Mohon tunggu...
Teddy Tedjakusuma
Teddy Tedjakusuma Mohon Tunggu...

Ikut mengumpulkan, menyebarkan, dan mewujudkan nilai-nilai kebaikan, insya Allah.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Seni Wayang dalam Pandangan Islam (?)

17 Desember 2012   20:42 Diperbarui: 24 Juni 2015   19:28 0 1 0 Mohon Tunggu...
Seni Wayang dalam Pandangan Islam (?)
:)

Bagaimana pandangan Islam tentang seni wayang? Menarik untuk mengingat bahwa penyebaran Islam di Indonesia oleh Wali Sanga banyak dilakukan dengan memanfaatkan seni/pertujukan wayang, karena merupakan seni yang digemari rakyat sehingga lebih mudah digunakan untuk memasukkan ajaran/nilai-nilai baru.  Dan siapa yang meragukan kesalihan dan tingkat keimanan Wali Sanga?  Namanya juga wali, tentu sebagai muslim tingkat keislamannya jauh di atas rata-rata. Justru melalui pertunjukan wayang nilai-nilai Islam diperkenalkan.  Saya sendiri melihat nilai-nilai kebaikan yang ada pada cerita-cerita wayang selaras dengan Islam (dan juga agama-agama lain).  Ambil contoh figur Pandawa Lima.  Mereka mewakili nilai-nilai kebaikan dan kejujuran. Yudhistira merepresentasikan figur yang utama: pemimpin yang adil, jujur, sabar, welas asih, bijaksana.  Seperti yang lemah, dan seolah-olah kedudukannya hanya kokoh karena keperkasaan adik-adiknya (Harjuna, Bima, Nakula dan Sadewa).  Tapi jangan lupa bahwa dibalik kelemahan tersebut terdapat kekuatan yang luar biasa, ingat peristiwa ajalnya Prabu Salya, seorang raja yang sakti melalui tangannya. Bima mewakili kejujuran, ketegasan, keberanian, dan kekuatan fisik. Harjuna menggambarkan kejujuran, sifat kesatria, ketekunan dalam menuntut ilmu, dan keteguhan dalam meraih cita-cita. Nakula dan Sadewa mewakili sifat kesetiaan (pada saudara), sifat kesatria, kepandaian, dan keberanian. Banyak lagi figur-figur lain yang menggambarkan nilai-nilai kebaikan: Sri Kresna, Bhisma Dewabharata, Adipati Karna, Srikandhi, Bambang Ekalaya, Drupadi, dan lain-lain. Semua membawa nilai-nilai kebaikan, walau sebagai manusia mereka tentunya memiliki kelemahan masing-masing.    Nilai-nilai kebaikan tersebut ada dalam semua agama termasuk Islam. Selanjutnya, adakah nilai-nilai dalam kisah pewayangan yang tak sesuai dengan Islam? Ada, dan mungkin banyak.  Maklum seni wayang umumnya dipercaya sebagai seni yang berasal dari ajaran agama Hindu. Kemahatunggalan Tuhan (Allah) adalah hal yang paling terasa berbeda (bertentangan). Makanya kalau membuat tulisan wayang saya selalu mencoba menghindari cerita-cerita yang berhubungan dengan proses penciptaan dan pemeliharaan alam semesta, yang dalam Islam semuanya merupakan kekuasaan mutlak Allah dan tak dibagi, sedang dalam cerita wayang (Hindu) hal ini merupakan wewenang dari banyak dewa.  Masing-masing dewa berkuasa atas proses-proses di alam, seperti matahari, hujan, awan, dan lain-lain. Reinkarnasi (penitisan) juga merupakan kepercayaan yang tak sesuai dengan Islam. Hal lain: perkawinan di luar nikah (misalnya cerita lahirnya Pandawa), perbuatan curang yang dilakukan kesatria (misalnya oleh Sri Kresna dan Harjuna), permainan dadu/judi (yang dilakukan oleh Yudhistira), keberpihakan pada kaum yang jahat (Adipati Karna yang memihak Kurawa), dan lain-lain.  Hal-hal tersebut tidak dikatakan secara eksplisit sebagai dosa, walau sebagian memang diwujudkan dalam bentuk 'karma' (pembalasan atas perbuatan yang salah di masa lalu). Kembali pada tema, saya kira pada dasarnya semua kembali pada diri kita masing-masing.  Kalau Anda seorang muslim dan suka wayang, apakah dengan menyukai wayang Anda merasa makin baik atau tidak?  Makin dekat dengan Allah atau tidak?  Makin merasakan keindahan ajaran agama Islam atau tidak?  Jawabnya mungkin berbeda untuk tiap orang. Atau mungkin, seperti yang dilakukan oleh Wali Sanga dulu, saatnya sekarang berdakwah lewat wayang? Wallahu a’lam. Salam, Teddy

KONTEN MENARIK LAINNYA
x