Sri Wintala Achmad
Sri Wintala Achmad penulis

SRI WINTALA ACHMAD menulis puisi, cerpen, novel, roman, cerita rakyat dalam bahasa Jawa, Indonesia, dan Inggris. Karya-karyanya dimuat di media masa lokal, nasional, Malaysia, dan Australia; serta diterbitkan dalam berbagai antologi di tingkat daerah dan nasional. Nama kesastrawannya dicatat dalam "Buku Pintar Sastra Indonesia", susunan Pamusuk Eneste (Penerbit Kompas, 2001) dan "Apa dan Siapa Penyair Indonesia" (Yayasan Hari Puisi Indonesia, 2017). Sebagai anggota Dewan Kesenian Cilacap periode 2017-2019. https://indonesianromanticpoetry.blogspot.com/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

(Otobiografi 1) Dari Puisi Radio hingga Sastra Tiga Bahasa

17 April 2018   06:02 Diperbarui: 17 April 2018   08:06 808 2 0
(Otobiografi 1) Dari Puisi Radio hingga Sastra Tiga Bahasa
Foto Yonas Suharyono

Sejak berusia kanak, saya tidak pernah berpikir menjadi penulis, terutama karya sastra, sebagaimana sekarang. Semasih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) Negeri Balecatur, saya lebih tertarik dengan seni lukis. Kemudian saya tinggalkan seni lukis sesudah berkenalan dengan pelajaran ekstrakurikuler teater asuhan Heru Siswanto di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Balecatur.

Waktu itu, saya berpikir bahwa ketertarikan saya dengan teater dimungkinkan darah kesenian Ayah "Amat Dinama" di bidang teater tradisional emprak "Langen Ambiya" yang mengalir di dalam jiwa dan raga saya. Tetapi, itu hanya pikiran naif dari seorang bocah yang belum tumbuh dewasa.

Ketertarikan saya untuk mempelajari teater terus berlanjut sewaktu terdaftar sebagai siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) II Yogyakarta. Di sekolah yang berada di naungan Departemen Agama itu, saya mendapat bimbingan teater dari Poel Syaibani. Guru ekstrakurikuler teater yang sangat familiar, tegas, dan selalu mengajarkan kedisiplinan pada setiap anak didik.

Bermula dari teater, saya selalu menjadi duta sekolah untuk mengkuti lomba baca puisi baik yang diselenggarakan oleh sekolah lain maupun kampus. Dengan seringnya mempelajari puisi dari bebeberapa penyair kondang Indonesia, semisal: WS. Rendra, Chairil Anwar, Piek Ardiyanto Masardi, Sapardi Djoko Damono, Subagya Sastra Wardaya, dll yang akan dijadikan materi lomba; saya mulai tertarik dengan puisi. Bukan sebatas membaca, melainkan menulis puisi gubahan sendiri.

Puisi Radio

Menulis puisi telah menjadi aktivitas rutin saya semenjak duduk di bangku kelas 2 MAN II Yogyakarta (1984). Dari seringnya menulis puisi, timbullah kesadaran saya untuk mempublikasikannya di media massa. Untuk itu, saya mengirimkan puisi ke koran dan majalah. Berulangkali puisi saya kirimkan, berulangkali koran dan majalah tidak memuatnya.  

Berpijak pada fakta di muka, saya berpikir keras untuk mendapatkan media alternatif yang bersedia mempublikasikan puisi saya. Karena waktu itu banyak radio swasta di Yogyakarta, semisal: Retjo Buntung, Angkatan Muda, Arma Sebelas, Persatuan Bantul, Bikima, dan Rasialima menyiarkan acara baca puisi, maka saya mencoba untuk mengirimkan puisi-puisi saya ke salah satu radio. 

Hasilnya positif. Beberapa puisi saya yang lolos seleksi dibacakan (diudarakan/dipublikasikan) untuk pertama kalinya oleh Grill. Seorang pengasuh acara pembacaan puisi di radio Angkatan Muda.

Kurang puas saat puisi dibacakan oleh orang lain, maka saya berusaha untuk membacakan puisi sendiri lewat radio. Karenanya sepulang dari sekolah yang terletak di Ngampilan, saya harus berjalan kaki menuju Radio Retjobuntung di wilayah Jagalan. Mengikuti rekaman baca puisi sebelum disiarkan dalam acara Lembar Sastra dan Budaya asuhan Esti Pritt. 

Hasilnya lebih memuaskan. Karena selain dapat mempelajari sejauh mana capaian kualitas puisi yang saya tulis, saya dapat mengetahui sejauh mana kualitas saya dalam membacakannya. Melalui Radio Retjobuntung itulah, saya dapat belajar secara otodidak tentang puisi.

Selain Radio Retjobuntung, saya mempublikasikan puisi melalui Radio Rasialima. Di bawah asuhan Bambang Sareh Atmadja (Bambang Sutejo), saya tidak hanya membacakan puisi-puisi karya sendiri, namun pula turut mengasuh acara Cakrawala Puisi dan Apresiasi. Berkat acara tersebut, Radio Rasialima yang bekerjasama dengan Kartapustaka kemudian menerbitkan Antolologi Puisi "Pelangi". 

Selain saya, Antologi Puisi "Pelangi" yang terbit pada tahun 1988 itu melibatkan enam penyair muda, yakni: Dwi Atmi Rini Djayanti, Hananto Kusumo, Hotmida Rosmawati Malaow, Petrus J. Prihanto, Singgih S. Sumaryadi, dan Tatang Yudiatmoko. Berdasarkan sejarah awal saya dalam bidang penciptaan puisi ini, maka tidak salah kalau ada seorang yang mengatakan bahwa kepenyairan saya berawal dari radio.

Puisi Koran

Seorang mengatakan bahwa pengalaman terindah bagi setiap penulis karya sastra saat pertama kali karyanya dimuat di media massa cetak (koran). Ada benarnya perkataan itu. Mengingat sewaktu puisi-puisi saya dimuat pertama kali di harian Masa Kini (1988), hati saya berbunga-bunga. Merasa usaha saya untuk terus menulis puisi dan mengirimkannya ke koran-koran selama sekian tahun tidak menjadi sia-sia.

Sungguh! Saya rasakan waktu itu, dunia sastra koran mulai membuka pintunya bagi kedatangan saya yang sekian lama berhelat di dunia sastra radio. Mengingat sejak salah satu media massa (Masakini) memuat puisi-puisi saya, media massa lainnya semisal Berita Nasional (Bernas) kemudian memuatnya. Entah mengapa bisa begitu? Ini adalah misteri yang belum bisa saya pahami sampai sekarang. Berikut salah satu puisi yang saya kirim ke harian Berita Nasional pada tahun 1997 dan baru dimuat pada tahun 1988:

SAJAK LELAKI TUA

 

Duduklah lelaki tua

dan berkata:

 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5