Mohon tunggu...
Adia Puja
Adia Puja Mohon Tunggu... Konsultan Kriminal

Penikmat teh juga susu. http://daiwisampad.blogspot.co.id/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Masyarakat Madani dan Produk Kecantikan

29 Mei 2016   14:30 Diperbarui: 29 Mei 2016   14:35 105 1 1 Mohon Tunggu...

Masalah rasialisme sudah sama tuanya dengan sejarah peradaban manusia. Persoalan membeda-bedakan ini seakan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia, lampau, atau kini. Kita tidak bisa menampiknya, sejarah dunia begitu kelam, terutama yang terkait dengan rasialisme. Pembunuhan dan perbudakan atas nama perbedaan ras bukan dipelopori oleh Columbus, bukan juga oleh Hitler. Tetapi, oleh para manusia-manusia sejak mereka mulai memiliki rasa malu untuk telanjang.

Perbudakan atas dasar dasar ras sudah terjadi di Mesir sekira 1400-1200 SM. Di mana, ketika itu, kaum Yahudi (Bani Israil) yang ditaklukan oleh kerajaan Mesir, dipaksa bekerja dan diperbudak oleh bangsa negeri piramida tersebut. Belum lagi, perbudakan manusia berkulit hitam oleh bangsa Eropa. Juga Amandemen Konstitusi Amerika Serikat ke-13 tahun 1865, yang melegalkan perbudakan di Amerika. 

Salah satu kasus terbesar adalah pembantaian suku Indian oleh Columbus ketika menepi di benua Amerika, yang kini masih dikenang melalui film koboi dan Indian. Pembantaian suku pribumi yang dilakukan oleh kulit putih di Amerika pun menjadi inspirasi bagi bangsa Australia yang membantai suku Aborigin, yang notabene penduduk asli di benua kangguru tersebut.

Kasus yang ditimbulkan oleh rasialisme bukan berarti tidak berlaku di jaman modern.  Selama dan setelah Perang Dunia ke-1, terjadi pembantaian terhadap 1 hingga 1,5 juta jiwa penduduk minoritas Armenia oleh Kesultanan Utsmaniyah di kawasan yang kini menjadi Republik Turki. Belum dingin masalah Genosida Armenia, muncul Adolf Hitler dengan antek-anteknya yang melakukan genosida serupa terhadap sekian juta kaum Yahudi. Hal senada dirasakan di Afrika Selatan, di mana politik Apartheid dinilai memberatkan masyarakat kulit hitam.

Masih ingat kasus Ota Benga? Seorang pigmi Mbuti Kongo, yang mendadak terkenal karena dipajang di kebun binatang Bronx di New York, pada tahun 1906. Ota dirantai dan dikandangkan, juga dipertontonkan layaknya seekor kera. Ota Benga sengaja diterbangkan dari negaranya ke negeri Paman Sam ini karena dianggap sebagai salah satu “nenek moyang manusia yang paling tua”, dan sebagai contoh “tahap awal” evolusi manusia. Dirinya menjadi salah satu bahan tontonan ketika anak-anak kulit putih menikmati hari liburnya di kebun binatang. Ketika itu, yang sudah tergolong ke dalam jaman modern, seorang anak disetarakan dengan kera karena warna kulitnya. Kisah Ota Benga diceritakan secara gamblang dalam buku Bencana Kemanusiaan Akibat Darwinisme karya Harun Yahya.

Ota Benga hanyalah secuil contoh kasus mengenai rasialisme. Masih ada jutaan Ota Benga di belahan dunia lainnya, dalam garis waktu yang tidak ditentukan. Justru semakin membesarnya ukuran otak manusia, dan mengenal berbagai ilmu, saat itu pula manusia melakukan rentetan tindakan keji atas dasar perbedaan ras, suku, jenis kelamin, atau agama. Semakin mengenal ilmu dan teknologi, manusia yang seharusnya lebih manusiawi, justru merasa lebih hebat ketimbang manusia lainnya. Hal tersebut secara tidak disadari telah diwariskan kepada anak-cucunya yang pintar dan lucu dengan kulit putihnya. Dan mereka, menamai dirinya sebagai masyarakat madani.

Usia dunia semakin tua. Masyarakat madani berkembang pesat dalam segala hal. Pola pikir, agama, politik, hukum, dan pendidikan moral. Kasus rasialisme kini sudah mendapat perhatian serius dan kecaman berat dari mata hukum dunia. Berangsur, masyarakat kulit putih mulai menerima masyarakat kulit hitam. Masyarakat kulit hitam diklaim mendapatkan haknya sebagai warga dunia. Masyarakat madani paham betul akan definisi toleransi, sehingga tidak ada lagi pengkotak-kotakan dalam masalah ras, agama, hingga warna kulit.

Harapannya memang seperti itu. Namun, seringkali, harapan bertolak belakang dengan realitas. Pada kenyataannya, kacamata masyarakat madani, masih diam-diam melihat perbedaan itu. Masyarakat yang katanya modern dan beradab ini, masih ada yang memandang warna kulit lawan bicaranya. Contoh kecil, masih banyak pemain sepakbola berkulit hitam yang dilempari pisang oleh penonton. Atau, contoh "nyeleneh" dari bentuk rasialisme lainnya, banyak ditemui di film-film Hollywood ber-genre thriller atau horor. Dalam beberapa film seperti itu yang melibatkan warga kulit gelap sebagai tokoh pembantu, seringkali mereka akan mati di tangan pembunuh. Yang selamat justru tokoh kulit putih yang ganteng, atau cantik.

Di Indonesia sendiri, kasus rasialisme bukan tidak ada. Tahun 1998, ketika kisruh lengsernya Suharto, entah berapa banyak warga Tionghoa yang menjadi korban pembunuhan, pemerkosaan, atau sekadar dijarah tokonya. Selain itu, pandangan terhadap suku Papua masih seringkali “miring”. Itu contoh besar. Contoh kecilnya, kami, masyarakat madani masih ada yang memanggil atau mengejek temannya yang berkulit gelap dengan sebutan “negro”.

Contoh lainnya yang luput dan dapat berdampak gawat. Secara tidak sadar, masyarakat madani telah terlibat dalam sistem tindak rasialisme yang dianggap lumrah melalui produk kecantikan. Produk kecantikan yang bisa berupa sabun tubuh, sabun pencuci muka, bedak, atau pelembab (body lotion), dan sebagainya.  Para produsen produk kecantikan yang pintar pastilah tergolong ke dalam masyarakat madani, secara tidak sadar (atau sadar) telah melakukan diskriminasi ras kulit gelap.

Hampir semua iklan produk kecantikan menggunakan tagline, atau jargon, atau moto; “gunakan produk ini, agar kulit anda yang hitam menjadi putih dalam sekian hari”, atau “produk ini dapat membuat Anda menjadi semakin cantik, putih merona”, apapun kalimatnya, namun garis besarnya seperti itu. Dengan adanya tagline dalam iklan-iklan produk kecantikan yang demikian, apakah kemudian masyarakat madani akan tetap mengklaim dirinya mengharamkan rasialisme?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN