Sri Wintala Achmad
Sri Wintala Achmad penulis

SRI WINTALA ACHMAD menulis puisi, cerpen, novel, roman, cerita rakyat dalam bahasa Jawa, Indonesia, dan Inggris. Karya-karyanya dimuat di media masa lokal, nasional, Malaysia, dan Australia; serta diterbitkan dalam berbagai antologi di tingkat daerah dan nasional. Nama kesastrawannya dicatat dalam "Buku Pintar Sastra Indonesia", susunan Pamusuk Eneste (Penerbit Kompas, 2001) dan "Apa dan Siapa Penyair Indonesia" (Yayasan Hari Puisi Indonesia, 2017). Sebagai anggota Dewan Kesenian Cilacap periode 2017-2019. https://indonesianromanticpoetry.blogspot.com/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Membangun Kepribadian Anak Melalui Sastra

18 Februari 2018   13:10 Diperbarui: 19 Februari 2018   14:27 1289 6 1
Membangun Kepribadian Anak Melalui Sastra
Shutterstock

Di satu sisi, sastra merupakan media manusia untuk mengekspresikan pengalaman empirik, gagasan, atau perasaannya secara kreatif. Di sisi lain, sastra merupakan produk budaya atau sebagai potret peradaban manusia. Dengan demikian, seorang kreator sastra di dalam menciptakan karya-karyanya harus memahami perihal simbol, majas, metafor, serta kaidah-kaidah lain yang merupakan unsur-unsur di dalam membangun nuansa estetik.

Di kala peradaban ditumbalkan guna memenuhi gaya hidup modern, sastra justru berperan di dalam kehidupan manusia baik sebagai pembaca (apresian) maupun kreator. Bagi pembaca (apresian), sastra mampu memberikan kontribusi apresiatif terhadap kandungan nilai-nilai serta suasana rekreatifnya. Suasana yang sangat kontekstual dengan zaman, manakala kebutuhan hidup kian menekan. Hingga manusia terkadang dibuat gila atau bahkan tergoda untuk melakukan bunuh diri.

Bagi kreator, sastra yang berperan sebagai media pendewasaan intelektual dan emosional manusia dapat memberikan kontribusi di dalam menegakkan bangunan kearifan. Suatu bangunan sikap yang tidak berpatron pada dimensi subyektif melainkan obyektif dan universal. Sikap tersebut berpotensi di dalam membangun fondamen peradaban manusia.

Mengenalkan Karya Sastra

Melalui persepsi ini, maka berbagai genre produk sastra, semisal: puisi atau cerpen layak dikenalkan nilai-nilainya baik oleh orang tua maupun pendidik kepada anak-anak. Tentu saja di dalam pengenalan ini tidak bertujuan mutlak untuk menjadikan anak-anak sebagai sastrawan (penyair/cerpenis), melainkan manusia berkepribadian atau berperadaban tinggi.

Di samping pengenalan nilai-nilai di dalam karya sastra, orang tua atau pendidik perlu memerkenalkan proses kreatif literer kepada anak-anak. Andaikata mereka tidak sanggup, para kreator sastra yang seyogianya memiliki kepedulian di dalam menyelamatkan generasi masa depan sangat diharapkan.

Berkat dukungan media massa atau lembaga budaya milik pemerintah dan swasta, para kreator dapat memberikan pelatihan penciptaan karya sastra kepada anak-anak. Kerja pelatihan yang sangat membutuhkan metode khusus. Di mana para kreator tidak memosisikan sebagai guru berjiwa otoriter, melainkan pengasuh bijak yang memberikan pengarahan alternatif kepada anak-anak dengan berbasis pada hasil kreativitas.

Dalam hal ini peran media massa adalah membuka rubrik sastra untuk anak-anak. Suatu rubrik yang diharapkan memuat karya-karya hasil kerja pelatihan sastra. Tetapi redaksi hendaklah melakukan seleksi serta memberikan catatan apresiasi terhadap karya-karya yang dikirimkan. Ini akan bermanfaat bagi anak-anak di dalam meningkatkan kualitas kreatif literernya.

Sementara lembaga-lembaga budaya di dalam menopang program pelatihan penciptaan karya sastra adalah memberikan fasilitas ruang pelatihan, pengadaan tenaga pelatih dan dana penunjang. Terkait dengan hal tersebut, lembaga-lembaga budaya yang dapat bekerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan hendaklah memikirkan terhadap pentingnya perealisasian program pelatihan penciptaan sastra bagi anak-anak.

