Adi Prasetyo
Adi Prasetyo

An educator, tukang kompor, and education enthusiast.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Ampuni Saya, Bu...

21 Maret 2017   19:45 Diperbarui: 21 Maret 2017   19:50 44 1 1

Blog #5

Alkisah, tersebutlah seorang pemuda beranjak dewasa yang nakalnya naujubilah. Hidupnya mblangsak. Hampir semua hal buruk pernah ia lakoni. Rumah hanya menjadi persinggahan sejenaknya. Keluarga pun ia acuhkan.

 Ibu si pemuda ini tiap pagi selalu membuatkannya segelas kopi manis panas. Yang selalu pula diletakkan di meja kamarnya. Entah apakah nantinya akan ia minum atau tidak, namun setiap pagi kopi manis panas itu selalu tersedia. Hari demi hari berlalu. Kopi manis panas pun selalu tersedia disana. Tanpa tersentuh.

Siapa nyana bahwa secangkir kopi panas itulah penghantar perubahan si pemuda ini. Rupanya sedikit sisi kebaikan masih ada di dalam dirinya.

Suatu hari, seperti biasanya ia pulag pagi hampir menjelang subuh. Tanpa sempat mengganti baju ia langsung tertidur pulas. Ia terbangun ketika matahari sudah tinggi.

Setelah membuka mata ia melihat di mejanya, seperti biasa, secangkir kopi sudah tersedia. Kopi itu sudah mulai dingin. Dan tak seperti biasanya, ia mengambil dan meminumnya sedikit.

Ia kembali terduduk di ranjangnya. Tanpa sadar kopi itu ia minum sampai habis.

Hal itu berlangsung terus selama beberapa hari. Hingga pada suatu hari saat ibunya mengantarkan kopi tersebut ia sudah bangun dari tidurnya.

Ibunya tersenyum sambil meletakkan kopi diatas meja. Tanpa bicara beliau hendak keluar lagi.

Sang pemuda itupun bertanya: “Kenapa bu? Kenapa ibu masih mau membuatkan saya kopi tiap pagi walaupun Ibu tau kalo kopi itu nggak bakalan saya minum?”

Itu adalah pembicaraan pertama mereka setelah sekian lama.

Sang ibu tersenyum dengan sabar.

“Karena hanya dengan membuatkanmu kopi ibu bisa melihatmu tiap pagi nak. Ibu bisa melihatmu walaupun kamu masih tidur. Bisa liat kamu saja ibu sudah seneng.”

Si pemuda itu diam mendengar jawaban ibunya.

Ia tidak menyangka sepenting itulah kehadirannya bagi ibunya. Dalam hati ia berkata. Ampuni saya bu…

Dan dari secangkir kopi tiap pagi itulah akhirnya ia menyatukan kembali kepingan hidupnya yang sempat hancur. Dari secangkir kopi itulah ia mulai bisa membuka diri lagi kepada ibunya. Ia mulai mau berbicara banyak kepada ibunya. Dari secangkir kopi itulah ia menemukan lagi sebuah harapan.

Saya dulu juga pernah bandel. Walaupun nggak sebandel si pemuda diatas. Hehehe. Tapi sebandel bandelnya saya dulu, ibu saya selalu bisa menjinakkan saya. Karena saya tau bahwa restu dan doa beliaulah kunci penentu hidup saya.

Dulu pernah ada seorang guru yang menasehati saya. Beliau menasehati saya tentang utamanya seorang ibu. Terutama doanya. Beliau mewanti wanti saya untuk nggak sekali kali berani melawan apabila ibu saya sudah berkata tidak.

Sepertinya mudah ya? Kenyataannya enggak lo. Hehe.

Bagi yang sudah mengenal saya dengan baik, mereka pasti tau bagaimana pandangan saya tentang restu dan doa seorang ibu. Bahkan mungkin ada diantara orang dekat saya yang pernah saya tegur dengan keras ketika mereka ngecewain ibunya.

Kadang, seorang ibu akan diam saja ketika mengetahui bahwa keputusan kita membuatnya kurang berkenan. Beliau akan tetap mendukung kita kok apapun keputusan kita. Walaupun dengan berat hati. dan berat hatinya beliau inilah yang kadang membuat semua hal seolah menjadi berat. Hidup jauh dari kata tenang. Gelisah sering menghantui.

Nah, Tugas kita lah untuk men decode pesan ibu tersebut. Sudah sinkron kah arah kita dengan doa dan restu beliau?

Bicaralah dari hati ke hati dengan beliau. Kesampingkan dulu semua ego kita. duduklah sebagai seorang anak. Bukan sebagai dirimu yg berjabatan tinggi di kantor. Bukan sebagai dirimu dengan gelar berjibun di belakang namamu. Duduklah selayaknya anak kelas 6 SD yang esok akan menghadapi ujian dan kau perlu meminta restu ibumu.

Duduk dan dengarkan keluh kesah beliau. Biarkan yang harus tersampaikan, tersampaikan. Setidaknya itu akan membuat beliau plong karena sudah bisa berbicang dengan anaknya.

Berbincanglah dengan beliau sekarang juga. Kesampingkan dulu semua sibukmu. Pinggirkan dulu semua keinginanmu mengejar apapun yang sedang kau kejar saat ini.

Jangan sampai semuanya terlambat kawan.

Hal yang tak bisa dibeli oleh uang adalah waktu. Dan hal yang termahal adalah PENYESALAN.

Saya masih inget dulu ketika masih sibuk sibuknya, saya sering nyuekin sms bapak saya. Seringkali telponnya pun saya acuhkan. padahal kala itu beliau hanya ingin mendengar suara saya.

Dan beberapa saat  setelah beliau meninggal, saya sering menatap handphone saya berharap ada sms dari beliau. Bahkan beberapa kali saya masih mencari beliau di rumah karena ingin menanyakan sesuatu tanpa sadar jika beliau sudah tidak ada.

Penyesalan itu mahal kawan. Mahal sekali.

Nah sekarang tunggu apa lagi? Hubungi ibumu dan bicaralah dari hati ke hati.