Mohon tunggu...
Ade Irma Mulyati
Ade Irma Mulyati Mohon Tunggu... Saya Ade Irma Mulyati, guru di SDN Pakusarakan Kecamatan Ngamprah Kabupaten Bandung Barat Provinsi Jawa Barat

Mau berbagi itu indah karena menabur kebahagiaan, dengan ikhlas memberi semoga menginspirasi.

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Cara Bijak Bagi Pasutri Ketika Memilih Tinggal di Rumah Kontrakan

19 April 2021   01:57 Diperbarui: 19 April 2021   02:13 97 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cara Bijak Bagi Pasutri Ketika Memilih Tinggal di Rumah Kontrakan
dokpri.olahan canva

Aku istri kuat dan siap mengikuti mu, karena kau adalah suamiku. Kemanapun kau pergi aku akan setia mendampingi mu. Itulah komitmen ku seperti yang kita ucapkan saat memulai menempuh hidup bersama. Kau imanku kau pemimpin keluarga dan aku harus taat padamu. 

Ramadhan tahun ini adalah kali pertama kita lalui setelah sebulan lalu kita ikat jalinan cinta. Walau dengan perayaan sederhana hanya mengundang keluarga dekat, akhirnya aku merasa dunia milik kita berdua.

Sebulan setelah pesta kau memutuskan memboyongku ke kota dengan alasan mendekati pekerjaan. Aku mengangguk pelan tanda setuju dengan keputusanmu. Ibuku berurai air mata, tetapi aku tak bisa menyelami maknanya. Entah bahagia atau khawatir dengan keputusanku itu. 

Deru motor membawaku pergi meninggalkan sejuta kenangan yang sengaja dititipkan di kampung halaman. Kenangan lama tak perlu diajak serta. Biarkan saja menghiasi seluruh ruang yang terdalam. 

Kau berbisik pelan di telingaku,"Sayang kita memulai hidup baru. Aku ingin membangun sebuah keluarga dengan kekuatan yang kita miliki. Aku yakin bersama kita akan mampu menangkal hadangan yang menerpa."

Kau membawaku ke sebuah rumah kontrakan berlantai dua dihiasi cat putih dan pagar perak. Aku bahagia apapun kondisinya. Aku tetap mencintaimu. Jangankan tinggal di rumah kontrakan di bedeng pun aku tetap aja setia padamu.

Ternyata tinggal di rumah kontrakan ada seninya. Apalagi aku pasutri. Aku harus siap mental dan fisik. Tetapi aku tidak sendiri bersama suami yang aku cintai itu yang menguatkan. Aku mulai paham  terkait liku tinggal di rumah kontrakan, yakni:

1. Ketika memilih rumah kontrakan, aku sesuaikan dengan penghasilan suami. Apalagi karena aku tak bekerja, tak bisa membantu meringankan beban suami mencari nafkah. Aku sampaikan saran untuk memilih tempat secukupnya. Kan hanya ditempati kami berdua. Belum perlu ruangan yang luas. Cari kontrakan yang sederhana saja. Siapa tahu bisa menabung untuk membeli rumah sendiri.

2. Aku membuat rencana pengaturan keuangan. Walaupun masih berdua aku pikir alangkah baiknya membiasakan diri membuat rencana pengeluaran. Penghasilan dari suami aku atur pengeluarannya untuk: bayar kontrakan, belanja harian, dana kesehatan, bayar listrik dan transpor kerja. Tak lupa aku  menyisihkan 10% dari penghasilan untuk hal yang tak terduga. Aku menyadari, karena suami buruh karyawan swasta maka harus pandai mengatur pengeluaran. Aku selalu berdoa supaya mata ini tidak tergoda dengan sajian di etalase toko  baju yang menyertakan label diskon besar-besaran. Walau menggiurkan, aku mengekang mata agar tidak jelalatan, menggoda untuk belanja barang yang tidak penting. Semua aku lakukan karena memiliki tanggung jawab kelangsungan rumah tangga ke depan

3. Aku memilih rumah sewaan yang bersih, tersedia kecukupan air, listrik, dan aman.

4. Aku berusaha menjalin komunikasi yang baik dengan penghuni yang lain. Aku pun membatasi ngerumpi. Aku hanya berbicara untuk hal yang bermanfaat tanpa berusaha menelisik urusan penghuni sebelah. Istilahnya aku siap memakai kacamata kuda demi kebaikan. Hal ini aku lakukan karena aku sadar   mereka memiliki gaya hidup yang berbeda.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x