu nasib di belantara Megapolitan Jakarta

Selanjutnya

Tutup

Balap Pilihan

Bung Valentino Rossi ....... Sudahlah

23 November 2020   11:48 Diperbarui: 23 November 2020   21:47 125 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bung Valentino Rossi ....... Sudahlah
https://www.timesindonesia.co.id/read/news/303598/terpapar-covid19-valentino-rossi-saya-sedih-dan-marah

Pak Tua .. sudahlah
Engkau sudah terlihat lelah oh ya …
Pak Tua sudahlah …
Kami mampu untuk bekerja oh ya …
Pak Tua …
O-ho …

Sepenggal bait lagu elpamas ini sepertinya cocok untuk jadi narasi nasehat bagi Valentino Rossi saat ini. Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan bangga atas prestasi luar biasa yang ditorehkan Valentino Rossi di dunia Motor Grandprix sejak tahun 1996 (kelas 125cc), menurut hemat penulis sudah tiba masanya untuk pensiun. Usia yang sudah tidak muda lagi menjadi alasan utama bagi The Doctor agar mulai undur diri dari dunia balap MotoGP. Rossi bukanlah dewa ataupun manusia super, dia sama dengan kita semua yang jiwa raganya juga akan mengalami penurunan kualitas ketika sudah melewati masa kondisi optimal pertumbuhan.

Memang tidak bisa kita pungkiri, prestasi yang dia ukir semenjak pertama kali terjun di dunia balap motor dunia tahun 1996 sangat menakjubkan, dimana dia bersama tim pabrikan Aprilia hanya butuh 2 (dua) musim untuk menjadi Juara di kelas Motor Grandprix kelas 125cc pada tahun 1997. Setahun berikutnya yaitu di tahun 1998 bersama tim pabrikan Aprilia, Valentino Rossi naik kelas ke Moto2 atau Motor Grandprix kelas 250cc, dan ditahun pertama ini The Doctor langsung bisa menyabet RunnerUp Moto2, dan puncaknya di tahun 1998, Valentino Rossi mencatatkan namanya menjadi kampiun di kelas Moto2.

Tahun 2000, menjadi awal The Doctor mengadu nasib mencoba peruntungan dan menguji skil nya di kelas paling bergengsi Motor Grandprix yaitu di Kelas 500cc bersama tim pabrikan Honda. Meskipun telah banyak cerita dan kisah buruk karier pembalap Moto2 atau Motor Grandprix 125cc yang awalnya cemerlang (di kelas masing-masing) namun begitu masuk ke kelas “para dewa motor” prestasinya menurun bahkan hancur. Namun tidak demikian dengan Valentino Rossi yang menorehkan prestasi yang hampir sama ketika dia bertarung di kelas-kelas sebelumnya, dimana cukup 2 (dua) musim untuk dapat menggapai prestasi tertinggi di kelas 500cc. Tahun 2001, The Doctor menjadi juara dunia Motor Grandprix kelas 500cc yang kemudian di tahun 2002 berubah menjadi kelas MotoGP.

Kerjasama Valentino Rossi bersama tim pabrikan Honda berlangsung selama 4 tahun, dua musim di Motor Grandprix kelas 500cc dan dua musim di kelas MotoGP, dengan prestasi sekali RunnerUp (tahun 2000) dan 3 kali juara Dunia ( sekali di Motor Grandprix kelas 500cc dan dua kali di kelas MotoGP). Setelah selesai kontrak kerjasamanya dengan tim pabrikan Honda, pengembaraan The Doctor membawanya ke competitor utama honda yaitu Yamaha dan bekerjasama selama 7 musim. Prestasi Rossi bersama Yamaha (fase pertama) bisa dibilang sebagai puncak kariernya dimana dalam 7 musim ini The Doctor mencatatkan prestasi 4 kali juara dunia (2004, 2005, 2008 dan 2009), sekali menjadi RunnerUp (2006) dan dua kali menempati posisi ke tiga (2007 dan 2010).

Rossi terkenal dengan sifatnya yang ambisius dan ingin membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi juara dunia di berbagai tim pabrikan. Tahun 2011 dan 2012 Rossi mencoba peruntungannya di tim pabrikan Ducati, sebuah tim pabrikan yang kebetulan satu tanah air dengannya Italia. Malang tak dapat ditolak, prestasi tak dapat di raih, bersama tim pabrikan Ducati, The Doctor mencacatkan prestasi yang buruk dengan hanya menempati posisi ke 7 dan 6 di akhir kompetisi. Pada tahun itu sebenarnya bisa dibilang karier The Doctor di dunia MotoGP sudah mengalami kemunduran prestasi. Namun demikian The Doctor masih berambisi untuk meraih juara dunia lagi dan berusaha untuk bangkit kembali dengan cara kembali membina kerjasama bersama tim pabrikan Yamaha selama 8 tahun hingga sekarang.

Prestasi Rossi di MotoGP bersama tim pabrikan Yamaha fase kedua ini juga tidak secemerlang seperti kerjasama di fase pertama dimana dalam 8 musim ini Rossi hanya mampu mencatatkan prestasi tertinggi sebagai RunnerUp di 3 musin (2014, 2015, 2016). Selebihnya prestasi The Doctor hanya sekali di posisi ketiga (2018), sekali di posisi ke 4 (2013), sekali di posisi ke 5 (2017), sekali di posisi ke 7 (2019) dan prestasi terburuk selama kariernya di dunia balap adalah terlempar ke posisi 15 (2020). Di musim tahun 2020 ini pun hanya sekali The Doctor mampu meraih podium yaitu di seri MotoGP Andalusia, dan ini menjadi podium ke 199 Rossi selama berkaier di Balap Dunia.

Bagi penulis yang juga penggemar berat Valentino Rossi sangat menyayangkan ke "ngototan" nya untuk bersaing dan bertarung di kelas premium MotoGP di usia yang sudah terlalu tua untuk ukuran pembalap Motor Granprix. Bagi penulis, ini adalah babak akhir yang menyedihkan bagi seorang legenda hidup MotoGP yang terlalu memaksakan diri dalam mengejar prestasi tanpa mempertimbangkan kondisi. Bagaimanapun juga umur dan stamina tidak bisa dilawan proses alamiahnya, untuk itu saran saya buat Bung Valentino Rossi terimalah kondisi ini sebagai sebuah hal yang lumrah dan alamiah, jangan dilawan apalagi dipaksakan yang akan beresiko membawa bencana bagi diri anda. Sudah selayaknya Valentino Rossi undur diri dari gegap gembitanya persaingan para dewa MotoGP dan mengalihkan kemampuan, pengalaman dan semangatnya kepada para rider-rider muda untuk bisa berprestasi lebih dengan menjadi manajer, tim pencari talenta atau sebagai master guru bagi talenta talenta muda. Dan satu lagi isilah waktumu dengan membina keluarga yang harmonis, siapa tahu Valentino Rossi Jr akan lahir dan melanjutkan misi-misimu yang tak sempat kau raih di masa mudamu.

Sebelum semuanya menjadi semakin memburuk ... Bung Valentino Rossi ..... Sudahlah, akhiri semua dengan penuh legowo 

sumber foto : https://www.timesindonesia.co.id/read/news/303598/terpapar-covid19-valentino-rossi-saya-sedih-dan-marah

VIDEO PILIHAN