Mohon tunggu...
Abidatu DzilKamalah
Abidatu DzilKamalah Mohon Tunggu... Mahasiswa

Tugas literasi digital

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Startup Kopi di Masa Pandemi

27 November 2020   16:39 Diperbarui: 27 November 2020   16:46 75 4 0 Mohon Tunggu...

Awal tahun 2020 merupakan waktu dimana wabah besar menyerang yaitu dengan munculnya virus baru bernama Virus Covid-19. Dalam kurun waktu sejak awal tahun 2020 hingga sekarang, ekonomi dunia mengalami penurunan ketika Virus Covid-19 menyebar secara global. COVID -19 menimbulkan krisis besar untuk berbagai bisnis yang di dalamnya mengutamakan peran manusia untuk berkumpul dan berinteraksi langsung. Diantaranya yaitu bisnis perhotelan, restoran (rumah makan) dan bisnis transportasi. Banyak bisnis transportasi yang berkurang jumlah penumpangnya, serta banyak restoran yang tutup karena ada kebijakan yang tidak boleh berinteraksi langsung dengan orang lain di tempat umum. 

Wabah Covid-19 ini cukup meresahkan bagi seluruh lapisan usaha maupun bisnis dari kecil hingga besar. Dengan muculnya pembatasan interaksi sosial dan karantina mandiri, maka pendapatan bersih dari kegiatan usaha maupun bisnis ini dipastikan menurun drastis. Selain itu, adanya kebijakan pembatasan interaksi manusia berdampak terhadap usaha makanan hanya bisa melakukan pelayanan dengan deliveri atau take away. Tidak cukup sampai disitu saja, pandemi covid-19 juga membawa dampak yang signifikan termasuk pada industri minuman kopi. 

Minum kopi di Indonesia kini sudah menjadi gaya hidup bagi setiap lapisan masyarakat.. Tren minum kopi ini banyak diminati oleh kaum muda bukan lagi hanya di konsumsi para orang tua. Perubahan pola penikmat kopi ini terjadi karena adanya perubahan tujuan dari meminum kopi itu sendiri. Zaman dahulu orang meminum kopi hanya untuk bersantai saja. Namun berbeda pada era milenial sekarang ini, meminum kopi suah menjadi gaya hidup yang lebih mementingkan persaiangan antar individu dari pada tujuan aslinya. Terbukti dengan semakin maraknya cafe atau coffee shop yang menjamur di tiap daerah. Dengan adanya tren minum kopi ini membuat sebagian para pengusaha memulai merintis usahanya (startup) coffee shop untuk mengambil keuntungan dari tren ini. Kemuculan kedai kopi ini terus tumbuh dan jumlah kedai kopi meningkat pesat dari 1.083 gerai pada 2016 menjadi 2.937 pada Agustus 2019. Angka ini terus meningkat seiring bertambahnya kedai kopi yanng memanfaatkan tren gaya hidup anak muda era milenial iniTidak hanya itu, penjualan produk kopi ready to drink atau kopi siap minum, dan kopi bentuk bubuk ini meningkat.

Kedai kopi ini tidak hanya menyediakan minuman kopi saja tetapi menciptakan suasana sebagai tempat berkumpul. Pandemi Covid-19 membuat kedai kopi menjadi sepi. Pandemi telah memaksa semua orang berdiam diri di rumah, ini menjadikan kedai kopi yang biasanya di padati pengunjung untuk menikmati kopi dan berkumpul harus terhalang adanya pandemi ini.

Munculnya wabah ini menjadikan tidak sedikit kedai kopi yang menurun penjualannya. Kebijakan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) membuat kedai ini mengubah pelyanan, yang awalnya hanya minum di tempat atau take away (bawa pulang). Kini, kedai kopi hanya melayani pemesanan kopi daring (online) atau bisa dengan take away. Pengunjung tidak dapat masuk kedalam kedai karena adanya perturan pemerintah untuk menjaga jarak.

Indonesia masih berada dalam masa penyesuian terhadap pandemi covid-19. Dengan meningkatkatnya tantangan terhadap penanganan kesehatan manusia, Indonesia juga mengalami berbagi mengalami berbagai macam dampak akibat covid-19. Berdasarkan survey lembaga McKinsey yang ditulis oleh Potia & Dahiya (2020), dinyatakan bahwa hampir seluruh sektor bisnis yang berkaitan dengan food and beverages terkena dampak dari pandemi covid-19. Namun, perusahan rintisan (startup) berbasis makanan dan minuman, menjadi salah satu sektor yang paling penting dan palinng diincar oleh para investor, walaupun tingkat perekonomian masih menurun akibat wabah Virus Corona.

Adanya wabah Covid-19 yang terjadi di seluruh dunia, ternyata tidak membuat para investor menyuntikan dananya ke startup lokal. Salah satunya yaitu startup kopi. Keputusan para investor tersebut tentunya menuai banyak respon yang positif dari startup yang diberi suntikan dana dari mereka. Startup yang mendapat investasi dana besar salah satunya adalah Kopi Kenangan. 

Startup kedai kopi menggaet loyalitas pelanggan melalui aplikasi seluler, di mana proses pembelian kopi dengan membuka aplikasi di ponsel, memilih menu kemudian melakukan pembayaran. Dengan begitu, kehadiran teknologi telah memberikan kemudahan, kecepatan serta kenyamanan bagi mereka untuk berbelanja

Edward Tirnata, salah satu CEO dan pendiri Kopi Kenangan mengatakan, untuk bisa tetap bertahan di tengah pandemi ini ada strategi bisnis yang dijalankan. Pertama, fokus pada online delivery. Sebab, meskipun saat ini sedang pandemi, bukan berarti orang tidak mampu minum kopi, hanya cara belinya sajayang berubah. “Kalau dulu orang ke kantor dan ke mall beli kopi, nongkrong di tempat atau grab and go, tetapi dengan adanya pandemi ini, pelanggan membeli segala sesuatu secra online,” tuturnya.

Untuk itulah pihaknya kini mengalokasikan investasi yang cukup besar untuk marketing digital, sosmed, hingga online delivery. Bahkan, dalam kurun waktu dekat pihaknya akan mengupgrade aplikasi Kopi Kenangan dengan bagian pemesanan online.

Strategi berikutnya yang dilakukan Kopi Kenangan yakni dengan menawarkan produk-produk baru seperti kopi literan atau disebut ‘Seliter Kenangan’. Produk ini dapat disimpan selama tiga hari di lemari pendingin. Dengan begitu, pelanggan bisa menikmati Kopi Kenangan dengan biaya pengiriman yang lebih hemat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN