Lukmanul Hakim
Lukmanul Hakim Jurnalis Warga (JW) cbmnews.net, Divisi OSDM Panwascam Larangan, Koord. JW Belik Kab. Pemalang

Menulis untuk Perubahan - Jangan Pernah Berhenti untuk Belajar - Selalu Semangat dan Berkarya melalui ide dan gagasan yang dituangkan dalam tulisan.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Bedakan Antara "Nyinyir" dengan Kritik

13 Juni 2018   21:26 Diperbarui: 13 Juni 2018   22:08 316 1 0
Bedakan Antara "Nyinyir" dengan Kritik
bedakn-5b2134155e13734aaa0653e2.jpg

Perkembangan media semakin berkembang, seiring berkembangnya teknologi zaman now yang semakin canggih. Tentu, kalau ditakar berdasarkan eksistensinya ada dua hal yang mesti menjadi pertimbangan dan bijak didalam menyikapinya yakni sisi negatif dan positif. Bagaikan dua mata pisau yang bisa membawa kemanfaatan maupun kemudharatan (kerugian).

Sikap kritis pun seringkali tidak terbendung di zaman kemudahan media. Setiap orang dengan mudah berkomentar, memberikan saran, nasehat, kritik bahkan seringkali keluar dari jalur kritik yang membangun. Saat ada postingan atau tautan media yang dilempar ke media sosial, dengan mudah orang tanpa berfikir ke depan dan seringkali tidak mempunya basic kemampuan berargumen langsung berkomentar tanpa ilmu.

" Jangan nyinyir gitu lah...," ujar salah seorang ketika ada sebuah komentar yang menurutnya adalah nyinyir. Namun, menurut orang tersebut dia tidak bermaksud nyinyir, namun ia hanya mengkritik. Lalu, apa batasan kritik dan nyinyir itu ?

Benang merah antara nyinyir dan kritik

Komunikasi adalah suatu kajian ilmu yang sangat luas dan intens, pasalnya dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah lepas dari komunikasi. Tapi jangan salah, kalau komunikasi itu ada banyak macam nya, mulai dari komunikasi intrapersonal (dengan diri sendiri), komunikasi interpersonal (dengan orang lain), komunikasi kelompok, komunikasi organisasi, hingga komunikasi massa.

Dengan berkembangnya media, semakin meluasnya semua orang dari berbagai level pendidikan bisa dengan mudah berkomentar. Dalam hal ini, sebagai pengamat media, kita juga mesti bersikap dewasa dan bijak menyikapinya. Jangan mudah terprovokasi terhadap komentar yang bernada mencemooh dan tidak membangun, bisa jadi itulah caranya dia menyampaikan kritik atau basic pendidikan yang rendah. Kita perlu menyampaikan bahwa ada UU ITE dalam hal ini, jangan sampai ketikan tangan kita didalam komentar memasukkan kita ke ranah hukum dan dipenjara.

Ternyata hal ini, sudah disampaikan jauh-jauh oleh Presiden Jokowi terkait perbedaan nyinyir dengan kritik. Mantan Wali Kota Solo itu menjelaskan, kritik memang penting untuk mencapai satu kesempurnaan. Asal berbasis dengan data-data sekaligus diberikan juga solusinya.

"Kritik itu penting untuk memperbaiki kebijakan yang ada. Tetapi kritik itu harus berbasis data. Kritik itu tidak asbun asal bunyi," kata Presiden Jokowi.

Dalam hal ini, sudah sangat jelas, bahwa nyinyir itu mengkritik tanpa sumber dan data, bisa jadi dia komentar terhadap sumber berita yang belum tentu kebenarannya atau berita HOAX, namun ia sebarkan ke media lalu beri tulisan yang ternyata isinya hanya nyinyir, zero kritik. Bahkan terkesan mengumbar kebencian tak beralasan. 

Kritik lebih pada membangun memberikan solusi dari permasalahan yang dia lihat. Namun, pertanyaannya ? Apakah pemimpin-pemimpin kita memiliki kedewasaan saat dikritik ? Jangan-jangan saat menyampaikan kritik, langsung divonis itu NYINYIR. Repot lagi kalau terjadi seperti itu.

Hilangkan Fanatik, mudah terima Kritik

Seringkali tidak sedikit orang, saat dirinya dikritik atau junjungannya, pemimpinnya, ustadznya, kyainya dikritik dengan ilmiah dan membangun, ia langsung tidak terima. Dengan ribuan alasan, ia menganggap orang yang mengkritiknya dan junjungannya hanyalah NYINYIR belaka. Semua itu terjadi karena Fanatisme terhadap personal orang atau fanatisme terhadap golongannya. Seolah ustadznya, pemimpinnya itu tidak boleh dikritik, ia adalah manusia "Ma'shum", terjaga dari kesalahan, sehingga saat ada yang mengkritiknya dibela mati-matian.

Semestinya sikap seperti itu dihilangkan, kita harus menyadari, manusia tidak terlepas dari kesalahan. Sehingga, dengan kritik yang cerdas, sopan dan membangun justru menjadikan orang yang dikritik bisa instropeksi diri, bukan malah bangga diatas singgasana kepongahannya karena dibela berlebih-lebihan dari pendukungnya.

Semoga bermanfaat, mari Bijak dan cerdas sikapi Media