Politik

Berkah Cak Imin Menjadi Cawapres

13 Maret 2018   18:30 Diperbarui: 13 Maret 2018   18:49 527 0 0

Oleh:

TIM KORNAS JOIN


Tak bisa dipungkiri, sejak Pemilu 2009 lalu Pemilu 2014, PKB nyaris berjalan seperti anak ayam kehilangan induknya. Sejak konflik PKB yang berakhir dengan kemenangan PKB Ancol 2008 silam, PKB pimpinan Cak Imin ini seperti kehilangan sosok pemimpin yang menjadi sandaran bagi eksistensi politiknya di mata public.


Cak Imin sebagai ketua umum belum percaya diri untuk tampil sebagai sosok pengganti Gusdur saat itu, sehingga perolehan PKB turun drastic pada Pemilu 2009 dengan mendapatkan 27 kursi DPRRI.


Sementara pada Pemilu 2014 lalu, berkat kecerdasan Cak Imin yang mampu mengembalikan NU kembali ke PKB dengan hujjah "ar-ruju' ila ruju'" yang berarti landasan bagi warga NU untuk mempercayakan kembali aspirasinya ke PKB, sebagai satu-satunya partai yang dilahirkan oleh PBNU. Dengan jargon ar-ruju' ila ar-ruju'  tersebut PKB bangkit pada Pemilu 2014 lalu dengan perolehan 47 krsi DPRRI dan menghantarkan 4 kadernya berada di Kabinet Kerja Jokowi-JK.


Tentu ini menjadi momentum kebangkitan yang tidak boleh dilewatkan begitu saja, tanpa strategi baru untuk meraih kemenangan pada Pemilu 2019 mendatang.


Rupanya 'kehendak alam' tak bisa dielakkan, muncullah aspirasi agar PKB mampu menghantarkan ketua umumnya (Cak Imin) untuk menjadi pemimpin Nasional.  Barangkali memang masyarakat umum dan warga NU khususnya, sudah haus akan munculnya sosok pemimpin di ranah nasional yang muncul dari PKB, setelah Gusdur menjadi Presiden 1999-2001 lalu, berbagai komunitas di masyarakat secara mandiri menyatakan dukungan kepada Cak Imin sebagai Calon Wakil Presiden untuk mendampingi Jokowi yang sampai hari ini menjadi kandidat terkuat yang ada.


Sejumlah kiai kampong di berbagai belahan bumi Indonesia mendeklarasikan dukungannya kepada Cak Imin. berbagai kelompok masyarakat lain, seperti kelompok tani, nelayan, komunitas hijaber, kaum muda jaman now, kelompok seni tradisional, pedagang pasar, kelompok masyarakat lapisan bawah lain dan juga restu dan dukungan para ulama khos, semua seperti sebuah do'a yang memilu agar Cak Imin menjadi pemimpin nasional.


Berbagai baliho muncul secara swadaya dari masyarakat untuk memunculkan Cak Imin sebagai Cawapres.


Pertanyaannya kenapa Cawapres? Bukan Capres? Inilah salah bentuk realistisnya masyarakat (warga nahdliyin khususnya) bahwa kepemimpinan Jokowi cukup baik dengan pembangunan infrastrukturnya  dan punya sumbangsih cukup besar bagi berkembangnya pesantren dan Islam Nusantara yang damai, sehingga warga nahdliyin mengharapkan Jokowi maju lagi menjadi Calon Presiden dengan didampingi oleh Cak Imin sebagai Cawapresnya. Ini sebuah harapan tulus, demi terciptanya kepemimpinan nasional yang sempurna, yang merepresentasikan nasionalisme dan relijiusitas.


Pasangan Jokowi-Imin (JOIN) diharapkan mampu mengingatkan kepada bangsa ini bahwa Kemerdekaan Negeri ini atas dasar perjuangan para Ulama dan kaum nasionalis saat itu, yang prasasti sejarahnya tertuang dalam fatwa "Resolusi Jihad" yang dikeluarkan pendiri dan Rais Akbar PBNU mbah KH. Hasyim Asy'ari.


Kenapa Cak Imin? Cak Imin hari ini adalah tokoh pemimpin nasional dari kalangan nahdhiyin yang paling potensial, baik dari segi sumber daya politiknya, maupun genealogi pemikirannya, yakni dukungan warga nahdliyin dan PKB sebagai partai yang dibesarkan dan dididik dalam lingkungan pesantren dan dunia akademik yang cukup matang secara teroritik maupun pengalaman. 

Dengan kemunculan Cak Imin sebagai Cawapres ini, secara public warga nahdliyin dan PKB terutama, tidak lagi merasa kehilangan sosok panutan, sehingga warga akan semakin bersemangat dalam gerak partisipasi politik, memperjuangkan arpirasinya melalui PKB. PKB telah kembali, PKB is back. Inilah berkah yang insyaAllah akan didapatkan PKB dalam Pemilu mendatang, Kemenangan PKB di depan mata!!! Bravo Cak Imin, bravo PKB.


Salam JOIN

KORNAS JOIN