Mohon tunggu...
Muhammad Sadam
Muhammad Sadam Mohon Tunggu...

I love competitions—the ones that are open, free, and fair for everyone, and I mean, EVERY ONE | Racists, Sexists & Homophobes... STAY AWAY from my page!

Selanjutnya

Tutup

Muda Pilihan

Asniwun Nopa dan Para Pejuang Pendidikan dari Timur

1 Mei 2017   12:54 Diperbarui: 1 Mei 2017   12:54 0 2 3 Mohon Tunggu...
Asniwun Nopa dan Para Pejuang Pendidikan dari Timur
Asniwun Nopa, Koordinator Gerakan Kendari Mengajar (GKM), bersama anak-anak didiknya (foto: Dokumentasi GKM)

Tiga tahun yang lalu The Jakarta Globe mengangkat profil yang sangat inspiratif mengenai sebuah organisasi sosial bernama Gerakan Kendari Mengajar (GKM). Karena sudah cukup jarang berinteraksi dengan teman-teman di kota kelahiran saya, Kendari, saya pun baru mengetahui saat itu juga, bahwa organisasi GKM itu didirikan dan dikoordinasikan oleh salah satu teman masa SMA saya, Asniwun Nopa.

Dengan moto “Mengajar, Mendidik, Menginspirasi”, Gerakan Kendari Mengajar didirikan oleh Asni dan rekan-rekannya, sebagai organisasi non-profit dengan model yang terinspirasi dari Gerakan Indonesia Mengajar (rintisan Pak Anies Baswedan). GKM hadir sebagai elemen sosial yang berusaha mengurangi kesenjangan akses pendidikan yang dialami oleh warga pinggiran Kota Kendari dan daerah-daerah terpencil di sekitarnya.

Dan untuk memperingati momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2017 ini, saya ingin mengajak para pembaca dan kompasianers untuk berkenalan dengan sosok Asni, dan organisasi Gerakan Kendari Mengajar ini. Sebab apa yang Asni lakukan bersama relawan-relawan GKM, membuat mereka sangat layak untuk mendapat julukan, Pejuang Pendidikan Dari Timur. Dan mereka patut mendapatkan apresiasi dari semua pihak.

Anak-Anak Muda Sulawesi Tenggara yang terlibat menjadi relawan GKM (foto: Dokumentasi GKM)
Anak-Anak Muda Sulawesi Tenggara yang terlibat menjadi relawan GKM (foto: Dokumentasi GKM)
Berawal Dari Kepedulian Para Pemuda

Semua berawal dari kesadaran Asni dan teman-temannya sendiri, bahwa sekadar berkata-kata indah dan penuh semangat, tidaklah cukup untuk menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia. Apalagi jika hanya sebatas mengkritisi pemerintah namun tidak mencoba melahirkan solusi. “Diperlukan aksi nyata untuk berbuat” demikian kata Asni.

Dengan semangat filosofis ia mengaku bahwa, “sebagai anak muda kita tidak bisa selalu membangun masa depan untuk generasi muda, akan tetapi kita bisa membangun generasi muda untuk masa depan yang lebih baik.” Dan sentimen positif itu ia wujudkan melalui organisasi GKM, yang diinisiasi melalui sebuah gathering para aktivis mahasiswa Universitas Haluoleo (UHO), dan beberapa komunitas pendidikan di Kendari.

Hasilnya adalah dibentuknya Gerakan Kendari Mengajar secara resmi pada 23 Juni 2013. Kini berstatus sebagai Badan Hukum formal yang bersifat non-profit, GKM hadir untuk membangun generasi muda melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat edukatif dan inspiratif dengan sasaran kegiatan awal adalah anak-anak di wilayah pinggiran Kota Kendari.

Anak-Anak peserta didik GKM (foto: Dokumentasi GKM)
Anak-Anak peserta didik GKM (foto: Dokumentasi GKM)
Melawan Segala Keterbatasan

Sebelum ke lapangan, Asni dan para relawan GKM terlebih dahulu menyiapkan perangkat manajerial organisasi, rencana pengajaran, hingga lokasi dan target demografi yang menjadi sasaran kegiatan mereka. Keterbatasan dukungan finansial dan berbagai sumber daya lainnya, membuat Asni dan kawan-kawannya menjadi lebih kreatif dalam menciptakan sumber pendanaan organisasi, selain dari dana pribadi para relawan GKM.

Akhirnya pada Bulan September 2013, Asni bersama relawan-relawan GKM terjun ke daerah binaan pertama mereka, yakni Puulonggida, sebuah kampung terpencil di area barat Kota Kendari. Terletak di Kelurahan Watulondo, Kecamatan Puwatu, Kampung Puulonggida dihuni oleh lebih dari 40 keluarga dengan pendapatan ekonomi yang relatif sangat rendah.

Meski hanya berjarak 30 menit-perjalanan darat dari pusat Kota Kendari, namun Kampung Puulonggida benar-benar adalah daerah yang terisolasi. Warga sekitar belum mendapatkan akses terhadap listrik ataupun suplai air minum bersih. Meskipun disitu terdapat bangunan sekolah, akan tetapi lokasinya yang terpencil dan infrastruktur desa yang sangat minim, membuat warga sangat kekuarangan tenaga pengajar apalagi pengajar berkualitas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x