Mohon tunggu...
Achmad Saifullah Syahid
Achmad Saifullah Syahid Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

orang-orang cahaya berhimpun di dalam tabung cahaya, tari-menari, di malam yang terang benderang sampai fajar menjelang di cakrawala.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Sembunyikan Tagar Kebenaranmu!

2 Juni 2017   01:44 Diperbarui: 2 Juni 2017   01:53 437 5 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sembunyikan Tagar Kebenaranmu!
http://ksp.go.id/saya-indonesia-saya-pancasila/

Soal pondok pesantren adalah gudangnya dagelan, tempatnya joke-joke segar, lumbungnya guyonan yang membuat orang tertawa serius dan terbahak-bahak, akan dirasakan benar oleh mereka yang pernah nyantri. Salah satu pionernya adalah Gus Dur. Konon, saat negera sedang genting dan Gus Dur mengeluarkan dekrit presiden, seorang sahabat bertanya, “Sampean serius Gus mengeluarkan dekrit?” Gus Dur ringan saja menjawab, “Serius, Cak. Iki wes suwi gak ono dekrit.” Maksudnya, sudah lama negara tidak mengeluarkan dekrit.

Hingga kini, santri dan gawagis, bentuk jamak dari gus, tak berhenti memproduk dagelan dan guyonan ala pesantren. Baik dagelan hasil “reproduksi” maupun kejadian-kejadian lucu yang melibatkan kiai dan santri.

“Qul hu ae, Lek!” dan Dialektika Kepemimpinan

Di Jawa Timur, pernah ngetrend dagelan “Qul hu ae, Leek!”. Pemilik “hak cipta” guyonan ini adalah K.H. Anwar Zahid. Ceritanya, seseorang dengan penampilan sangat meyakinkan maju jadi imam shalat. Takbirnya mantab dan fasih. Usai membaca surat Al Fatihah, sang imam membaca penggalan salah satu surat di Al Quran, entah di juz berapa. Bacaannya tersendat, “Wa maa…wa maaa.” Ia lupa kelanjutan ayat. Diulang-ulang tapi tidak segera ingat. Dari belakang, seorang jamaah berteriak, “Qul hu ae leek!” Maksudnya, baca surat Al Ikhlas saja: qul huwallahu ahad

Sebuah otokritik yang segar, renyah, dan membuat kita berkaca diri. Qul hu ae lek merefleksikan pesan hubungan imam dan makmum, toleransi dalam kepemimpinan, sikap tidak kemlinthi dan mbagusi saat menjadi pemimpin, kesanggupan pemimpin memahami dan mengayomi jamaah. Bahkan sikap yang egaliter terlontar melalui usul salah satu jamaah shalat agar membaca surat yang pendek saja.

Guyonan atau sindiran semacam ini tidak bisa ditelan mentah. Misalnya, shalat kok dibuat mainan, dagelan itu sengaja menistakan hubungan hamba dan Tuhan, urusan ibadah mahdloh jangan dipakai guyonan. Baiklah. Segala sesuatu itu ada konteks, nuansa, urutan kontinuasi yang tidak bisa dipenggal atau dicomot dari ruang dan waktu.

Persis dengan pertanyaan, “Apa hukum mengerjakan shalat shubuh?” Pertanyaan ini tidak bisa langsung dijawab: “Wajib!” Presisi dan akurasi jawabannya bergantung pada ruang dan waktu. Kalau jam dua belas siang, mengerjakan shalat shubuh hukumnya haram. Atau haram saat dikerjakan oleh wanita yang sedang haidl. Keputusan hukum wajib mengerjakan shalat shubuh selalu terkait dengan kapan waktunya, siapa yang mengerjakan dan dimana ia melakukan shalat.

Iklim pertengkaran atau klaim intoleransi atau perseteruan benar melawan benar adalah ketika setiap orang menyatakan shalat shubuh adalah wajib, tanpa berpijak pada siapa subyek atau pelakunya, serta tidak menghitung konteks ruang dan waktu. Kebenaran dihadirkan secara telanjang—bagai pisau yang keluar dari sangkurnya. Kebenaranku wajib menjadi kebenaranmu. Tapi, kebenaranmu belum tentu wajib menjadi kebenaranku.

Sembunyikan Tagar Kebenaranmu!

Untuk melerai pertengkaran itu serta mewaspadai ancama terhadap ideologi Pancasila, kita membuat gerakan massal yang menggema di media sosial: #SayaPancasila. Analogi sederhana yang muncul di kepala saya adalah tagar Saya Pancasila sama dengan tagar empat kali empat sama dengan enam belas. Memakai gerakan tagar atau tidak, empat kali empat ya enambelas. Saya, Anda, kita semua yang hidup di bumi Nusantara dimuati oleh kesadaran ideologi Pancasila. Kebenaran bersama yang harus dirawat bersama-sama.

Menggemakan kebenaran tagar 4X4=16 dan semua orang tahu itu, tapi ketika berjual beli, melakukan transaksi proyek, membuat anggaran, menghitung gaji karyawan, hasil 4X4 adalah sesuai kepentingan pribadi dan kelompok atau bergantung saran atasan—tidakkah menistakan kesucian ilmu matematika? Seorang sahabat bertanya sengit, “Mengapa kita tiba-tiba seperti “mualaf” Pancasila!”

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x