Mohon tunggu...
achmad najib ad daroin
achmad najib ad daroin Mohon Tunggu... seng tenang jon

sebisa bisanya, se sempat sempatnya melakukan segala hal yang progresif

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

"Kebuntuan wacana di ruang Kelas" Opini Ringan

3 Agustus 2020   17:20 Diperbarui: 3 Agustus 2020   19:45 46 3 0 Mohon Tunggu...

Media sosial dihebohkan oleh video dan foto gerombolan siswa STM yang ikut turun ke jalanan membantu mahasiswa dalam demo penolakan sejumlah Rancangan Undang-Undang (RUU) di depan Gedung DPR, Selasa (24/9/2019). JAKARTA,KOMPAS.com

Tempat hampir setahun kemarin Bisa kita lihat fenomena- fenomena pelajar STM, SMA  dan sederajat berbondong-bondong ikut turun Kejalan meramaikan panggung demokrasi bersama mahasiswa dari berbagai elemen, Yang menyita perhatian di berbagai kalangan publik.

Yang kita tahu sendiri bahwa memang alasannya tidak bisa kita kongkrit kan namun di sisi lain bisa kita lihat bahwasanya inilah reaksi atas interprestasi mereka terhadap Kebijakan pemerintah yang  timpang Pada saat itu. Turunnya pelajar STM dan sederajat Kejalan pada aksi demo  24 September 2019 secara sederhana bisa kita maknai cukuplah untuk menentang kebijakan kebijakan pemerintah yang timpang.

Jejaring sosial media ramai-ramai berbondong-bondong mencoba meliput semangat para pelajar pada aksi demo. Dan sedikit demi-sedikit dukungan publik timbul di mana-mana, Meskipun ada juga yang menyayangkan hal itu. Namun sebenarnya ketika kita bisa melihat ini adalah optimisme, Di mana akhirnya pelajar-pelajar mulai melek terhadap demokrasi yang selama ini wacana-wacana tersebut terbendung dan terhalang oleh kelas-kelas mereka.

Namun akhirnya kekhawatiran atas kacamata pendidikan kita selama ini mulai timbul karena fenomena ini. memang sah- sah saja pelajar berdemo, itu adalah hak setiap warga di dalam negara demokrasi. namun yang perlu kita perhatikan dan harusnya menjadi Sorotan Ketika apabila mereka bergerak bukan atas dasar mereka sadar akan hak itu. Melainkan hasil dari kecolongan  peranan mereka karena wacana- wacana sudah memuncak sedemikian rupa, yang seharusnya wacana-wacana tersebut berlalu lintas di dalam kelas namun tak pernah terwadahi di dalam sekolah dan tidak pernah hidup di kelas-kelas. Sampai akhirnya wacana-wacana tersebut harus Menerobos batas-batas kelas, berjalan-jalan berteriak di jalanan.


guru besar fakultas  psikologi UGM bernama Prof Koentjoro mengatakan  bahwasannya Fenomena pelajar-pelajar ikut aksi Demonstrasi ini  bukanlah sebuah hal yang baru, Pada tahun 1966 di bawah komando KAPPI (Kesatuan aksi pelajar Indonesi) Para pelajar ikut turun ke jalan menyuarakan Tritura Dalam upaya pelengseran presiden Soekarno.  wajar saja pada tahun itu para pelajar sangat militan ramai-ramai berdemonstrasi karena memang pada waktu itu Pemahaman akan partai sudah masuk ke dalam kampung kampung, sangat berbeda sekali dengan sekarang.

kita coba flashback ke masa lalu atau membaca alur historis pada masa kejayaan Yunani kuno
Di mana para Cendikiawan- Cendikiawan pada masa itu sangat suka berdialektik, berfilsafat dan orasi. salah satunya adalah  Socrates. 

seorang teman berkata bahwa tidak ada salahnya sama sekali untuk mengenal tokoh-tokoh dimasa lalu dan mempelajari ajaran ajaranya, socrates (469 SM - 399 SM) Socrates lahir di Athena, dan merupakan generasi pertama dari tiga ahli filsafat besar dari Yunani selain Plato dan Aristoteles. Dia adalah filsuf dari Yunani yang merupakan salah satu figur paling penting dalam tradisi filosofis Barat. (wilkipedia)

Socrates memang suka melibatkan diri dalam diskusi-diskusi dengan kawan-kawan nya di Athena yang pada akhirnya menjadikan dia sebagai orang terbijak Di Athena. Tentu saja Socrates bisa menjadi seperti itu karena memang Kesehariannya hanya disibukkan dengan berdebat berdiskusi dan lain lain, sedangkan pekerjaan sehari-hari sudah dikerjakan oleh para  budak. karena memang pada waktu itu di Yunani kuno untuk masalah pekerjaan sehari-hari sudah dikerjakan oleh para budak.

pada saat itu Socrates pernah mendirikan sekolah Yang lebih mirip Perkumpulan kecil di bawah pohon. Di Perkumpulan itu, mereka membahas tentang persoalan persoalan hidup manusia, masyarakat dan lain-lain. 

Dalam metode Pengajaran Socrates dia menggunakan metode Dialektis Dengan  mengadu sudut pandang seseorang dengan orang lain. Metode Pengajaran ini tidak bersifat doktrinis atau satu arah, dia juga tidak mengajarkan, akan tetapi lebih kepada menolong seseorang dan mengeluarkan apa yang tersimpan di dalam pikiran atau benaknya. 

Socrates pernah berkata bahwasanya "tanya jawab adalah jalan untuk mendapatkan pengetahuan" itulah awal mula Dialektik. Dialektik berasal dari kata dialog,artinya percakapan atau tanya jawab yang dilakukan dua orang Atau lebih dan juga bisa disebut metode maieutik atau menguraikan. 

dalam mencari kebenaran Socrates tidak berfikir sendiri melainkan dengan tanya jawab setiap kali dengan orang lain. pola pengajarannya sangat dialektis dan dua arah, dimulai dengan sebuah pertanyaan sederhana, mengundang berbagai pikiran dan sudut pandang, menyuguhkan sebuah pertanyaan yang lebih kritis dan menuntun pemikiran pemikiran tersebut menuju sebuah definisi, Definisi di dialektikan lagi menuju sebuah kepahaman.


sekarang coba kita lihat metode pembelajaran sekolah saat ini, rasa-rasanya sangat jauh dari model metode dialektik dua arah seperti Socrates, rata-rata bersifat doktrinis atau satu arah. Seolah-olah susah untuk berdialog atara pelajar dengan gurunya karna ada gap peranan.

dalam metode Dialektikis, wacana-wacana di tampung sedimikian rupa dan tidak ada sekat antara pelajar dan pengajar tetapi lebih kepada pertukaran bermacam-macam pikiran dan wacana tanpa ada batas sekat dan berjalan dengan dua arah.

semestinya kita harus mulai mengerti dan sadar bahwasannya pelajar seharusnya harus sama-sama berperan dalam metode belajar yang kreatif dan  inovatif. tetapi kenyataannya kita melihat seperti ada yang tidak beres di dalam ruang kelas pelajar,  Wacana-wacana tidak tumbuh hingga wacana harus berteriak-teriak di jalanan kota Dan terpaksa berjalan jalan di kelas-kelas sekolah.


VIDEO PILIHAN