Mohon tunggu...
Adie Sachs
Adie Sachs Mohon Tunggu...

Smart and Handsome and Happy and Succesfull... #Alert #Reveal

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Sampai 300 Nyawa atau 30.000 Rudal Israel?

20 November 2012   07:13 Diperbarui: 24 Juni 2015   21:01 2274 0 2 Mohon Tunggu...

Israel tetaplah Israel. Sejarah Israel telah membentuk sebuah kebijakan nasionalnya yang sangat agresif. Seperti penempatan menara komunikasi militer pada bangunan perumahan hingga mobilisasi media untuk membentuk opini yang memungkinkan negara seperti Amerika memberikan teknologi terbaiknya secara sukarela dan cuma-cuma.

Iron Dome adalah bagian paling menonjol dalam aksi militer kali ini. Mencegat hampir setiap rudal Hamas yang mengancam dan memenuhi tugasnya melindungi pemukiman dari serangan rudal, ini hanya terjadi di Israel.

Sementara suara kritis yang biasa terdengar dari dunia Barat hanya sebatas adu pendapat, dan perekonomian Israel yang kuat mengalir dari situ, ini bukan penghalang utama Israel. Perhatian utama Israel adalah melindungi wilayah mereka dari serangan militer.

Serangan yang sangat tidak bermoral dengan trik teroris atau kombatan yang sama, yang mana telah digunakan melawan Barat/Amerika termsuk Indonesia sangat berhasil (misalnya, menetapkan sasaran militer di antara atau di dalam sasaran-sasaran sipil, bersembunyi di balik perempuan tak berdosa saat mengincar sasaran, ganti pembom bunuh diri dalam wanita ber-burka, berpakaian sipil dan membawa bom dalam mobil, dan sebagainya ), tidak akan berguna melawan Israel.

Tetapi, Israel tetaplah Israel.

Mereka selalu bisa memanfaatkan tetapi mudah juga untuk dijebak. Nafsu agresif mereka telah dimanfaatkan negara yang sama yang pernah menjadi pusat penaklukan bangsa itu.

Hamas hanya pion atau bidak kecil yang bermarkas di Gaza. Penjara raksasa itu dijadikan tempat peluncuran roket Hamas yang berasal dari Iran. Gaza kemudian menjadi pusat opini publik dalam seminggu terakhir. Tujuan serangan Israel yang menghancurkan berbagai macam bentuk bangunan dan berhasil merenggut nyawa anak-anak yang tidak akan pernah merasakan "kegalauan" akil balik.

Hamas hanya lembaga penguji bagi senjata atau rudal Iran untuk mencari kelemahan "perisai rudal" buatan Amerika, Iron Dome.

Nafsu Israel, dengan rumus 1x10 atau 1x100, yang artinya, setiap kematian warga Israel harus dibalas sepuluh nyawa dari pihak lawan dan setiap serangan atau rudal yang ditembakkan ke wilayah Israel harus dibalas seratus rudal ke wilayah asal penyerang.

Itu berarti, 3 nyawa Israel yang tewas, harus berbalas 30 nyawa Hamas. 1000 rudal harus dibalas 30.000 tembakan dari Israel, dengan atau tanpa tambahan nyawa sipil tak berdosa, seperti anak-anak yang tak akan sampai merasakan "kegalauan" akil balik.

Israel tetap punya keterbatasan, dan Iran berhasil memanfaatkan nafsu Israel ini seperti tikus masuk perangkap dengan seonggok ikan dan biji-bijian.

Israel, menyerang siang malam dan dengan kekuatan yang tidak berimbang pada wilayah Hamas yang bertameng sipil. Meluncurkan rudal darat, pesawat tempur, drone hingga helikopter peluncur rudal.
Iran membuat mereka kelelahan, menguras kewaspadaan mereka atau setidaknya menangguhkan rencana serangan Israel atas Iran.

Dan, tentu menguras keuangan Amerika. Ibarat sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui...

Petinggi militer Iran bersama ahli strateginya tentu harus diapresiasi karena menunjukkan kemampuan mereka tanpa harus meluncurkan rudal sendiri. Menggebuk Israel dengan tangan tetap didalam saku.
Strategi perang ala Sun Tzu berlaku disini.

Indonesia sebenarnya agak "tertinggal" tentang masalah Palestina-Israel secara keseluruhan. Kita hanya teriak-teriak dijalanan dengan ancaman merusak fasilitas umum milik kota. Mungkin melempari aparat kepolisian yang sebenarnya saudara kita sendiri. Memaki Pimpinan pemerintah kita yang kita pilih sendiri.

Kita lupa, bahwa ada strategi untuk mendamaikan tanpa harus berbicara langsung pada Benyamin Netanyahu karena kita negara dengan penduduk Muslim terbesar didunia.

Itu bisa kita manfaatkan.

Apa yang saya coba kemukakan di sini adalah bahwa taktik barbar yang digunakan oleh teroris dan atau para pemimpin militer di masa lalu melawan agresi sepihak atas Gaza, terbukti menjadi taktik yang tidak berguna terhadap Israel.

Kecerdasan Israel, hanya bisa ditandingi dengan kecerdikan.

=SachsTM=

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x