Mohon tunggu...
Sabri Leurima
Sabri Leurima Mohon Tunggu... Ciputat, Indonesia

Sering Nongkron Lebelnya Anti Kekerasan

Selanjutnya

Tutup

Kandidat

Dinasti Tuasikal Lolos Senayan Lagi

21 Mei 2019   01:21 Diperbarui: 21 Mei 2019   10:52 0 0 0 Mohon Tunggu...
Dinasti Tuasikal Lolos Senayan Lagi
Foto Pribadi

Salah satu prinsip demokrasi yang paling fundamental adalah kesetaran politik (political equality) dan etika politik ( political etic )bagi setiap warga negara. Begitu juga politik dinasti, ini bukan barang haram dalam dunia politik, karena hal itu berkaitan dengan setiap hak warga negara untuk memilih dan dipiih. Memang trend politik dinasti adalah treng global yang sudah lama. Bukan saja Indonesia, negara-negara yang demokrasinya sudah matang pun masih tersungkuh dalam politik dinasti.

Selama prosesnya baik-baik saja tidak jadi persoalan, apalagi kalau dibungkus dalam mekanisme politik demoktratis yang transparan dan akuntabel. Persoalan yang muncul bila narasi publik dimatikan rasionalitasnya dalam memilih figur, praktik pembiusan akal dilakukan sedemikian rupa. Inilah masalahnya.

Yang muncul di Senayan representasi suara Maluku adalah Dinasti Tuasikal. Setelah mencalonkan diri sebagai Calon Legislatif DPR-RI periode 2019-2024 dan DPD-RI Periode yang sama. Pasangan Suami Istri, Abdullah Tuasikal dan Mirati Dewaningsih akhirnya lolos lagi setelah hasil putusan Komisi Pemilihan Umum ( KPU) Provinsi Maluku.

Abdulah Tuasikal/AT dengan kendaraan Nasdem memperoleh 118.307 suara, sedangkan Istrinya Mirati Dewaningsih/ MT senator no urut 39 memperoleh 62.135 suara. Ini menandakan kedua pasangan itu makin kokoh bagai tembok yang tak bisa dirobohkan. Kejayaan mereka dalam berdinasti semakin erat dan terkonsolidasi dengan baik.

 Perlu di ketahui, AT adalah mantan Bupati dua periode Kabupaten Maluku Tengah. Sedangkan MT pernah berkiprah di DPD-RI pada 2004 dan DPR-RI pada 2009. Bukan saja Pasangan suami istri, AT-MT. Anaknya Amri Amrullah Tuasikal, pernah menjadi anggota legislatif DPR-RI pada 2014 lalu namun diberhentikan atas usulan fraksi Gerindra dengan status pergantin antar waktu (PAW) karena indisipliner dan kinerjanya kurang baik.

Dinasti yang selama empat dekade menguasai daratan Maluku Tengah, dua periode dipegan AT. Dua periodenya lagi oleh kakaknya, Abua Tuasikal. Kecenderungan dinasti ini menjadi powerfull setelah gerbang senayan dan daratan Maluku Tengah dikepal habis-habis oleh gerbong Tuasikal.

Kasus indisipliner yang menimpa anaknya Amri Tuasikal adalah bentuk keprihatinan publik terkait kinerjanya di Senayan. Pertanyaanya apakah AT dan MT maju lagi sebagai bukti kecintaannya untuk membangun Maluku dari ketertinggalan atau sengaja mempertontonkan relasi kuasa dinasti terhebat dalam sejarah Tuasikal?" Waulahualam.