Pendidikan

Keprihatinan Pendidikan di Indonesia di Era Kontemporer

17 Mei 2018   00:01 Diperbarui: 17 Mei 2018   00:10 206 0 0

Oleh: Moch. Rodli Adryansyah

Dari beberapa artikel mengenai pendidikan Indonesia saat ini, dapat disimpulkan bahwa kondisi pendidikan di Indonesia masih memprihatinkan. Hal ini terjadi karena fasilitas pendidikan di daerah-daerah, baik sarana maupun prasarana yang kurang mendukung. Selain itu negara ini mungkin lupa, atau terpesona akan pendidikan metode luar (barat). Sehingga tidak diliriknya pendidikan yang mengajarkan akan budaya timur, seperti budi pekerti, etika, sopan santun pada anak negeri ini. Saat ini tidak jarang kita temui siswa yang pandai, tetapi tidak punya tata krama dan etika, atau malah tidak tahu sopan santun. Ketika mutu pendidikan di negara ini ambruk dari tahun sebelumnya, maka guru disalahkan. 

Guru dituntut untuk bekerja semaksimal munkin, sistam 24 jam per minggu pun diberlakukan, katanya demi memenuhi kewajiban guru sebagai pengajar. Bila tidak mencukupi 24 jam per minggu, maka guru yang memiliki tunjangan, tunjangan tidak bisa diambil. Namun sebagian guru dianak tirikan. Surat Keputusan Bersama (SKB) 5 Menteri tentang Distribusi Guru dinilai merugikan guru karena implementasinya akan memangkas persyaratan 24 jam mengajar dan pemecatan ribuan guru honorer. Belum lagi dengan dibelakukan Kurikulum 2013 yang disahkan oleh M. Nuh selaku Menteri Pendidikan, padahal kurikulum tersebut ada guru yang tertindas dengan hilangnya mata pelajaran yang diempu, ditambah masalah kekurangan jam.

Solusi dari masalah di atasadalah pemerintah mengupayakan berbagai hal agar kualitas pendidikan Indonesia bisa berkembang dan maju. Dalam hal ini, pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar 20 persen untuk bidang pendidikan. Pemerintah juga melakukan pemetaan kondisi pendidikan disetiap provinsi di Indonesia. Selain itu pendidikan tidak hanya mengedepankan kecerdasan intelektual tetapi juga kecerdasan moral, spiritual, dan emosi. Pendidikan ini seharusnya didapatkan bukan hanya dari sekolah saja, tetapi peran orang tua, keluarga, masyarakat, dan negara. 

Cerdas yang bagaimana yang akankita bekali kepada generasi yang akan datang, akan juga menentukan nasib keluarga, dan juga negara. Meningkatkan mutu pendidikan tidak hanya itu, namun juga memberikan pelatihan kepada guru sesuai dengan jurusannya, mengawasi mereka dengan ketat, sehingga mereka benar mengajar dengan sepenuh hati dan sesuai penegtahuannya. Para pengambil kebijakan jangan mengubah-ubah kurikulum ke kurikulum yang lain karena ingin menjadi sebagai konseptor dan inspirator, guru yang mengajar jangan hanya bertumpu pada gaji, namun lebih berperan dalam pendidikan, siswa yang belajarpun jangan cuma mengaharap beasiswa miskin tanpa memperhatikan kualitas dam kemampuan dalam menyerap isi pembelajaran. 

Adab dan moral segala elemen sangat berpengaruh dalam meningkatkan mutu pendidikan, sehingga dalam menjalankan amanah bangsa, mereka sama-sama bertanggung jawab demi kemajuan bangsa ini.

Harapan yang ingin disampaikan yaitu berharap pemerintah memperhatikan pendidikan di daerah terpecil dan perbatasan juga, agar para generasi di daerah tersebut tidak kehilangan jati dirinya sebagai generasi Indonesia. Hal yang akan dilakukan sebagai calon pengajar, lebih giat belajar dan introspeksi menjadi orang yang lebih baik dalam melakukan pekerjaan.