Mohon tunggu...
supriadi herman
supriadi herman Mohon Tunggu...

Mahasiswa pasca sarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) 2013 sedang mengikuti program Joint degree di kagawa University, Japan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Betapa Sibuknya Mahasiswa Tingkat Empat di Jepang (Sebuah Potret Rapinya Sebuah Sistem Pendidikan)

3 Januari 2016   14:33 Diperbarui: 4 Januari 2016   18:31 0 3 3 Mohon Tunggu...

[caption caption="Mahasiswa Internasional di Kagawa University, Jepang"][/caption]

Jepang Merupakan salah satu negara yang dikenal memiliki sistem pendidikan yang baik. Tahun 2005, Jepang tercatat  sebagai negara dengan angka Drop out (DO) terendah di dunia. Berbeda dengan Indonesia yang masa studi mahasiswanya berkisar antara 3,2 tahun sampai 7 tahun, di Jepang hampir bisa dipastikan mahasiswa yang lulus tepat 4 tahun untuk gelar setara sarjana ada di angka 90%, selebihnya tidak lulus karena DO atau mengikuti sistem pada fakultas tertentu. Tapi sebenarnya tulisan ini tidak fokus pada bahasan "lulus 4 tahun". Tulisan ini hanya sekedar ingin berbagi betapa sibuknya mahasiswa Jepang sepengamatan saya di tahun ke 4 (tahun menjelang kelulusan).

Tahun Ke 4 bagi mahasiswa Jepang (Yon Nen Sei) adalah tahun istimewa. Di tahun ini mereka sudah harus menyelesaikan skripsi mereka sebagai tugas akhir sebelum lulus, kurang lebih sama di indonesia, hanya saja di indonesia ada yang memulai start duluan atau start belakangan. Namun keistimewaan lain yang lebih  adalah kehadiran sebuah desk, meja khusus yang pastinya dimiliki oleh seorang mahasiswa setelah memilih lab di pertengahan tahun ke tiga. Desk ini biasanya ada dalam ruangan yang sama dengan sensei (dosen) atau ruangan yang berdekatan dengan dosen, menurut saya desk ini salah satu faktor terbesar yang membuat mahasiswa  bisa lulus tepat waktu,semua kegiatan di kampus betul-betul terkontrol oleh dosen, konsultasi penelitian pun hampir bisa dilakukan tiap hari jika menemui kesulitan.

Tak hanya sibuk di lab pada tahun ke-empat kesibukan lain yang menyita waktu bagi mahasiswa tingkat empat adalah masa “job hunting”. Masa ini berlangsung sekitar bulan april hingga agustus tiap tahun. Semua mahasiswa menyebar untuk mencari kerja sesuai minat mereka dan menurut salah satu profesor di kagawa University, Prof Shigeyuki Tajima, sekitar 95% mahasiswa pencari kerja sudah terserap tiap tahun, 5 % sisanya harus mencari kerja setelah lulus jika tidak menemukan tempat yang cocok pada masa ini. Sementara mahasiswa yang tertarik untuk melanjutkan studi harus mendaftar lebih awal sebelum masa kelulusan. Menariknya, mahasiswa juga sambil menjalankan penelitian dan aktivitas lab seperti kajian jurnal dan seminar perkembangan studi tiap pekan, kerja part time pun harus tetap jalan, dan lebih dari setengah dari jumlah mahasiswa di Jepang mengambil bagian dalam kerja part time ini.     

Part time job memang bagian yang sangat penting untuk kehidupan mahasiswa Jepang, kalau bisa disetarakan mungkin akan sama dengan pentingnya beasiswa untuk beberapa kalangan mahasiswa di Indonesia, jika di Indonesia beberapa mahasiswa hanya bisa melanjutkan studi dengan beasiswa maka mahasiswa Jepang banyak sekali yang mengaku tak akan mungkin bisa kuliah tanpa part time job. Akses tentang informasi lowongan part time job ini dapat dengan mudah di dapatkan di koperasi atau tempat-tempat lain di kampus dengan upah yang berbeda-beda tiap daerah, lengkap dengan jadwal kerja yang dibutuhkan. Menurut analisa saya pribadi yang sering kali bertemu dengan mahasiswa yang part time job di minimarket, part time job ini juga turut mendukung terciptanya karakter masyarakat Jepang yang selalu tidak sombong dan pandai mengatur waktu. Analoginya sederhana, jika setiap mahasiswa pernah merasakan kerja kecil tanpa gengsi apakah kelak mereka akan menganggap rendah para pekerja kasar yang notabene mereka juga pernah menjalaninya?, ya saya yakin karakter saling menghargai pun turut dihadirkan dari bagian melewati episode part time job, yang berkesan selama menepuh pendidikan ini. Indonesia kapan ya? Semoga ada rancangan yang sedikit demi sedikit yang kita bangun kesana.   

Terlepas dari sibuknya mahasiswa tingkat empat yang harus menyelesaikan semua kewajibannya dengan waktu yang terbatas ini, ada peran seorang dosen yang secara cermat membimbing mahasiswanya, mencari tahu schedule mereke secara detail dan kesibukan-kesibukan lain yang mungkin dijalani mahasiswa di tahun menjelang kelulusan. Akhirnya pemakluman seorang dosen kepada mahasiswa yang tidur di kelas, tidur di desk “yon nen sei” atau bahkan di lab adalah  sebuah bukti betapa tahunya mereka atas kesibukan mahasiswa mereke. Dalam hati saya berdo’a semoga kelak di indonesia dosen-dosen semakin ingin tahu masalah mahasiswanya. Mungkin semua ini hanya akan terwujud jika ada kedekatan antar mahasiswa dan dosen, jika tak ada ruangan khusus untuk mahasiswa duduk fokus mengerjakan skripsi dan sekali-kali menghadap bertemu karena sesuatu kesulitan mungkinkah kiranya para dosen berkenan membagi jadwal kepada mahasiswa tentang kapan mahasiswa bisa bertemu?

Bahan bacaan :

http://www.japantimes.co.jp/news/2012/01/10/reference/student-count-knowledge-sliding/#.VojD17aLTMx