Achmad Saifullah Syahid
Achmad Saifullah Syahid Guru, Penulis

orang-orang cahaya berhimpun di dalam tabung cahaya, tari-menari, di malam yang terang benderang sampai fajar menjelang di cakrawala.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Gerakan Literasi Khas Desa Mentoro

12 Februari 2018   22:11 Diperbarui: 13 Februari 2018   08:27 433 7 2
Gerakan Literasi Khas Desa Mentoro
Foto: mepnews.id

Beberapa hari lalu saya bertemu Bapak Yusron Aminullah di acara rutin Pengajian Padhangmbulan desa Mentoro Kec. Sumobito Jombang. Beliau meminta agar saya menulis Kata Pengantar untuk buku Kampung Literasi di Mentoro. Buku yang tengah disusun oleh mahasiswa KKN dari STKIP Jombang.

Tentu saja saya tidak kuasa menolaknya, bukan karena kebetulan tema yang diangkat seputar literasi, atau karena saya lumayan aktif mengikuti pengajian yang dihadiri oleh Cak Nun (Emha Ainun Nadjib). Tidak bisa saya tolak permintaan Beliau karena satu keadaan: "iklim literasi" di desa Mentoro menyuguhkan nuansa dan partikel-partikel kesadaran yang cukup dinamis di tengah simbolisme gerakan membaca di tanah air.

Mentoro menampilkan wajah berbeda. Desa di pojok bagian timur kota Jombang itu boleh dibilang cukup terpencil. Akses jalan dari Kecamatan Peterongan menuju desa kelahiran Cak Nun, hari ini memang lumayan nyaman dibanding sekitar tahun 96-an atau pada masa awal pengajian Padhangmbulan dimulai.

Masih melekat di ingatan saya sekitar tahun 95-an, sebelum tahun reformasi, saat menghadiri pengajian Padhangmbulan, susahnya perjalanan menuju desa Mentoro. Jalanan belum diaspal alias masih tanah, bergelombang-gelombang, atau sebagian jalan makadam yang rusak dan jeblok-jeblok.

Ketika musim kemarau perjalanan pada malam hari akan serupa dengan menembus langit yang berkabut dengan debu melayang menghampiri mata. Bisa pula dibayangkan ketika musim penghujan tiba: tidak hati-hati mengendarai motor atau mobil, bersiaplah terpelanting atau ban mobil masuk kubangan.

Mobil tidak bisa jalan. Ban mobil nyangkut di jeglongan tanah yang licin dan dalam. Beberapa warga desa datang menolong sambil menyampaikan beberapa kritikan. "Mestinya tadi Bapak lewat sebelah sini, tidak pas jeglongan ini!"

Walaupun terpencil Mentoro mengabarkan dinamika dan dialektika literasi yang cukup menarik. Sekitar tahun 60-an pemberdayaan melalui gerakan pendidikan, ekonomi, dan budaya telah gayeng berkembang. Potret keadaan desa itu dinarasikan cukup apik dan utuh oleh Cak Nun dalam buku Indonesia Bagian dari Desa Saya.

Asumsi sementara saya, Mentoro telah melangsungkan gerakan "literasi" bahkan jauh sebelum istilah literasi dikenal dan menjadi ngetrend seperti saat ini. Dinamika perjalanan Mentoro terus berlangsung hingga dekade 90-an. Pengajian Padhangmbulan lahir. Dimotori oleh keluarga besar Cak Nun, Padhangmbulan bukan hanya menyuguhkan tema dan dialektika pengajian yang "aneh".

Padhangmbulan yang berjalan istiqamah, tanpa sokongan dana dari pengiklan---kalau meminjam ungkapan Cak Nun: "Pengajian kok mbembet begini!"---karena saking sederhana dan apa adanya, pada perjalanan hingga tahun milenial ini meneguhkan bahwa wacana publik bisa dibangun dengan penuh keadaban dan bermartabat.

Padhangmbulan adalah ibu yang melahirkan Maiyahan. Anak-anak yang tumbuh dan berkembang menjadi Bangbangwetan (Surabaya), Kenduri Cinta (Jakarta), Mocopat Syafaat (Yogyakarta), Gambang Syafaat (Semarang), Juguran Syafaat (Banyumas). Anak-anak yang tidak mungkin saya sebut semua karena cukup banyak jumlah dan ragam kegiatannya.

Gerakan pemberdayaan cara berpikir, cara bersikap, cara memandang, atau pemenuhan sejumlah software hidup lainnya yang menjadi kebutuhan primer manusia. Semua itu dikerjakan tanpa merepotkan diri apakah diakui atau tidak sebagai gerakan literasi, pemberdayaan, pencerahan, atau apapun istilah-istilah kegagahan lainnya.

Saya jadi berpikir keras, tugas menulis pengantar Kampung Literasi Desa Mentoro bukan pekerjaan enteng, kecuali literasi dipahami sebagai literasi yang terkonotasi---literasi yang didefinisikan secara minimalis, misalnya gerakan memberantas buta huruf, kemampuan kognitif untuk membaca dan menulis atau paling jauh kemampuan berbicara secara lisan (oral).

Menulis pengantar gerakan literasi akan tidak seringkas dan sesederhana konotasi literasi yang semakin nge-blur oleh bias-bias. Definisi literasi yang minimalis akan mengabaikan konteks sosial dan budaya Indonesia. Hal itu tak ubahnya merumuskan gajah cukup dengan meraba-raba ekornya, lalu di-swafoto-kan bahwa ekor gajah adalah gajah.

Yang benar-benar saya syukuri, Mentoro dan Padhangmbulan tidak ikut-ikutan latah ber-swafoto, simbol eksistensisme manusia zaman now. []

Jombang, 120218