Mohon tunggu...
aditian wijaya
aditian wijaya Mohon Tunggu... Mencari

pencari keteduhan

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi

Suara Pakde: Mau sampai kapan bahas Al-Maidah dan Ahok?

14 November 2016   09:56 Diperbarui: 14 November 2016   09:56 359 1 1 Mohon Tunggu...

Ndok/Le pusing kepala Pakde, sebulan terakhir kok bisa-bisanya beritanya itu-itu aja, bikin mbosen dan cape hati. Di TV, di internet bahasnya tentang pidato Pakde Ahok dan aksi 4 November terusss, smangat banget, apalagi yang nulis comment nya, lebih semangat lagi. Yang bikin cape Pakde itu ya dampaknya, tiba-tiba semua orang berubah menjadi pengamat dan influencer gitu lho. Ga di kelurahan, di pangkalan ojek, di bis, di pasar pasti ada bahasan mengenai ini. mau yang pro ataupun yang kontra, dua-duanya merasa paling bener, kutip sana kutip sini, benci sana benci sini, puji sana puji sini.

Pakde liat sepertinya yang kontra Pakde Ahok ini semangat banget ngerubah pandangan semua temen Muslimnya yang masih ragu atau  apalagi yang cenderung pilih Pakde Ahok.  Yang Pro Pakde Ahok pun juga ga mau kalah, sibuk cari bahan untuk nangkal argument dari yang kontra Pakde Ahok. Kadang jadi rancu ini itu tentang Pakde Ahoknya atau Al-Maidah 51 nya ya. Weis mau apapun penyebabnya klo begini terus bisa seperti yang Pakde Jokowi bilang “Energi bangsa ini habis jika hanya bahas pertentangan SARA”. Padahal banyak banget yang harus bangsa ini lakukan untuk kejar ketertinggalan.

 Pakde setuju dengan perkataan Pakde Jokowi bahwa kita harus move on dan percayakan sama pak Polisi untuk usut hal ini. Namun di sisi lain Pakde juga meyakini benang kusut ini perlu diurai agar ga makin kusut dan timbul fitnah. Yah seperti yang para pengamat di TV bilang kita harus fokus sama inti persoalannya, jangan melebar. Kali ini Pakde setuju banget sama Pakde Pengamat.

Yang Pakde liat dan denger, inti persoalannya adalah apakah pidato Pakde Ahok di Pulau Seribu merupakan sebuah bentuk penistaan terhadap Al-Quran. Menistakan itu kan artinya adalah merendahkan atau menghinakan, jadi inti persoalannya adalah apakah pidato Pakde Ahok di Pulau Seribu merupakan sebuah bentuk penistaan/perendahan/penghinaan terhadap Al-Quran. Sampai disini kita sepakat ya. Nah hal berikutnya yang perlu juga disepakati sebelum lanjut pembahasannya ialah fokus pada kalimatnya, terlepas dari siapapun yang mengatakannya, mau Pakde Ahok atau Pakde-pakde lainnya, sehingga ini bukan semata-mata karena Pakde Ahok yang ngomong, singkatnya agar objektif.

Bagi yang sepakat, yuk dilanjut bahasannya ya, dalam pidato tersebut terselip kata-kata berikut “Jangan mau dibohongi pakai Surat Al-Maidah ayat 51”. Nah beberapa hari terakhir Pakde liat di sosmed rame banget dengan tagar #tanpapakai, banyak yang bilang artinya jadi beda banget kalau kata pakai dihilangkan (omong-omong transkrip yang Pakde Buni Yani share itu #tanpapakai ya, dan dia dah minta maaf atas kekeliruannya. Mari terima maafnya). Pakde setuju dengan hal tersebut, memang artinya jadi beda, kata “pakai” akan memberi penekanan pada sekelompok muslim yang berbohong bukan menekankan pada surat Al-Maidah/Al-Quran yang berbohong. Semoga sampai point ini semua masih sepakat ya.

