Mohon tunggu...
Ade Heryana
Ade Heryana Mohon Tunggu... Dosen

Cuma penulis yang belajar menulis. FB: adeheryana Twitter: @adeheryana Linkedin: adeheryana Email: ade.heryana24@gmail.com Phone: 082227019062

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Teknologi

Bagaimana COVID-19 Menular melalui Droplets?

7 Maret 2021   01:05 Diperbarui: 7 Maret 2021   01:51 32 0 0 Mohon Tunggu...

Hari ini saya membaca salah satu headline di media daring yang cukup ironi. Sebanyak 20 warga Tasikmalaya tertular COVID-19 akibat klaster senam aerobik. Ironi, karena tujuan senam adalah menyehatkan tubuh namun yang didapat malah sebaliknya. 

Tentu saja kita tergelitik, mengapa ini bisa terjadi? Artikel ini tidak akan membahas perilaku masyarakat yang abai terhadap protokol kesehatan. Penulis berupaya menyorotinya pada mekanisme penularan COVID-19 melalui droplets. Untuk menjawab pertanyaan di awal, penulis mencoba menelusuri beberapa jurnal ilmiah pada database ScienceDirect.'

Penularan COVID-19 melalui udara disebabkan percikan air liur dan udara terkontaminasi material virus. Sebuah artikel yang me-review jurnal-jurnal penelitian oleh Jayaweera dkk (2020) menemukan bahwa penularan COVID-19 melalui droplet (percikan air liur) dan aerosol (udara yang mengandung material virus) masih belum dipahami banyak orang, meskipun peneliti menemukan bahwa perilaku menjaga jarak dan memakai masker sudah diterapkan banyak orang di dunia. Dalam artikel yang diterbitkan oleh jurnal Environmental Research volume 188 tersebut, peneliti menganggap penularan COVID-19 melalui udara disebabkan oleh droplet dan/atau aerosol yang berasal dari proses ekspirasi yang lemah maupun keras orang yang terinfeksi virus. Yang menarik berdasarkan studi kasus dari berbagai negara, SARS-CoV-2 (virus penyebab COVID-19) memiliki keunikan dibanding spesies virus sebelumnya yaitu memiliki tingkat bertahan dan hidup di udara lebih lama serta bertahan hidup di udara dalam periode waktu tertentu. Link jurnal: https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0013935120307143   

Orang Tanpa Gejala (OTG) ikut berperan dalam penyebaran dan perkembangan COVID-19. Rahman dkk (2020) telah melakukan review terhadap berbagai jurnal berkaitan dengan pola penularan dan sumber penyebab COVID-19. Hasil penelusuran menunjukkan COVID-19 menular dari manusia ke manusia melalui mulut, udara pernafasan yang terkontaminasi, dan droplet. Droplet yang dihasilkan dari saluran pernafasan merupakan penyebab utama penularan, dan kemungkingan tertular secara vertikal. Link: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2405857220300747

Daya tahan droplet pada ruangan tergantung pada kelembaban relatif dan suhu ruangan. Berapa lama droplet dapat bertahan pada ruangan? Lea-Der Chen pada tahun 2020 membuat model matematik untuk mengestimasi waktu yang dibutuhkan droplet untuk berada di ruangan.  Ternyata jika kelembaban udara < 37%, peningkatan suhu ambien tidak berpengaruh terhadap pengurangan droplet. Ketika kelembaban > 37%, suhu ruangan yang lebih tinggi (30 derajat Celcius) masa hidup droplet lebih lama. Namun studi ini tidak menjawab apakah virus COVID-19 akan aktif kembali dari droplet yang diteliti. Studi ini memberikan implikasi bahwa potensi penularan COVID-19 pada suatu ruangan ditentukan oleh suhu ambien dan kelembaban relatif ruangan. Link: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1438463920305149

Droplet dapat menyebabkan re-infeksi virus COVID-19 pada orang yang dinyatakan sembuh. Jurnal selanjutnya ditulis oleh Shang dkk (2021) pada terbitan Journal of Aerosol Science. Shang dan kawan-kawan meneliti model untuk mengestimasi re-infeksi COVID-19 akibat pengendapan percikan droplet yang terhirup pada area saluran pernafasan tertentu dengan ukuran 1-50 mikrometer.  Dari penelitian ini ternyata ditemukan pengendapan percikan lebih tinggi terjadi di saluran pernafasan atas dibanding bawah. Penularan kembali COVID-19 pada orang yang sembuh mungkin terjadi jika ada kontak erat dengan individu pembawa virus. Droplet berukuran 1-50 mikrometer ini paling banyak berasal dari percikan batuk. Endapan droplet pada wilayah mulut dan laring dengan ukuran > 10 mikrometer berpotensi mudah menularkan COVID-19. Berapa peluang terjadi re-infeksi? Penelitian ini menyimpulkan sekitar 14,9% kemugkinan terjadinya penularan kembali pada orang yang sudah sembuh COVID-19. Klik link berikut untuk membaca detail jurnal: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S002185022100001X.

Bukan hanya menjaga jarak dan memakai masker, untuk mencegah penularan melalui droplet peneliti mengusulkan terapi untuk mengurangi produksi air liur dan droplet. Usulan yang masih berupa dugaan (hipotesis) ini dikemukan oleh MohammadSadeghi dkk (2020) dari Shiraz University Iran. Salah satu kelompok obat yang diusulkan adalah golongan antikolinergik yang efektif dapat mengurangi sekresi saluran pernafasan dan risiko lainnya akibat partikel pernafasan yang dihasilkan. Alternatif obat lain yang dapat dipakai adalah injeksi Botulinum Neurotoksin (BoNT Injection) yang memiliki efek samping lebih rendah dibanding antikolinergik. Penggunaan BoNT injection dapat dilakukan untuk jangka panjang. Namun demikian pemakaian obat ini harus mempertimbangkan potensi interaksi dengan obat-obatan COVID-19 lainnya, serta masih memerlukan uji klinis lanjutan untuk menentukan keamanannya. Link: https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0306987720309956 

Dari berbagai artikel ilmiah dapat diduga bahwa penularan pada klaster senam aerobik yang dilakukan pada ruang tertutup disebabkan oleh droplet atau aerosol baik yang berasal dari Orang Tanpa Gejala (OTG). Ada kemungkinan kelambaban ruangan senam yang tinggi, menyebabkan droplet dapat bertahan lama di dalam ruangan. Yang perlu diperhatikan adalah droplet dapat menyebabkan re-infeksi pada orang yang sembuh COVID-19. Telah diusulkan upaya untuk mengurangi sekresi droplet dengan obat-obat tertentu namun masih dibutuhkan uji klinis lebih lanjut.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x