Metode Pelatihan Karya Sastra

Agar anak-anak gemar mencipta karya sastra, pelatih harus merumuskan metode pelatihan yang tepat, efektif, dan mendapatkan hasil optimal. Metode yang dimaksud berbeda dengan metode pembelajaran sastra di lingkup akademis. Di mana pelatih tidak perlu menekankan teknis-teknis baku di dalam penciptaan karya sastra di dalam ruang kelas bersuasana penjara. Pelatih hendaklah membiarkan anak-anak menjalani proses kreatifya di alam terbuka, seperti: taman, kaki pegunungan, sawah, pantai, tepi sungai, atau ruang terbuka lainnya.

Di ruang terbuka itulah, pelatih dapat memberikan motivasi kepada anak-anak guna menuliskan perihal yang diamati, dicerap, dan direnungkan sebelum menuangkan ide kreartif serta merevisinya. Sesudah karya dianggap sempurna, maka pelatih hendaklah memahami apa dan bagaimana anak-anak itu mengekspresikan pengalaman empiriknya melalui media sastra. Pemahaman ini yang kemudian menjadi dasar pelatih di dalam memberikan pengarahan yang menunjang proses kreatif anak-anak di masa mendatang.

Selain memberikan motivasi kepada anak-anak untuk menciptakan karya sastra, pelatih pula dapat memotivasi mereka guna mengirimkan karya-karyanya ke media massa. Ini dimaksudkan guna melatih anak-anak untuk berkompetisi sehat di bidang kreativitas sastra, dan membangun nyali untuk mengomunikasikan karya-karyanya ke ruang apresiasi publik. Dalam jangka panjang, pemublikasian karya sastra tersebut dapat memberikan rasa percaya diri pada anak-anak manakala berada di tengah lingkungan keluarga, sekolah, pergaulan, dan di antara orang-orang baru yang masih asing di lingkungan kehidupan pribadinya.

Rasa percaya diri yang dipupuk sejak anak-anak belajar sastra tersebut niscaya menjadi bekal di dalam menyikapi berbagai persoalan pelik di dalam kehidupannya. Persoalan yang dapat dipecahkan melalui metode penulisan karya sastra. Agar mendapatkan solusi yang tepat, maka persoalan harus dipelajari dan dipahami sebelum merumuskan langkah-langkah pemecahannya, serta mengaplikasikan rumusan tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.

Rasa percaya diri pula dapat ditangkap sebagai modal utama anak-anak di dalam mendapatkan dua kunci keberhasilan. Pertama, kunci di dalam memupuk keahliannya yang tidak terbatas pada bidang sastra, melainkan bidang-bidang lainnya. Kedua, kunci di dalam membina hubungan kerjasama yang baik dengan pihak lain. Dengan demikian, teramat naif apabila pelatihan sastra untuk anak-anak sekadar menjadikan mereka sebagai ahli pencipta karya sastra.

Pesan buat Orang Tua

Tidak dipersalahkan apabila masih teramat jarang atau mungkin tidak ada orang tua yang mendambakan anak-anaknya menjadi penyair atau cerpenis. Sebaliknya, banyak orang tua cenderung mendambakan anak-anaknya yang disekolahkan hingga jenjang tertinggi untuk menjadi pegawai negeri, dokter, insinyur, atau bahkan presiden. Fakta ini harap dimaklumi. Karena penyair atau cerpenis yang diklaim oleh sebagian besar orang tua sebagai manusia aneh tersebut tidak memiliki masa depan emas. Bukankah penyair atau cerpenis di negeri ini cenderung dianggap sebagai manusia yang miskin materi?

Ditandaskan akhirnya agar orang tua tidak melarang anak-anaknya untuk belajar sastra yang diharapkan menjadi bekal di masa depan. Tentu saja bukan bekal untuk mendapatkan kesuksesan materi, melainkan keberhasilan di dalam memerkokoh kepribadiannya. Hingga dipahami, sastra tidak ubah kubangan lumpur berapi di kawah candradimuka yang bakal menggodok kepribadian jabang tetuka sebagai pembela kebenaran dan kemanusian. [Sri Wintala Achmad]