Lanjut, namun Pakde ingatkan permasalahannya, sekelompok muslim ini pun mengacunya pada Al-Quran juga lho! Jadi dengan kata lain, dengan memakai kata Pakai atau #tanpakai  ujung-ujungnya juga sekelompok muslim ini mengutip langsung terjemahan text dari surat Al-Maidah lho! “Lho berarti kelompok ini bener donk Pakde?? Berarti memang benar surat Al-Maidah itu telah dinistakan/direndahkan/dihina?” Ndok/Le kalau yang coba diartikan hanya kalimat tersebut, Pakde serahkan ke Polisi saja. Namun bila sebelumnya kalian telah sepakat dengan hal yang dijabarkan oleh Pakde, maka yang dinistakan/direndahkan/dihina dalam kalimat tersebut sebenarnya adalah sekelompok muslim yang menafsirkan surat Al-Maidah ayat 51 sesuai/saklek dengan terjemahan atau teks bahasa Indonesianya. Kelompok muslim ini berpegang bahwa tidak boleh hukumnya mengangkat pemimpin selain muslim. Dan definisi pemimpin disini berlalu umum ya Ndok/Le, jadi bukan hanya terbatas pada Gubernur, namun juga termasuk Pemimpin Perusahaan, Pemerintahan, dan Organisasi, mulai dari tim paling kecil sampai dengan pimpinan puncaknya. “Lalu klo begitu Pakde, apakah salah bila menafsirkan nya seperti itu?” Wallahu a’lam bish shawab, yang pasti mereka pun ada dasarnya.

Ndok/Le, sangat penting untuk kita ketahui juga, ada sekelompok Muslim lainnya yang menafsirkannya secara berbeda. Maka dari itu kita bisa lihat ada banyak contoh saat ini dimana pemimpin non muslim bisa memimpin yang mayoritas Muslim baik itu di Organisasi, Pemerintahan, dan Perusahaan. Lalu apa dasarnya bagi yang menafsirkan ayat ini seperti ini? Umumnya kelompok muslim ini berpegang pada satu atau tiga hal dibawah ini:

  • Selama si Auliya – (bentuk jamak dari kata Wali yang artinya teman dekat/Pelindung/Pemimpin) terbukti memberikan kemashalatan bagi semua umat dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai islam dan atau,
  • Dalam kepemimpinannya si non Muslim harus didampingi oleh seorang Muslim, dan atau
  • Pemimpin disini merupakan bagian dari badan hukum dan bukan manusia Pribadi. Dimana hak dan kewenangannya dibatasi oleh kompetensi dan aturan tertentu.

Tiga point diatas di tafsirkan berdasarkan konteks saat ayat ini diturunkan. Sampai disini jelas ya, bahwa tafsiran terhadap surat Al-Maidah ayat 51 ada lebih dari satu, dan masing –masing kelompok juga mempunyai dasar bagaimana menyimpulkannya.

“Pakde kita masih bingung, sebelumnya Pakde bilang kalau hanya mengartikan kalimat “Jangan mau dibohongi pakai Surat Al-Maidah ayat 51”percayakan pada polisi untuk mengusutnya, tapi ini belum jawab inti masalahnya lho Pakde. Kita skarang mau tanyaapakah pidato Pakde Ahok di Pulau Seribu merupakan sebuah bentuk penistaan/perendahan/penghinaan terhadap Al-Quran? Ndok/Le, Pakde berkeyakinan bila hanya kalimat tersebut yang Pakde Ahok tekankan selama pidato di Pulau Seribu maka Pakde sangat setuju bila Pakde Ahok ini telah menistakan/merendahkan/menghina kelompok islam yang memiliki penafsiran sesuai dengan text Al-Quran, bukan Al-Qurannya. Namun sebagai makhluk yang diberikan akal, maka perlu juga kita cari tau dan nilai sendiri tujuan dan isi pidato Pakde Ahok di Kepulauan Seribu, maka dari itu masing-masing dari kita berkewajiban untuk melihat isi video secara lengkap sebelum berpendapat.

Namun Pakde juga berkeyakinan, bahwa kalimat yang di sisipkan Ahok saat pidato terlepas sadar atau tidak sadar merupakan suatu yang tidak terpuji karena mencampuri urusan umat lain. Bagian dari pidatonya secara langsung telah merendahkan atau meng-underestimate kelompok yang memahami Al-Maidah dengan tafsiran textual dan hal ini sangatlah tidak bijak. Namun seperti yang Pakde Buni Yani lakukan, Pakde Ahok juga telah meminta maaf atas pernyataannya. Bagi Pakde, sudah selesai perkara, tidak perlu di lanjutkan. Kenapa? Karena pada dasarnya hal yang dilakukan oleh Pakde Ahok sebenarnya sama halnya seperti merasa bahwa pemahaman dialah yang paling benar diantara yang lain. Dan perlu di ingat juga bahwa pemahaman Pakde Ahok pun ada dasar tafsirnya juga lho.

Ndok/Le, dari sini yuk kita lakukan otokritik, apakah kita juga pernah melakukan hal yang serupa, merasa memiliki pemahaman yang paling benar dan secara sadar ataupun tidak terucap kalimat yang meremehkan pemahaman kelompok lainnya (baik seagama ataupun berbeda agama). Pahamilah berbeda bukan berarti berlawanan. Kalau semua dianggap berlawanan maka yang ada fitnah dan perpecahan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x