Mohon tunggu...
Achmad Saifullah Syahid
Achmad Saifullah Syahid Mohon Tunggu... Penulis

orang-orang cahaya berhimpun di dalam tabung cahaya, tari-menari, di malam yang terang benderang sampai fajar menjelang di cakrawala.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Bimbingan Belajar dan Rendahnya Mutu Pembelajaran Sekolah

27 Januari 2019   07:08 Diperbarui: 28 Januari 2019   16:00 0 8 7 Mohon Tunggu...
Bimbingan Belajar dan Rendahnya Mutu Pembelajaran Sekolah
Ilustrasi: Warta Kota - Tribunnews.com

Menyaksikan murid sekolah dasar zaman sekarang, saya kok merasa kasihan. Mereka rata-rata pulang sekolah antara jam tiga sampai empat sore. Itu pun sudah disambut oleh jadwal les privat: matematika, bahasa Inggris, atau mata pelajaran yang diujikan secara Nasional (UN).

Bahkan orangtua yang peduli dengan masa depan anaknya harus memanggil guru ngaji. Anak lepas dari kegiatan belajar di atas jam sembilan malam. Itu pun belum menghitung waktu yang dibutuhkan anak untuk mengerjakan PR dari sekolah.

Enak zaman saya sekolah dahulu. Masuk sekolah jam tujuh pagi. Paling siang jam satu sudah pulang. Kalau hari Jumat dan Sabtu pulang jam sebelas siang. Kegiatan rapat guru disambut dengan hati bahagia. Pasalnya, sekolah pulang lebih pagi.

Tersedia waktu luang dan cukup lapang untuk bermain layang-layang, mencuri mangga Wak Kaji Kamdi, mancing belut di sungai. Atau pas lagi musim hujan, bisa udan-udan, bermain bola, genjret-genjretan.Mencari jangkrik malam hari adalah saat berpetualang yang menantang. Berburu jangkrik di kebun, sawah, semak-semak kuburan, ditambah cerita horor seekor jangkrik ketika ditangkap ternyata potongan jempol.

Imajinasi bergerak seiring dengan tradisi cerita lisan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Kisah Timun Emas, Sundelbolong, Kasan Kusen, Rantai Dajal adalah dongeng abadi yang melekat di memori sepanjang usia. Beberapa kalangan menyebutnya sastra langgar. Ketika nilai moral, karakter bahkan kesadaran spiritual ditanamkan dengan cara yang manusiawi dan menyenangkan.

Beritafoto.net
Beritafoto.net
Apa yang Kita Harapkan dari Sekolah?

Pertanyaan itu mengusik benak saya setelah menyakikan anak zaman sekarang, terutama yang duduk di bangku Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar lelah hidupnya dihajar les privat ke sana ke mari. Fenomena ini bukan hanya melanda murid sekolah negeri yang uang bulanan mereka tergolong murah bahkan gratis. Para orangtua yang memilih sekolah dasar swasta dan uang masuk tahun pertama atau uang bulanan bisa sebesar biaya kuliah perguruan tinggi, masih mengirim anaknya ke les privat. Mereka harus merogoh dompet untuk membayar biaya bimbingan belajar yang tidak murah.

Persoalan ini bukan terutama berapa biaya les privat atau bimbingan belajar. Mutu pembelajaran yang rendah di sekolah disikapi orangtua secara pragmatis, yakni mengirim anak ke bimbingan belajar atau les privat. Alih-alih menggugat mutu pembelajaran di sekolah, orangtua menjadikan bimbingan belajar sebagai solusi bagi hasil belajar akademik anaknya yang rendah.

Hasrat untuk memuaskan nafsu akademik bagi pembelajaran anak yang gagal dipenuhi sekolah diserahkan kepada guru privat. Pendidikan dan kegiatan belajar direduksi pada taraf simplifikasi keterampilan teknis.

Mengapa orangtua tidak memprotes mutu belajar di sekolah? Menurut hasil survei yang dikutip dalam studi Blane Lewis (2010), peneliti Australian National University, 86% masyarakat Indonesia sudah merasa puas atas praktik layanan pendidikan.

Jika bimbingan belajar sebagai solusi yang memuaskan hasrat akademik dan merasa puas atas praktik layanan pendidikan merupakan fenomena yang dianggap lazim, kita belum bisa berharap banyak terhadap munculnya aksi dari orangtua yang mengkritisi pendidikan.

Orangtua justru dibuat cemas oleh kemampuan akademik anaknya agar diterima di sekolah dasar. Tes kemampuan membaca, menulis dan menghitung saat masuk sekolah dasar mengurung anak TK pada situasi belajar formal layaknya manusia dewasa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN